Selasa, 04 Juni 2019

Banua Tada - Rumah Adat Sulawesi Tenggara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Banua Tada adalah rumah adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Banua Tada merupakan rumah tempat tinggal Suku Wolio atau orang Buton di pulau Buton,Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku, sehingga banua tada dapat diartikan sebagai "rumah siku". Hal ini karena struktur rangka bangunan terdiri dari siku-siku. Keunikan dari rumah ini terletak pada desain, struktur dan fungsinya yang mengandung nilai filosofis di dalamnya.Keunikan lain dari rumah banua tada adalah memiliki bentuk rumah panggung, tetapi pada pembangunannya tidak menggunakan satupun paku.


Jenis
 
Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah banua tada dibedakan menjadi tiga yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Kamali atau disebut juga dengan nama "malige" memiliki arti mahligai atau istana, merupakan tempat tinggal untuk raja atau sultan dan keluarganya. Ukurannya lebih besar dibandingkan dengan jenis banua tada lainnya, mempunyai empat tingkatan lantai dan juga atap yang bersusun dua. Banua tada tare pata pale memiliki arti "rumah siku bertiang empat" adalah rumah tempat tinggal para pejabat atau pegawai istana. Biasanya jenis rumah adat ini bertiang empat, atapnya bersusun, dan juga mempunyai dua jendela di bagian kiri dan kanan rumah. Sementara itu, banua tada tare talu pale atau disebut juga "rumah bertiang tiga" adalah rumah tempat tinggal orang biasa. Jenis rumah adat ini mempunyai jumlah tiang tiga dan pada bagian atapnya simetris. Bahan utama dalam pembuatannya adalah papan kayu, bambu, dan rotan dengan setiap ruangan mempunyai satu buah jendela di bagian kiri atau kanan rumah

Baca Juga:

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar





Struktur dan Arsitektur Rumah

Setiap jenis rumah banua tada menggunakan material yang hampir sama, baik pada bagian lantai, dinding, tiang dan atapnya. Tiang-tiang dibangun menurut tiga jenis, yaitu tiang utama yang berada di bagian tengah, tiang penyangga dan tiang pembantu. Semua tiang tersebut menggunakan bahan kayu yang ditumpangkan di bagian atas pondasi batu. Bagian lantai rumah banua tada terbuat dari papan kayu jati yang disusun dengan menggunakan teknik kunci, papan-papan tersebut dibuat saling menyatu meskipun tanpa dipaku, begitu juga dengan dinding rumah. Sementara pada bagian atapnya menggunakan daun rumbia dan juga hipa-hipa yang disusun saling bertumpukan.

Rumah banua tada terdiri dari empat tingkat lantai yang tersusun dari beberapa ruangan. Lantai pertama terdiri atas 7 ruangan. Setiap ruangan mempunyai fungsi yang berbeda. Dua ruangan sebagai tempat sidang bagi anggota Hadat Kerajaan Buton serta sebagai tempat untuk menjamu tamu. Tiga ruang lainnya digunakan untuk tempat tidur tamu, kamar anak yang sudah menikah, serta ruang makan bagi Sultan. Sedangkan dua ruangan lainnya adalah kamar untuk anak laki-laki dewasa. Lantai dua dibagi atas 14 ruangan. Seluruh kamar tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan mulai dari gudang, aula, kantor dan sebagainya. Lantai tiga hanya terdapat satu ruangan yang besar, merupakan tempat untuk bersantai dan juga digunakan sebagai aula. Sedangkan bagian paling atas lantai empat digunakan sebagai tempat penjemuran.
 
