Selasa, 21 Mei 2019

Didong Kesenian Rakyat Gayo Yang Berasal Dari Aceh

Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Salah seorang seniman yang peduli pada kesenian ini adalah Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah. 



Makna

Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.

Fungsi
 
Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam. 


Baca Juga:

Tari Kipas Pakarena Asal Sulawesi Selatan : Sejarah, Properti, Tata Rias, Iringan Tari, Gerakan



Perkembangan

Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, masjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.

Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh.



Syair didong
 
Inilah salah satu Contoh syair didong oleh Ceh kucak Gayo Kabri Wali.
Ama (Ayah)

Ama Inë
Ini Pongotni gayo inë
Kute takengen besilo nge musarik
Ulahni politik jema si jago - jago
Bier pe i dusun bier pe isi lëngkik
Laingni kékék numé makin gurë inë…

Geré Né aman Rakyat ngé usik
Mukim orom Gecik ke meh mukelö
Reje orom imem si musasat sidik
Bewene panik lagu cekakni benno inë…

Beluhni Nyawa gere neh tékëk
Ara bercengkék ara si berdere inë…
Dup Meta mara gere ara si macik
Sempat ilen kedek pemimpin ni jewe iné…

Dop ara pe jeda mantong ilen mangik
umpama ni senik nge mujadi bute
Ara pe reta gere neh terdedek
Nge roloh mutik kupi pantan sile inë…

Ama….. Bayak bajungku inë…
Enge emeh merke jema si lisik
dele nge mu teldek kuren tembege inë…
Taring murense umah jamur unik
Kering nge repek ko supu serule inë…

Yatim pe delë simen anak merek
Mongot orom kedek enge meh musede
Iwan atewe nge lagu si sewek
Gere ke macik ko musara Gayo inë…

Ama..aaaa Ini pongotni gayo iné…
Ike kite engon sentan kite telek
Si tukang angik kara pihak ketige inë…
Akal iyayon kati rusak rasik
Sampe bersenik jema sara inë inë…

Kalang iatas terbang puke kelik
Kurek orom itik i tuyuh nge cico inë…
Gere meteh lewen sahen si dedek
Bier pe ama ecek renye i pekaro inë…

Munyenoh ken ulu ulahni si cerdik
Parok i pantik nyenohi ken Rejë ama …ooo
Rakyat si ogoh sabe kona pecek
Gere meteh ujung ralik si munangung risiko inë…

Sentan kite timang orom kite balik
Pongot orom kedik nge meh musede
ikeruhni berawang le jema munekik
Enge osop sampik emut si munire inë…

Ama…aaaaaaa Bayakku inë…eee
Wooo inë ee..ee..eeee

Itetahmi cara boh ulaken ku ralik
Enti neh mupésék ko kerawang Gayo
Kati teduh mara kati rede sonek
Tekaren si kotek tengkamen si mulie inë…

Ike masih ara ilén sifét si sérék
Lebah orom unik tetap we berdéwë inë…
Amaten agama edet pe iolek
Oya baru mersik kao urang gayo inë…

Agih ni agih mongot bersebuku
Sampon ko lauh mujaril ari mata



Didong Gayo

Didong juga bisa dinyatakan sebagai salah satu varian dari “nyanyian rakyat” (folksong).  Dengan rumusan sederhana, kesenian didong dapat dinyatakan sebagai konfigurasi ekspresi seni sastra, seni suara, dan seni tari.

Arti harafiah dari kosakata didong tidak begitu jelas. Melalatoa menyebutkan bahwa barangkali didong ada kaitan pengertiannya dengan beberapa kosakata lainnya dalam bahasa gayo, seperti denang atau donang yang maknanya sama dengan “dendang” dalam bahasa Indonesia. Namun didong memuat pengertian yang lebih luas, artinya bukan hanya sekedar berdendang. Mungkin didong bisa dianalisi untuk dinyatakan sebagai suatu bentuk teater, yang biasa disebut sebagai “teater-mula”, atau bisa dikatakan sebagai “teater kehidupan”. Total pergelaran didong berlandaskan suatu sistem ide yang berakar dari tradisi masyarakatnya. Sistem ide itu berupa suatu nilai, norma, dan aturan-aturan yang keseluruhannya menjadi acuan yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya. Barangkali sistem ide ini masih dapat dirinci, sehingga menjadi apa yang disebut “skenario” yang tidak tertulis. Skenario ini diacu oleh para aktor atau pemain-pemain didong untuk bermain improvisasi atau berlaga, baik oleh aktor yang ada di atas pentas maupun aktor di luar pentas. Aktor di luar pentas ini adalah penonton. Perlu dijelaskan bahwa para penonton itu masih dapat digolongkan menjadi dua kelompok, karena mereka adalah para suporter dari dua pihak yang bertanding. Masing-masing kelompok (kelop dan penonton) berasal dari orang-orang dengan latar belakang asal-usul yang sama, biasanya mewakili sebuah klen atau belah di kampung. Penonton ini menjadi pengawal setia bagi kelop unggulan atau pujaannya selama pertandingan yang berlangsung semalam suntuk.

