Selasa, 21 Mei 2019

Tari Kecak Tarian Tradisional Dari Bali : Sejarah, Perkembangan, Kostum, Gerakan Dal Lainnya

Tari Kecak biasa disebut Tari Cak atau tari api. Tarian ini merupakan tarian pertunjukkan hiburan masal yang menggambarkan seni peran dan tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Namun, hanya diiringi oleh paduan suara sekelompok penari laki-laki berjumlah sekitar 70 orang yang berbaris melingkar memakai kain penutup kotak-kotak berbentuk papan catur. Tarian ini sangat sakral, terlihat dari penarinya yang terbakar api, namun mengalami kekebalan dan tidak terbakar.



Tari Kecak juga sering disebut Tari Sanghyang yang dipertunjukkan sewaktu-waktu untuk upacara keagamaan. Penari biasanya kemasukan roh dan bisa berkomunikasi dengan para dewa atau para leluhur yang telah disucikan. Penari tersebut dijadikan sebagai media untuk menyatakan sabda-Nya. Saat kerasukan, mereka juga akan melakukan tindakan yang di luar dugaan, seperti melakukan gerakan berbahaya atau mengeluarkan suara yang mereka tidak pernah keluarkan sebelumnya.


Asal mula nama Kecak

Wayan Limbak merupakan sosok yang menciptakan Tari Kecak. Pada tahun 1930, Limbak sudah mempopulerkan tarian ini ke mancanegara dan dibantu oleh Walter Spies, pelukis asal Jerman. Para penari laki-laki yang menari kecak akan meneriakkan kata ‘cak cak cak’. Dari situlah nama Kecak tercipta. Selain teriakan tersebut, alunan musik Tari Kecak juga berasal dari suara kincringan yang diikatkan pada kaki penari pemeran tokoh-tokoh Ramayana.
Di dalam lingkaran, para penari lainnnya beraksi. Mereka memainkan tarian yang diambil dari episode cerita Ramayana yang berusaha menyelamatkan Shinta dari tangan jahat Rahwana. Tak jarang, Tari Kecak juga melibatkan pengunjung yang tengah menonton aksi tarian tersebut.


Pertunjukan Tari Kecak

Dalam pertunjukannya, tarian diawali dengan pembakaran dupa, lalu para rombongan pengiring memasuki panggung sambil mengumandangkan kata “cak..cak.. cak”. Kemudian mereka membentuk sebuah barisan melingkar, yang di tengah-tengahnya digunakan untuk menari. Dalam pertunjukan Tari Kecak ini penari memerankan lakon-lakon dalam cerita Ramayana, seperti Rama, Shinta, Rahwana, dan tokoh-tokoh lainnya. Gerakan dalam tarian ini tidak terlalu terpaku pada pakem, sehingga penari lebih luwes dalam bergerak dan fokus pada jalan cerita saja. Kadang-kadang ada juga beberapa adegan lucu yang diperagakan para penarinya. Selain itu beberapa adegan yang atraktif juga ditampilkan seperti permainan api dan atraksi lainnya. hal inilah yang membuat Tari Kecak memiliki kesan sakral namun juga menghibur.
 
 
Perkembangan Tari Kecak

Selain sebagai warisan budaya, Tari Kecak ini menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang datang ke sana. Di Bali sendiri hampir semua daerah memiliki kelompok Tari Kecak sendiri. Dalam perkembangannya, Tari Kecak ini juga mengalami pengembangan, baik dari segi pertunjukan, jumlah penari, cerita dan lakon yang diperankan. Hal ini dilakukan sebagai usaha dari para seniman agar pertunjukan Tari Kecak semakin diminati dan dikenal oleh masyarakat luas.
 
 
 



1. Tema dan Makna Filosofi

Pada perkembangannya, tepatnya sekitar tahun 1930-an, seorang seniman Bali bernama Wayan Limbak dan seorang pelukis Jerman bernama Walter Spies melakukan perombakan dan modifikasi pada tari ritual Sanghyang dan menciptakan jenis tari kreasi baru yang bernama tari kecak.
Tari kecak atau tari Cak atau tari Api yang diciptakan Wayan Limbak dan Walter Spies ini merupakan sebuah tari pertunjukan berupa sendra tari (seni drama dan tari) yang mengkisahkan lakon pewayangan Ramayana. Fungsi awalnya sebagai tari persembahan untuk para dewa bergeser menjadi sarana hiburan yang menceritakan tentang perjuangan para kera yang membantu Sri Rama melawan Rahwana dalam merebut kembali Dewi Shinta.