Sebelum membahas tentang struktur bangunan rumah adat Sulawesi Tenggara ini, terlebih dahulu mari kita kenali jenis-jenis Banua Tada berdasarkan strata sosial pemiliknya. Ada 3 jenis Banua Tada, yaitu
  1. Kamali disebut juga Malige, adalah rumah Banua Tada yang digunakan secara khusus oleh sultan dan keluarganya. Ukurannya lebih besar dibandingkan jenis Banua Tada lainnya. Rumah ini memiliki 4 tingkatan lantai dan atap bersusun dua.
  2. Banua Tada Tare Pata Pale, adalah rumah Banua Tada yang digunakan oleh para pejabat dan pegawai istana. Biasanya rumah ini bertiang 4, atapnya bersusun, dan memiliki 2 jendela di kiri dan kanan rumah.
  3. Banua Tada Tare Talu Pale, adalah rumah Banua Tada yang digunakan oleh orang biasa. Rumah ini memiliki jumlah tiang tiga dan atapnya simetris. Bahan utama pembuatannya berupa bambu, papan kayu, dan rotan dengan setiap ruangan memiliki satu buah jendela di kiri atau kanan rumah.

Masing-masing jenis rumah Banua Tada di atas sejatinya tersusun atas material yang hampir sama, baik pada bagian tiang, lantai, dinding, hingga atapnya.
Tiang dibuat menurut 3 jenis, yaitu tiang utama berada di tengah (Kabelai), tiang penyangga, dan tiang pembantu. Semua tiang dibuat dari kayu bulat yang ditumpangkan di atas pandasi batu. Adapun lantai umumnya dibuat dari papan kayu jati yang kuat disusun sedemikian rupa menggunakan teknik kunci. Papan-papan tersebut saling menyatu meski tanpa dipaku. Begitu pula dengan dinding rumah. Sementara atap dibuat dari daun rumbia dan hipa-hipa yang disusun saling bertumpukan. 

Fungsi Rumah Adat

Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat tinggal, rumah adat Sulawesi Tenggara ini khususnya Rumah Kamali dibagi atas beberapa ruangan sesuai dengan penggunaannya. Rumah Banua Tada yang digunakan untuk tempat tinggal Sultan (rumah Kamali) yang terdiri dari 4 tingkat lantai tersusun dari ruangan-ruangan sebagaimana berikut:
  1. Lantai pertama. Tingkat ini terdiri dari 7 ruangan, yaitu ruangan 1 dan 2 berfungsi sebagai ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton sekaligus tempat menerima tamu. Ruangan 3 dibagi dua, yang kiri adalah untuk kamar tidur tamu dan yang kanan digunakan untuk ruang makan tamu. Ruangan 4 berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang telah menikah. Ruangan 5 sebagai kamar makan Sultan, sementara ruangan 6 dan 7 digunakan sebagai kamar anak laki-laki Sultan yang sudah dewasa.
  2. Lantai kedua. Tingkat ini dibagi menjadi 14 buah kamar. Di sisi kanan 7 kamar dan disisi kiri 7 kamar. Kamar-kamar tersebut berfungsi untuk kegiatan administrasi kerajaan, mulai dari gudang, kantor, tamu keluarga, aula, dan lain sebagainya.
  3. Lantai ketiga. Tingkat ini hanya ada 1 ruangan besar yang berfungsi sebagai tempat rekreasi sekaligus aula.
  4. Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran.

Baca Juga:

Rumah Baloy - Rumah Adat Kalimantan Utara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar




 

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Ciri Khas dan Nilai Filosofis

 
 Dari pemaparan tentang gaya arsitektur, struktur, dan pembagian ruang yang telah dijelaskan di atas, dapat kita simpulkan beberapa keunikan dan ciri khas rumah adat Sulawesi Tenggara ini dibandingkan rumah adat suku lain di Indonesia. Keunikan tersebut misalnya terletak pada jumlah tingkatan rumah yang bisa mencapai 4 tingkat, kekokohan bangunan meski dibuat tanpa paku dan logam sebagai penguat, serta pembagian ruangannya yang sangat memperhatikan kearifan lokal dan nilai-nilai filosofi yang dianut masyarakat suku Buton. Nah, demikian ulasan singkat kami mengenai rumah adat suku Buton (Wolio) yang bernama Rumah Banua Tada. Desain bangunan yang juga menjadi ikon rumah adat Sulawesi Tenggara ini sudah selayaknya mendapat apresiasi karena keunikan-keunikan yang dimilikinya. 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Banua Tada
  • keunikan rumah adat banua tada
  • rumah adat banua tada berasal dari kabupaten
  • rumah adat sulawesi tenggara banua tada
  • keunikan rumah adat buton sulawesi tenggara
  • manfaat dan kegunaan rumah adat sulawesi tenggara
  • pakaian adat tulang bawal berasal dari provinsi
  • keunikan rumah buton
  • pakaian adat sulawesi tenggara

