Minggu, 19 Mei 2019

Tari Gambyong Jawa Tengah: Sejarah, Ciri, Penggunaan, Gerakan, Tata Rias dan Penjelasannya

Gambyong merupakan salah satu bentuk tarian Jawa klasik yang berasal-mula dari wilayah Surakarta dan biasanya dibawakan untuk pertunjukan atau menyambut tamu. Gambyong bukanlah satu tarian saja melainkan terdiri dari bermacam-macam koreografi, yang paling dikenal adalah Tari Gambyong Pareanom (dengan beberapa variasi) dan Tari Gambyong Pangkur (dengan beberapa variasi). Meskipun banyak macamnya, tarian ini memiliki dasar gerakan yang sama, yaitu gerakan tarian tayub/tlèdhèk. Pada dasarnya, gambyong dicipta untuk penari tunggal, namun sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari dengan menambahkan unsur blocking panggung sehingga melibatkan garis dan gerak yang serba besar. 


Sejarah

Serat Centhini, kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823), telah menyebut adanya gambyong sebagai tarian tlèdhèk. Selanjutnya, salah seorang penata tari pada masa pemerintaha Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi[3]. Tarian rakyat yang telah diperhalus ini menjadi populer dan menurut Nyi Bei Mardusari, seniwati yang juga selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), gambyong biasa ditampilkan pada masa itu di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran

Perubahan penting terjadi ketika pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang "dibakukan", yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII, pada tahun 1951. Tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas. 


Perkembangan Tari Gambyong
Pergantian istimewa terjadi di tahun 1950, Nyi Bei Mintotaras, seorang instruktur tari dari Keraton Mangkumanegara pada zaman Mangkumanegara VIII menciptakan varian gambyong yang “diformalkan” yang dikenal dengan nama Gambyong Pareanom. Gambyong Pareanom ini dipentaskan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, kerabat perempuan Mangkumanegara VIII pada tahun 1951.
Akhirnya tarian ini disukai oleh masyarakat luas, akibatnya muncullah varian yang lainnya diinovasikan untuk kebutuhan masyarakat luas. Banyak masyarakat yang terpikat untuk mempelajari warisan tarian daerah tersebut. Masyarakat pun ada yang mempercayai bahwa tarian ini dapat memanggil Dewi Sri atau Dewi Padi untuk memberi berkah kepada sawah mereka dengan hasil yang melimpah.

Jenis-jenis Tari Gambyong yang sudah diinovasikan :
  • Tari Gambyong Sala Minulya
  • Tari Gambyong Ayun-ayun
  • Tari Gambyong Gambirsawit
  • Tari Gambyong Dewandaru
  • Tari Gambyong Mudhatama
  • Tari Gambyong Apangkur
  • Tari Gambyong Campursari





Baca Juga:

Tari Tortor Sumatra Utara : Sejarah, Gerakan, Fungsi, Jenis, Keunikan Beserta Penjelasannya



1. Tema dan Makna Filosofi

Setelah titah sang raja dilaksanakan, tari gambyong hadir dalam beberapa versi dan variasi, di antaranya yang paling dikenal adalah tari Gambyong Pareanom dan tari Gambyong Pangkur. Kedua jenis tari gambyong ini sebetulnya memiliki gerakan dasar dan mengangkat tema yang sama. Keduanya kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan kerajaan Surakarta sekaligus sebagai hiburan bagi dalam acara kerajaan lainnya.
 