2. Gerakan Tari Kecak

Sesuai dengan jenisnya yang merupakan sendra tari, gerakan tari kecak dibagi menjadi 4 adegan utama yang secara keseluruhan merupakan lakon kisah Ramayana, yaitu:
  1. Adegan pertama mengkisahkan Sinta ketika diculik oleh Rahwana saat Rama mengejar atau berburu kijang emas di hutan.
  2. Adegan kedua mengkisahkan seekor burung garuda yang berusaha menolong Dewi Sinta saat diculik Rahwana. Burung tersebut kemudian gagal menolong karena sayapnya putus setelah ditebas Rahwana. Rahwana pun berhasil membawa Dewi Shinta ke kerajaannya, Alengka Pura.
  3. Adegan ketiga mengkisahkan Rama dan Laksmana yang tersesat di tengah hutan dan tersadar bahwa Sintha telah diculik. Rama pun meminta Hanoman untuk menyelamatkan Shinta dengan memberikan cincinnya sebagai bukti bahwa ia adalah utusan Rama.
  4. Adegan keempat mengkisahkan Sinta yang tengah meratapi nasibnya di taman Alengka Pura. Hanoman yang muncul menyampaikan pesan pada Shinta agar tenang karena Rama akan menyelamatkannya. Hanoman sebelum pergi membakar dan mengobrak abrik Alengka. Pada adegan ini para penari menari di atas bara api yang menyala panas.
Selengkapnya tentang gerakan tari kecak, Anda bisa menyaksikannya pada video berikut ini.

3. Iringan Tari

Tari kecak tidak diiringi dengan tetabuhan atau musik tertentu, melainkan hanya diiringi oleh suara “Cak..cak..cak!” yang diteriakan para penarinya secara bersama-sama. Bunyi gemerincing gelang kaki yang dihentakan setiap penari juga menambah riuh dan dinamisnya tarian ini. Meski tanpa tetabuhan, dua bunyi pengiring tersebut justru membuat pertunjukan tari ini semakin khas.
 

4. Setting Panggung

Tari kecak umumnya dimainkan oleh 50 sd 70 orang. Akan tetapi, jumlah pemainnya sendiri sebetulnya tidak ada batasan. Pernah pula pada tanggal 29 September 2006, di Tanah Lot, Tabanan, Bali tarian ini dipentaskan oleh 5.000 orang penari pada secara bersamaan untuk memecahkan rekor MURI. Semua penari tari kecak disetting melingkar mengelilingi satu lakon yang tengah mendrama di bagian tengah lingkaran, mulai dari Rahwana, Dewi Shinta, Sri Rama, Hanoman, dan Laksmana.
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Secara umum penari tari kecak yang semuanya pria mengenakan kostum atau busana berupa bawahan celana hitam yang dilengkapi dengan selendang kotak-kotak hitam putih seperti warna papan catur. Mereka tidak menggunakan atasan alias hanya bertelanjang dada, tapi menggunakan gelang kaki yang dilengkapi dengan kerincingan yang akan berbunyi bila kaki mereka dihentakan.
Selain penari pada umumnya, terdapat lakon rahwana, hanoman, dewi Shinta, dan Sri Rama yang menggunakan kostum dan riasan menyerupai lakon-lakon tersebut.

6. Properti Tari

Sesuai namanya, Tari Cak atau Tari Api, tari kecak menggunakan salah satu properti yang berupa bara api. Bara api ini dilemparkan ke lantai pada penghujung tarian (adegan keempat) untuk kemudian diinjak-injak oleh semua penari sebagai salah satu sajian atraktif yang paling ditunggu-tunggu dari tarian ini. Nah, demikianlah ulasan mengenai unsur-unsur tari Kecak khas Bali yang dapat kami sampaikan. Dengan mengenali sejarah, keunikan, serta makna filosofis dari tarian ini semoga kita semakin termotivasi untuk terus melestarikan peninggalan budaya nenek moyang kita ini. Salam.
 



Penelusuran yang terkait dengan Tari Kecak Asal Bali


  • kostum tari kecak
  • sejarah tari kecak
  • fungsi tari kecak
  • jenis tari kecak
  • asal usul tari kecak
  • jumlah penari tari kecak
  • makna tari kecak
  • tema tari kecak

Related Posts

Tari Kecak Tarian Tradisional Dari Bali : Sejarah, Perkembangan, Kostum, Gerakan Dal Lainnya
4/ 5
Oleh