Senin, 03 Juni 2019

Rumah Tambi - Rumah Adat Sulawesi Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah Tambi adalah rumah adat atau rumah tradisional dari provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Rumah adat ini berbentuk panggung yang atapnya sekaligus berguna sebagai dinding. Rumah Tambi merupakan rumah bagi suku Kaili dan suku Lore yang umumnya merupakan rumah penduduk setempat serta beberapa wilayah di Sulawesi Tengah menjadikan rumah ini sebagai rumah bagi kepala adat. Yang membedakannya adalah jumlah anak tangga untuk menaiki rumah, di mana rumah Tambi yang digunakan sebagai rumah kepala adat jumlah anak tangganya ganjil, sedangkan untuk penduduk biasa anak tangganya berjumlah genap. Alas rumahnya terdiri dari balok-balok yang disusun, sedangkan pondasinya terdiri dari batu alam. Tangga untuk naik tersebut terbuat dari daun rumbia atau daun bambu yang dibelah dua.


Arsitektur

Struktur rumah Tambi adalah berupa rumah panggung dengan tiang penyangga yang pendek dan tingginya tidak lebih dari satu meter. Tiang penyangga ini jumlahnya 9 buah serta saling ditempelkan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan pasak balok kayu. Tiang-tiang ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu bonati, yaitu sejenis kayu hutan yang bertekstur kuat dan tidak mudah lapuk. Tiang-tiang tersebut menyangga rangka lantai yang terbuat dari papan sebagai dasar. Papan disusun rapat dan luas lantai rumah Tambi adalah sekitar 5 meter dikali 7 meter.

Untuk ruangannya, rumah Tambi hanya memiliki satu ruangan saja yaitu ruang utama. Meskipun hanya satu ruangan besar tapi memiliki fungsi yang bermacam-macam. Kegiatan sehari-hari mulai dari memasak, tidur, menerima tamu, semuanya dilakukan hanya dalam satu ruangan tersebut. Untuk melengkapinya, diberi dua bangunan tambahan di luar rumah sebagai penunjang kegiatan lainnya yang tidak bisa langsung dilakukan di rumah utama, yaitu Pointua dan Buho atau Gampiri. Pointua adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat penumbuk padi, yang di dalamnya terdapat sebuah lesung panjang bernama Iso dengan jumlah 4 tiang. Sementara Buho adalah bangunan yang mirip dengan rumah Tambi utama namun memiliki dua lantai. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, sementara lantai atas berfungsi sebagai lumbung padi, sebelum dibawa ke Pointua untuk ditumbuk dan diproses lebih lanjut.

Bagian atap rumah tambi berbentuk prisma dengan sudut kecil pada bagian paling atas sehingga terlihat tinggi dan dapat menaungi rumah secara keseluruhan. Atapnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah.

