Selasa, 28 Mei 2019

Rumah Betang - Rumah Adat Kalimantan Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat diberbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku Dayak

Ciri-ciri

Ciri-ciri Rumah Betang yaitu yaitu bentuk panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Setiap Rumah Betang dihuni oleh 100-150 jiwa, Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang [Pambakas Lewu].
Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah Betang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut di antaranya pada hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante.


Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar




 Makna dan Nilai Rumah Betang

Rumah Panjang/Rumah Betang bagi masyarakat Dayak tidak saja sekadar ungkapan legendaris kehidupan nenek moyang, melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial serta sistem kemasyarakatan, sehingga tak pelak menjadi titik sentral kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia; makna dari pekerjaan; karya dan amal perbuatan; persepsi mengenai waktu; hubungan manusia dengan alam sekitar; soal hubungan dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa rumah betang memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Dayak. Rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena disanalah seluruh kegiatan dan segala proses kehidupan berjalan dari waktu ke waktu.

Rumah betang memang bukan sebuah hunian mewah dengan aneka perabotan canggih seperti yang diidamkan oleh masyarakat modern saat ini.Rumah betang cukuplah dilukiskan sebagai sebuah hunian yang sederhana dengan perabotan seadanya.Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak makna dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang unggul. Tak dapat dimungkiri bahwa rumah telah menjadi simbol yang kukuh dari kehidupan komunal masyarakat Dayak.Dengan mendiami rumah betang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya.Mereka mencintai kedamaian dalam komunitas yang harmonis sehingga mereka berusaha keras untuk mempertahankan tradisi rumah betang ini. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan setiap kepentingannya dengan kepentingan bersama.Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.

Rumah betang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih saksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal. Rumah betang menjadi tempat dan sekaligus menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Dayak untuk membina keakraban satu sama lain. Di tempat inilah mereka mulai berbincang-bincang untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilan satu sama lain. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang sukar untuk dilakukan, meskipun pada malam hari atau bahkan pada saat cuaca buruk sekalipun, sebab mereka berada di bawah satu atap. Demikianlah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan diwariskan secara lisan kepada generasi penerus.Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga selalu dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu. Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang.



Seni Tradisional

Rumah betang selain tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih saksama, kegiatan di rumah betang menyerupai proses pendidikan tradisional yang bersifat non formal. Dalam masyarakat Dayak terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional.Kaum pria terampil dalam ngamboh (pandai besi), menganyam, dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil dalam menenun dan menganyam yang halus.Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas



 

Struktur Bangunan Rumah

Rumah Betang bukan rumah biasa. Rumah ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang komunal. Rasa kekeluargaan yang tinggi antar sesama membuat di masa silam mereka hidup secara bersama-sama dalam rumah adat yang berukuran sangat besar ini.
Untuk diketahui, rumah betang umumnya memiliki ukuran mencapai panjang 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi tiang sekitar 3 meter. Dengan ukurannya yang sedemikian besar, rumah betang mampu menampung 10 sd 15 keluarga dengan jumlah populasi antara 100 sd 150 orang. Adanya tiang rumah menandakan bahwa rumah adat Kalimantan Tengah ini memiliki struktur panggung. Oleh karenanya, untuk memasuki rumah ini seseorang harus menaiki tangga yang berjumlah ganjil.
Rumah adat Betang dibuat dari bahan alam, material utamanya adalah kayu ulin, kayu yang terkenal sangat kuat dan tak mudah lapuk. Sementara atapnya terbuat dari ijuk atau rumbia.