Para aktor itu “berdialog” dengan ragam improvisasi atau akting sepanjang malam gelaran didong itu. Mereka berdialog dengan lantunan lirik-lirik puisi melalui melodi-melodi ciptaan sendiri. Pergelaran didong ini biasa diadakan di tempat atau ruang khusus sebagai pentas, misalnya tempo dulu di ruang luas rumah panggung (umah sara); di atas panggung buatan pada ruang terbuka, misal di halaman, lapangan dan lain-lain. Pentas ini tentunya dilengkapi dengan sarana penerangan, mulai dari yang sederhana seperti api unggun, petromak atau lampu listrik pada masa-masa terakhir ini. Keseluruhan pemain dilengkapi dengan bantal kecil (kampas) sebagai alas tepukan-tepukan tangan yang menjadi ritme bagi melodi dalam kesenian ini. Anggota satu kelop terkadang memakai baju seragam yang biasa disebut sebagai baju-kelop, sedangkan aktor utamanya biasanya memakai atribut tambahan berupa syal yang dililitkan di leher dan ada yang memakai kopiah. Perlengkapan lain adalah canang yang ditabuh juri sebagai isyarat dimulai atau berkahirnya satu ronde pertandingan.

Di antara sejumlah unsur seni bertutur yang terangkum dalam seni Didong adalah: Kekitiken/Ure-ure (seni berteka-teki). Yaitu seni dalam berteka-teki yang biasanya dilakukan oleh anak-anak menjelang tidur. Dari segi bahasa dan kalimat yang digunakan dalam teka-teki ini lebih mementingkan tata bunyi dan irama dengan pola persajakan a-b a-b. Seni berteka-teki ini merupakan bentuk puisi Gayo yang telah cukup tua.

Kekeberen (prosa lisan). Kekeberen adalah salah satu bentuk prosa yang disampaikan secara lisan yang mendapat tempat luas dalam masyarakat Gayo di masa silam. Seperti halnya dengan Didong, prosa ini biasanya dituturkan pada malam hari menjelang tidur. Si pencerita mungkin seorang nenek kepada cucunya atau oleh orang senior lainnya. Di antara tema-tema itu adalah tentang cinta, patuh kepada orang tua, akal bulus, ketauladanan dan lain sebagainya.

Melengkan (seni pidato adat). Yaitu pidato-pidato adat dalam berbagai kesempatan upacara, masyarakat Gayo melahirkan rasa seninya dalam bentuk kata-kata puitis. Pidato adat ini dilakukan secara berbalas-balasan dan oleh pendengarnya dapat dirasakan kalah atau menang.

Sebuku (seni meratap). Pengungkapan perasaan yang terjalin dalam puisi-puisi tertentu yang umumnya hanya dilakukan oleh kaum wanita. Isi dari puisi sebuku biasanya mengungkapkan hal-hal yang bersifat sedih (elegi).
Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah, keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami didong ini secara mendalam.

Para peserta dari masing-masing kelop berjumlah sekitar 30 aktor. Mereka terbagi atas dua kategori utama, yaitu ceh dan penunung atau penyur (pengiring). Seorang yang bisa disebut ceh harus memenuhi syarat. Modal utamanya adalah suara merdu (ling temas). Suara merdu saja tidak cukup, ia pun harus punya kemampuan menciptakan lirik atau puisi (kekata) sendiri, yang akan ditembangkan dengan model melodi ciptaan sendiri tadi. Ia harus punya pengetahuan yang luas perihal latar belakang adat istiadat (edet) masyarakatnya dengan segala perkembangan atau perubahan yang terjadi dan juga pengetahuan tentang lingkungan lain yang lebih luas. Pengetahuan luas ini harus berimbang dengan kekayaan perbendaharaan kata, ungkapan, simbol-simbol pikiran, sehingga lahirlah lirik-lirik indah dengan bobot pesan yang dalam, tajam, aktual, tapi juga ajek. Karya dengan bobotnya yang ajek itu berarti sebuah lirik menyimpan pandangan yang menjadi bahan renungan bahkan menjadi acuan dalam kehidupan masyarakatnya.