Jika ingin membangun rumah Tambi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah rumah menghadap kearah utara-selatan, sehingga tidak boleh menghadap maupun membelakangi posisi matahari terbit dan terbenam jika anda sekilas melihat bentuk atau konstruksi rumahnya maka bentuknya seperti jamur dengan prisma yang terbuat dari daun rumbia serta ijuk seperti yang telah dijelaskan sebelumnya


Baca Juga:

Tongkonan Toraja - Rumah Adat Sulawesi Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar


Fungsi

Rumah tambi utamanya berfungsi sebagai rumah bagi masayarakat pada umumnya, terutama masyarakat suku Kaili dan suku Lore. Berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat juga dilakukan dalam rumah ini mulai dari memasak, makan, istirahat, menerima tamu, hingga kegiatan lainnya. Rumah tambi juga berfungsi sebagai tempat tinggal bagi ketua adat dan menyelenggarakan pertemuan. Dan tidak ketinggalan, rumah Tambi adalah simbol dari provinsi Sulawesi Tengah sehingga beberapa kantor pemerintahan juga mengadopsi gaya bangunan dari rumah Tambi, hanya saja ruangannya lebih dari satu.

Kendati berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah adat Sulawesi Tengah ini tidak seperti rumah adat Indonesia lainnya yang terbagi atas ruang-ruang khusus. Bagian dalam rumah Tambi tidak terpisahkan melainkan hanya terdiri dari 1 ruangan besar yang multi fungsi. Kegiatan sehari-hari, mulai dari memasak, menerima tamu, tidur, beristirahat, bercengkrama bersama keluarga, semuanya dilakukan di ruangan tersebut.
Menyadari bahwa rumah Tambi hanya terdiri dari 1 ruangan saja, maka masyarakat Kaili dimasa silam kemudian melengkapi rumah adatnya dengan 2 bangunan tambahan, yaitu Buho atau Gampiri dan Pointua. Buho adalah rumah khusus yang bentuknya seperti rumah Tambi terletak tidak jauh dari rumah utama. Rumah Buho adalah bangunan yang khusus terdiri dari 2 lantai, lantai pertama digunakan sebagai tempat menerima tamu dan lantai kedua digunakan sebagai lumbung padi. Sementara Pointua adalah rumah yang khusus digunakan untuk tempat menumbuk padi. Di dalamnya terdapat sebuah lesung panjang yang bertian empat yang bernama Iso. Jika lesung berbentuk bulat maka disebut Iso Busa.




Simbol

Bentuk bangunan serta ukiran yang terdapat di dalam rumah Tambi memiliki lambang atau simbol tertentu. Apabila dilihat secara langsung, rumah Tambi dominan berbentuk segitiga, di mana segitiga ini melambangkan dua relasi horizontal dan vertikal . Garis horizontal yang menjadi alas atau dasar dari segitiga melambangkan hubungan antar sesama manusia, sementara dua garis vertikal yang merupakan kaki segitiga melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Biasanya di bagian atap depan atau di dalam ruang utama akan terdapat sepasang tanduk kerbau/ kepala kerbau yang disebut pebaula. Pebaula ini melambangkan kekayaan dan kekuasaan dari sang pemilik rumah. Selain itu, terdapat ukiran lain yang disebut bati yang datang dengan corak yang beragam seperti kerbau, ayam, dan babi, di mana bati melambangkan kesejahteraan dan kesuburan. 

Baca Juga:

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Ciri Khas dan Nilai Filosofi

Dari pemaparan mengenai arsitektur dan struktur bangunan serta fungsi rumah adat ini di masa silam, kita dapat menyimpulkan beberapa ciri khas yang dimiliki rumah Tambi yang membedakannya dari rumah adat lain di Indonesia. Ciri khas rumah adat Sulawesi Tengah ini antara lain:
  1. Berupa rumah panggung dengan tiang pendek berukuran < 1 meter yang menyangga tegaknya rumah.
  2. Memiliki atap berbentuk prisma dengan sudut sempit di bagian atasnya. Atap ini selain berfungsi sebagai peneduh juga berfungsi sebagai dinding rumah.
  3. Pada bagian tangga, pintu dan dinding terdapat ornamen-ornamen berupa pahatan motif khas suku Kaili seperti ukiran pebaula (kepala kerbau) sebagai simbol kekayaan dan ukiran bati (ukiran berbentuk kepala kerbau, ayam dan babi) sebagai simbol kesejahteraan dan kesuburan.
 