2. Gerakan Tari Gambyong

Secara umum, gerakan tari gambyong menggambarkan keseluruhan pribadi wanita Jawa yang lemah lembut. Sikap lincah, gembira, luwes, dan penuh kehati-hatian tergambar jelas pada ragam gerakan tarian tradisional ini yaitu gerak jalan kecil, gerak maju mundur, manggut atau menggerakan kepala, gerak memutar, dan gerak memainkan selendang.
Dalam istilah Jawa, gerakan tari gambyong terbagi atas 3 bagian utama, yaitu maju beksan (gerakan awal), beksan (isi), dan gerak mundur beksan (gerak akhir). Gerakan-gerakannya sendiri terkonsep pada beberapa bagian tubuh seperti kaki, lengan, kepala, dan tubuh.
Yang menjadi ciri khas dari gerakan tarian gambyong salah satunya terletak pada gerakan mata yang selalu mengikuti atau mengiringi gerakan tangan, tepatnya pada jemari tangan yang memegang selendang, seperti dapat Anda simak pada video berikut:

3. Iringan Tari

Dari mulai awal pertunjukan (penari memasuki panggung yang diiringi gendhing Pangkur) hingga akhir pertunjukan (penari meninggalkan panggung) tari Gambyong akan selalu diiringi oleh bunyi-bunyian alat musik tradisional Jawa Tengah, yakni seperangkat gamelan yang terdiri atas kendang, gong, kenong, gambang, dan siter. Bunyi musik pengiring tersebut selain menambah nilai estetis pertunjukan tari juga kerap menjadi tanda setiap gerakan yang harus dilakukan para penari.
 

4. Setting Panggung

Pada awalnya, tari gambyong hanya dipentaskan secara tunggal atau oleh satu orang saja. Namun, pada perkembangannya tarian ini juga dipentaskan secara berkelompok sekitar 4 penari dengan setting panggung yang diatur sedemikian rupa.
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Tidak banyak yang istimewa dari tata rias atau tata busana penari tari Gambyong. Secara umum, para penari hanya mengenakan kelengkapan pakaian adat Jawa Tengah dengan pernik ala kadarnya, seperti kain jarik sebagai bawahan, mekak (kemben), sabuk untuk mengikat jarik, serta beragam aksesoris seperti gelang, giwang, dan kalung. Satu hal yang berbeda dari kostum tari Gambyong terletak pada warna pakaiannya. Kostum penari gambyong kerap ditemukan dengan warna yang mencolok, seperti kuning atau hijau. Kedua warna tersebut memiliki nilai filosofi sebagai tanda kesejahteraan, kemakmuran, dan kesuburan.
 

6. Properti Tari

Satu properti utama yang digunakan dalam tari Gambyong adalah sehelai selendang berwarna kuning, merah, atau warna cerah lainnya. Selendang ini dimainkan dari awal hingga akhir tarian dan menjadi pusat pandangan bagi setiap penonton pertunjukan tari Jawa Tengah ini. Nah, demikian sekilas ulasan mengenai unsur unsur tari gambyong dan penjelasannya. 
 
 
Penggunaan
  • Pada awalnya, tari gambyong digunakan pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari.
  • Sebelum pihak keraton Mangkunegara Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya, tarian gambyong ini adalah milik rakyat sebagai bagian upacara.
  • Kini, tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan.

Ciri khusus
  • Pakaian yang digunakan bernuansa warna kuning dan warna hijau sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.
  • Sebelum tarian dimulai, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur.
  • Teknik gerak, irama iringan tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.
 
 
Dengan memahami sejarah dan asal usul kemunculannya serta keunikan dari setiap gerakannya semoga kita bisa mulai mengenal dan melestarikan peninggalan budaya nenek moyang ini agar tidak hilang ditelan zaman. Semoga bermanfaat!


Penelusuran yang terkait dengan Tari Gambyong
  • gerakan tari gambyong
  • kostum tari gambyong
  • tari gambyong pareanom
  • properti tari gambyong
  • download video tari gambyong
  • tari gambyong dibawakan secara
  • pola lantai tari gambyong
  • prosedur tari gambyong
  • fungsi tari gambyong
  • download video tari gambyong
  • nilai estetis tari gambyong
  • pola lantai tari gambyong
  • tarian dari daerah jawa barat adalah
  • tujuan dibuatnya pola lantai adalah

Related Posts

Tari Gambyong Jawa Tengah: Sejarah, Ciri, Penggunaan, Gerakan, Tata Rias dan Penjelasannya
4/ 5
Oleh