Fungsi Rumah Adat

Untuk menunjang fungsinya sebagai rumah tinggal bersama, rumah Betang dibagi ke dalam beberapa ruangan yang diatur berdasarkan ketentuan adat. Ruangan-ruangan dari rumah adat Kalimantan Tengah ini antara lain:
  1. Ruang Pusat atau poros. Letak ruangan ini berada di tengah rumah. Ukurannya cukup luas dan berfungsi sebagai tempat berkumpul dalam kegiatan adat, keagamaan, atau sosial kemasyarakatan.
  2. Ruang tidur. Mengingat penghuninya yang cukup banyak, maka ruang tidur pun memiliki jumlah yang cukup banyak. Ruang tidur disusun berjajar, ada yang khusus digunakan untuk pasangan suami istri, ada yang digunakan untuk anak perempuan, dan ada yang digunakan untuk anak laki-laki. 
  3. Dapur. Ruangan ini khusus digunakan untuk memasak. Letaknya harus menghadap aliran sungai, menurut kepercayaan Dayak letak tersebut dapat membuat penghuni rumah lancar rejekinya.
  4. Pante. Ruangan ini terletak di bagian luar atap dan digunakan sebagai tempat menjemur padi atau pakaian. Ruangan pante umumnya memiliki lantai yang terbuat dari bambu, batang pinang, atau kayu bulatan seukuran pergelangan tangan.
  5. Serambi. Bagian ini terletak di luar rumah, tepatnya beradasetelah pante. Serambi digunakan untuk tempat bersantai anggota keluarga saat sore hari. Adapun ketika ada acara adat, serambi wajib dihias dengan batang bambu yang kulitnya diarit tipis di setiap ruasnya.
  6. Sami. Ruangan ini adalah ruang yang digunakan untuk menerima tamu atau dapat juga digunakan sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan adat.
  7. Jungkar. Ruangan ini adalah ruangan tambahan yang letaknya berada di bagian belakang bilik keluarga.

Ciri Khas dan Nilai Filosofi

Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Betang dengan rumah adat Indonesia lainnya. Ciri ciri dari rumah adat Kalimantan Tengah ini antara lain:
  1. Hulu rumah menghadap arah Timur dan Hilirnya menghadap Barat. Ini menyimbolkan tentang falsafah hidup orang-orang suku Dayak.
  2. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir dan atap rumah berbentuk pelana memanjang
  3. Ruangan dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan kegunaan dan fungsinya masing-masing.
  4. Memiliki tangga yang dinamakan hejot berjumlah ganjil dan satu pintu masuk. 
  5. Di dekat pintu masuk biasanya terdapat sebuah patung (totem) yang dinamakan rancak sebagai patung persembahan bagi nenek moyang suku Dayak.
  6. Bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh Pembakas Lewu atau tetua adat.
 

Baca Juga:

Rumah Joglo - Rumah Adat Jawa Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Bagian-bagian Rumah Betang

Berdasarkan kepercayaan suku Dayak ada ketentuan khusus dalam peletakan ruang pada Rumah Betang yaitu:
  1. Pusat atau poros bangunan di mana tempat orang berkumpul melakukan berbagai macam kegiatan baik itu kegiatan keagaman, sosial masyarakat dan lain-lain maka ruang los, harus berada ditengah bangunan.
  2. Ruang tidur, harus disusun berjajar sepanjang bangunan Betang. Peletakan ruang tidur anak dan orang tua ada ketentuan tertentu di mana ruang tidur orang tua harus berada paling ujung dari aliran sungai dan ruang tidur anak bungsu harus berada pada paling ujung hilir aliran sungai, jadi ruang tidur orang tua dan anak bungsu tidak boleh diapit dan apabila itu dilanggar akan mendapat petaka bagi seisi rumah.
  3. Bagian dapur harus menghadap aliran sungai, menurut mitos supaya mendapat rezeki.
  4. Tangga. Tangga dalam ruangan rumah adat Betang harus berjumlah ganjil, tetapi umumnya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan, satu lagi di depan sebagai penanda atau ungkapan rasa solidaritas menurut mitos tergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak tangga.
  5. Pante adalah lantai tempat menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainnya.Posisinya berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar.Lantai pante terbuat dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.
  6. Serambi adalah pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarit halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas.
  7. Sami berfungsi ruang tamu sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan.
  8. Jungkar. Tidak seperti raungan yang pada umumnya harus ada. Sementara Jungkar sebagai ruan tambahan di bagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau adakalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang.Jungkar yang atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.



Nah, itulah sekilas pembahasan kami mengenai rumah adat Kalimantan Tengah yang bernama Rumah Betang. Semoga pembahasan kali ini dapat semakin membuat kita semua mencintai budaya bangsa yang telah diwariskan nenek moyang di masa silam. 


Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Kalimantan Tengah (Rumah Betang)
  • sejarah rumah betang
  • rumah adat kalimantan barat
  • mengapa rumah betang sangat istimewa
  • rumah adat kalimantan timur
  • pakaian adat kalimantan tengah
  • rumah betang berasal dari kalimantan
  • rumah adat suku bangsa dayak kalimantan tengah adalah
  • rumah betang di kapuas hulu kalimantan barat disebut

Related Posts

Rumah Betang - Rumah Adat Kalimantan Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar
4/ 5
Oleh