 
Apa Saja Keunikan Rumah Adat Tradisional Tambi dari Sulawesi Tengah?

 
Ada banyak keunikannya, hanya saja dalam kesempatan yang singkat ini, kami tidak kuasa menyampaikan banyak poin, melainkan hanya 4 (empat) saja. Simak informasinya berikut ini.

1. Rumah Untuk Masyarakat Umum  
Ulasan terkait dengan hal unik dari Rumah Tambi Sulawesi Tengah
Dalam kehidupan sosial, ada beberapa lapisan masyarakat yang pada zaman dahulu dibagi menjadi dua saja, yaitu “masyarakat umum dan bangsawan”.
Nah, rumah adat Tambi ialah rumah adat yang dipakai sebagai tempat tinggal oleh masyarakat umum Sulawesi Tengah. Hal ini sebuah penegasan bahwa keberadaan rumah adat Tambi dibuat bukan untuk golongan bangsawan. 

2.  Ukurannya Kecil
Uraian tentang rumah Tambi yang keren dan memiliki ciri khas menarik
Karena digunakan oleh masyarakat umum, maka ukuran dari rumah ini tidaklah besar baik rumah maupun ruangan yang berada di dalam.
Rumah ini berukuran kecil dikarenakan hanya digunakan untuk tempat tinggal masyarakat umum. Adapun ukuran rumah ini segi persegi panjang dengan ukurannya rata-rata 7×5 m2.3. Struktur Rumah Tidak Terlalu Tinggi 
Berstruktur rumah panggung dan tidak terlalu tinggi, serta pondasi rumah ini berupa batu berbentuk persegi yang besar. Batu yang digunakan sebagai pondasi ialah apa yang disebut dengan batu alam.

3. Beratapkan Ijuk
Review mengenai hal unik dari rumah tradisional Tambi untuk para pembaca
Dampak dari atap ijuk ialah menghasilkan udara yang dingin didalam rumah. Beda dengan rumah jika memakai alat penutup seng.   
Kabar buruknya, apakah saat ini masih memakai ijuk? Bisa saja terjadi perubahan. 

4. Jumlah Anak Tangga Ganjil – Genap 
Beda yang punya, maka beda pulalah anak tangga pada rumah adat Tambi. Pada anak tangga bagi penghuni rakyat biasa berjumlah ganjil, sedangkan untuk tetua adat umumnya berjumlah genap.
Ok, demikian dahulu uraian atau topik tulisan keunikan rumah adat tradisional Tambi.
 
 
Nah, demikianlah sekilas penyampaian kami tentang arsitektur rumah adat Sulawesi Tengah dan penjelasannya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah kecintaan kita pada peninggalan budaya nenek moyang kita.


 Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Tengah (Rumah Tambi)
  • keunikan rumah adat honai
  • keunikan rumah adat baileo
  • keunikan rumah adat tongkonan
  • pakaian adat sulawesi tengah
  • rumah adat honai berasal dari provinsi dan keunikannya
  • pakaian adat tambi
  • keunikan rumah adat lamin
  • rumah adat poso

Tongkonan Toraja - Rumah Adat Sulawesi Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur.berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (strata sosial Masyarakat Toraja). Di depan Tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga). Saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa' (empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar. 


Tongkonan karua terdiri dari:
  1. Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
  2. Tongkonan Sangtanete Jioan
  3. Tongkonan Nosu (To intoi masakka'na)
  4. Tongkonan Sissarean
  5. Tongkonan Karampa' Panglawa padang
  6. Tongkonan Tomentaun
  7. Tongkonan To'lo'le Jaoan
  8. Tongkonan To Barana' Versi lain Tongkonan Lombok Indo' Piso
Tongkonan A'pa' terdiri dari:
  1. Tongkonan Peanna Sangka'
  2. Tongkonan To'induk
  3. Tongkonan Karorrong
  4. Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)
Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya. 


Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:
  1. Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan);
  2. To Makaka (orang merdeka/bebas);
  3. Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.
Sejarah Kabarasan:
Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkan ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anaknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa dipotongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini. 


Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar






Struktur dan Arsitektur Rumah Adat

Secara umum, rumah tongkonan memiliki struktur panggung dengan tiang-tiang penyangga bulat yang berjajar menyokong tegaknya bangunan. Tiang-tiang yang menopang lantai, dinding, dan rangka atap tersebut tidak di tanam di dalam tanah, melainkan langsung ditumpangkan pada batu berukuran besar yang dipahat hingga berbentuk persegi.
Dinding dan lantai rumah adat tongkonan dibuat dari papan-papan yang disusun sedemikian rupa. Papan-papan tersebut direkatkan tanpa paku, melainkan hanya diikat atau ditumpangkan menggunakan sistem kunci. Kendati tanpa dipaku, papan pada dinding dan lantai tetap kokoh kuat hingga puluhan tahun.
Bagian atap menjadi bagian yang paling unik dari rumah adat Sulawesi Selatan ini. Atap rumah tongkonan berbentuk seperti perahu terbaling lengkap dengan buritannya. Ada juga yang menganggap bentuk atap ini seperti tanduk kerbau. Atap rumah tongkonan sendiri dibuat dari bahan ijuk atau daun rumbia, meski pun kini penggunaan seng sebagai bahan atap lebih sering ditemukan.


Fungsi Rumah Adat

Selain dianggap sebagai identitas budaya, rumah tongkonan pada masa silam juga menjadi rumah tinggal bagi masyarakat suku Toraja. Rumah Tongkonan dianggap sebagai perlambang ibu, sementara lumbung padi yang ada di depan rumah atau biasa disebut Alang Sura adalah perlambang ayah. Adapun untuk menunjang fungsinya sebagai rumah tinggal, rumah adat Sulawesi Selatan ini dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian atas (rattiangbanua), bagian tengah (kale banua) dan bawah (sulluk banua).
Bagian Atas atau disebut juga rattiang banua adalah ruangan yang terdapat di loteng rumah. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan benda pusaka yang dianggap memiliki nilai sakral. Benda-benda berharga yang dianggap penting juga di simpan dalam ruangan ini.
Bagian Tengah atau disebut juga kale banua adalah bagian inti dari rumah adat Sulawesi Selatan. Bagian ini terbagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan fungsi-fungsi khususnya, yaitu bagian utara, bagian tengah, dan bagian selatan.
  • Bagian utara disebut dengan istilah ruang Tengalok. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan meletakan sesaji (persembahan). Selain itu, jika pemilik rumah sudah mempunyai anak, maka ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur anak.
  • Bagian pusat disebut Sali. Ruangan ini digunakan untuk beragam keperluan, seperti sebagai tempat pertemuan keluarga, dapur, ruang makan, sekaligus tempat meletakan mayat yang dipelihara.
  • Bagian selatan bernama Ruang Sambung. Ruangan ini khusus digunakan sebagai kamar kepala keluarga. Tidak sembarang orang dapat masuk ke ruangan ini tanpa seizin pemilik rumah.

Bagian Bawah atau disebut juga sulluk banua adalah bagian kolong rumah. Bagian ini digunakan sebagai kandang hewan atau tempat menyimpan alat-alat pertanian.
Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan Toraja