Dalam sistem pertandingan didong itu sendiri, seorang ceh juga dituntut memiliki kemampuan mencipta lirik-lirik yang diciptakan secara spontan (munapak), suatu hasil improvisasi dan kreativitas di tengah arena pertandingan yang tengah berlangsung. Lirik-lirik spontan dan mendadak adalah kemampuan luar biasa yang terlahir oleh sistem pertandingan didong itu, yang tidak sembarangan orang (ceh) memilikinya. Di sinilah hasil ekspresi pikir dan rasa terjelma. Kemampuan ini akan dinilai oleh penonton dan terlebih lagi oleh para juri yang akan memberi kata keputusan “menang atau kalah” pada akhir pertandingan di pagi hari.

Dalam setiap kelop biasanya punya dua sampai tiga “pasang” ceh yang tampil berduet atau kadang-kadang trio. Jarang sekali ceh bersenandung sendiri (solo) kecuali dalam menyenandungkan melodi untuk lirik sebuah ratapan (sebuku). Salah satu dari ceh itu adalah ceh utama atau aktor utama (ceh kul, kul=besar), sedangkan pasangannya atau partner dalam berduet atau trio itu disebut apit.  Pasangan (duet atau trio) lainnya biasa disebut ceh due (due=dua) atau aktor pembantu yang dalam pertandingan berperan membantu ceh kul dalam menghadapi serangan atau menyerang lawan tanding. Ceh kul memiliki suara termerdu dibanding ceh lain dalam sebuah kelop, pencipta melodi dan lirik terbaik, menjadi pemikir, penyusun strategi untuk merebut simpati penonton, serta menjaga semangat “juang” para pengiringnya. Sebuah kelop berjaya atau kalah dalam setiap malam pertandingan lebih banyak ditentukan oleh kebolehan ceh kul.

Seorang ceh didong di tanoh Gayo, selain mampu menciptakan lirik didong (puisi), juga harus memiliki suara yang bagus, dan mampu membawakan lirik-lirik tadi (menjadi vokalis didong). Namun, dewasa ini banyak ceh yang tidak memenuhi syarat. Lebih banyak ceh-ceh-han. Umumnya ceh sekarang, hanya mampu membawakan lirikan didong. Itu pun karya ceh lain, yang sudah kerap dibawakan dalam didong, atau lagu. Belum lagi, suara-nya yang pas-pasan. Ceh yang ada sekarang cenderung memaksakan diri, asal disebut ceh. Banyak ceh tidak lagi mampu mencipta, terlebih lagi dengan kandungan nilai-nilai, dan filsafat sastra Gayo yang tinggi. Salah seorang ceh didong, Latif, menyebutkan, “Enti mu lelang empus si nge lapang”, yang artinya, jangan membersihkan rerumputan (yang ada di) kebun yang sudah lapang. Sebaliknya, harus mampu menciptakan karya sendiri, tidak plagiat, dan tidak mengklaim karya orang lain jadi milik sendiri.

Aktor lain terdiri atas puluhan pengiring (penunung) yang duduk melingkar bersama para ceh tadi. Mereka mengiringi permainan dengan kreasi dan variasi tepuk tangan (tepok) dan variasi gerak tubuh yang serasi, berfungsi sebagai ritme bagi melodi yang tengah mengantar lirik pesan, kritik, petuah, dalam beragam tampilan emosi. Diantara pengiring itu ada satu atau dua yang berperan memberi arah, mengatur variasi gerak yang diperlukan lewat komando suara tepukan atau isyarat bagian tubuh lainnya. Dalam satu malam pertandingan, satu kelop menembangkan tidak kurang dari tiga puluhan melodi (sintak) pengantar lirik yang bermuatan rasa indah, humor, duka, luka geram, sinis, syahdu dan sebagainya. Suasana itu dipoles dengan suasana warna gerak yang serasi oleh para pengiring, sehingga penghantaran dan penyajiannya menjadi hidup dan pas, sekaligus mengusir kantuk para penonton selama semalam suntuk itu.

Penonton sendiri, yang berada di luar pentas, sepatutnya dinyatakan sebagai “aktor”. Betapa tidak, salah satu kelop yang berlaga itu adalah para seniman yang akan menimbulkan rasa bahagia atau rasa terpuruk pada diri penonton karena latar belakang kelompok (belah/klen, komunitas) yang sama. Pertandingan didong adalah pertarungan mempertaruhkan “harga diri” atau “rasa malu” kelompok. Kekalahan atau kemenangan sebuah kelop adalah kekalahan atau kemenangan sebuah kampung atau komunitasnya. Suporter terkadang menaburkan rokok ke tengah arena karena simpati kepada ceh yang menembangkan lagu indah dengan liriknya yang mengena. Pernah pula seorang penonton masuk ke arena mengekspresikan kegembiraan dan dukungannya kepada kelop pujaannya yang tengah bermain.

Diseputaran pentas ada unsur juri dan para penonton. Biasanya para juri adalah orang yang mengerti adat atau mantan ceh yang telah banyak makan asam garamnya kesenian didong. Tempat duduk penonton pria dan wanita biasanya terpisah ditandai batas tertentu.

Pertarungan kedua kelop dinilai oleh tiga orang juri dan satu orang pengamat. Kriteria dari penilaian pertandingan didong Gayo dibagi dalam tiga parameter. Parameter-parameter tersebut seperti kekata (lirik), sintak (lagu) dan penampilan serta improvisasi. Poin-poin yang menjadi amatan juri untuk parameter kekata (lirik), yaitu harus berbobot interaktif, simultan, tajam, mengena, bijak & simpatik, lemah lembut & tidak kasar. Sementara untuk parameter sitak (lagu) yang menjadi syarat adalah irama tradisional Gayo, merdu, memukau, suara indah, spesifik, gempar, serak basah (parau/payo), sedangkan untuk parameter terakhir yang dinilai adalah penampilan dan improvisasi, disini para pemain didong harus kompak/kelop gerakan ritmis, beden-beden, kertek jemari, tingkah tepok, tepok rucang dan kostum.

Pertandingan didong jalu biasa dimulai sekitar pukul 21.00 dan berakhir sekitar pukul 05.00 beberapa saat sebelum tiba waktu salat subuh. Selama itu masing-masing kelop tampil dalam tempo 30 menit untuk setiap ronde dan terus bergilir bergantian hingga subuh tiba. Ronde awal atau ronde pertama bagi masing-masing kelop biasanya tampil dengan lirik-lirik menyampaikan salam (persalaman) kepada semua pihak yang hadir (si kut patut, si layak laku), yaitu kepada orang-orang terpandang dan terhormat, kepada para penonton tua muda, dan juga kepada lawan tanding. Masing-masing kelop memperkenalkan diri dengan lirik-lirik santun dan rendah hati.

Tidak jarang pada ronde pertama, terutama pada akhir ronde itu, lirik yang di senandungkan sudah mulai menyentil lawan secara halus. Pernyataan itu ditujukan terutama kepada lawan tanding beserta simpatisannya. Dalam bait-bait yang menyentil itu tersirat suatu pernyataan tentang siapa lawan yang dihadapi pada malam itu, apakah kelas kakap, atau sekedar “ayam sayur”. Dengan demikian akan jelas pula pengaturan strategi menghadapi lawan dalam gelar tanding malam itu.

Ronde kedua dan berikutnya mulai dengan langkah-langkah penaklukan lawan lewat tembang puisi pilihan yang sesuai dengan kondisi atau kualitas serangan lawan. Puncak dari pertandingan seni didong ini biasanya mulai tengah malam sekitar pukul 24.00 atau pukul satu dinihari. Seterusnya para penonton dan bahkan kelop yang bertanding sudah mulai merasakan kelop mana akan unggul atau lemah (bayuh).

Baca Juga:

Tari Remo Banyuwangi Dilengkapi Gambar ,Sejarah, Gerakan, dan Penjelasannya



Anti klimaksnya tiba pada ronde paling akhir atau penutup yang disebut ronde gabung. Pada ronde ini keseluruhan anggota kedua kelop bergabung menjadi satu masing-masing kelop membawakan satu atau dua lagu. Isinya merupakan pernyataan penyesalan, permintaan maaf kepada lawan tandingnya, karena sejak awal telah bersikap tak senonoh atau tidak pada tempatnya, dengan mendendangkan kata-kata yang melukai hati lawannya. Melodi yang muncul dalam ronde gabung umumnya bernada sendu atau melankolis.

Tidak jarang pula group atau kelop yang merasa kalah dari keseluruhan pertandingan, baik dari segi kecerdasan syair-syair maupun dari kelembutan suara dan kekompakan anggota dalam ber-didong, sang ceh dengan sportif mengakui kekalahannya. Bagi kelop yang menurut penilaian juri dan pengamatan penonton lebih unggul, dengan santun juga rendah hati menerimanya.


Related Posts

Didong Kesenian Rakyat Gayo Yang Berasal Dari Aceh
4/ 5
Oleh