Ciri Khas dan Nilai Filosofis

Selain dari bentuk atapnya yang seperti tanduk kerbau, ada beberapa ciri khas lain dari rumah tongkonan yang membuatnya begitu berbeda dengan rumah adat dari suku-suku lain di Indonesia. Ciri-ciri tersebut di antaranya:
  1. Memiliki ukiran di bagian dinding dengan 4 warna dasar, yaitu merah, putih, kuning dan hitam. Masing-masing warna memiliki nilai filosofis, merah melambangkan kehidupan, putih melambangkan kesucian, kuning melambangkan anugerah, dan hitam melambangkan kematian.
  2. Di bagian depan rumah terdapat susunan tanduk kerbau yang digunakan sebagai hiasan sekaligus ciri tingkat strata sosial si pemilik rumah. Semakin banyak tanduk kerbau yang dipasang, maka semakin tinggi kedudukan pemilik rumah. Tanduk kerbau sendiri dalam budaya toraja adalah lambang kekayaan dan kemewahan.
  3. Di bagian yang terpisah dari rumah tongkonan terdapat sebuah bagunan yang berfungsi sebagai lumbung padi atau disebut alang sura. Lumbung padi juga berupa bangunan panggung. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari batang pohon palem yang licin sehingga tikus tidak bisa masuk ke dalam bangunan. Lumbung padi dilengkapi pula dengan ukiran bergambar ayam dan matahari yang melambangkan kemakmuran dan keadilan.

Baca Juga:

Rumah Joglo - Rumah Adat Jawa Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 

Nah, demikianlah yang dapat kami sampaikan tentang rumah adat Tongkonan yang menjadi prototipe rumah kebanggaan masyarakat suku Toraja. Arsitekturnya yang unik disertai beragam nilai filosofis yang terdapat hampir di setiap sudut bangunannya membuat rumah ini begitu cantik.
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Selatan (Tongkonan Toraja)
  • keunikan rumah adat tongkonan
  • apa bahan pembuatan rumah adat tongkonan
  • nama rumah adat toraja
  • pakaian adat toraja
  • rumah adat toraja berasal dari
  • fungsi tongkonan
  • bagian-bagian rumah adat tongkonan
  • jenis rumah adat dari daerah toraja

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah Boyang merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat. Rumah Boyang memiliki gaya arsitektur yang unik, berbentuk rumah panggung yang tersusun dari material kayu dan ditopang tiang-tiang penyangga. Rumah ini menjadi tempat tinggal Suku Mandar yang merupakan suku asli dari Sulawesi Barat.


Jenis

Rumah boyang terdiri dari dua jenis, yaitu "boyang adaq" dan "boyang beasa". Boyang adaq merupakan tempat tinggal bagi bangsawan, sedangkan boyang beasa merupakan tempat tinggal rakyat biasa. Pada boyang adaq diberi ornamen yang melambangkan identitas tertentu yang mendukung tingkat status sosial penghuninya. Diantaranya memiliki tumbaq layar (penutup bubungan) yang memiliki tiga sampai tujuh susun, semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Selain itu boyang adaq memiliki dua susun tangga, susunan pertama terdiri atas tiga anak tangga, sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan tangga tersebut diantarai oleh pararang. Ciri-ciri yang dimiliki boyang beasa tidak semegah boyang adaq, karena hanya memiliki satu susun penutup bubungan dan satu susun anak tangga.
 
 


Struktur dan Arsitektur Rumah

Rumah boyang memiliki struktur rumah panggung yang menggunakan material kayu dan ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah, tiang ini tidak ditancapkan ke tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk. Rumah boyang memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang rumah. Tangga-tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya antara 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan. Dinding rumah biasanya menggunakan papan yang sudah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar. Pada dinding dilengkapi dengan jendela yang berfungsi sebagai media untuk sirkulasi udara

Rumah boyang memiliki atap berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Pada umumnya, atap terbuat dari seng. Sebagian ada yang menggunakan rumbia dan sirap. Pada zaman dahulu, rumah-rumah penduduk baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Pada penutup bubungan tersebut sering dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Pada bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Ornamen itu disebut "teppang".

Untuk menunjang kegunaan dan fungsinya, rumah boyang dibagi menjadi beberapa bagian ruangan yang disebut dengan lotang. Lotang utama berjumlah tiga, yaitu samboyang, tangnga boyang dan bui boyang. Sedangkan lotang tambahan berjumlah empat, yaitu tapang, paceko, lego-lego dan naong boyang.

Fungsi Rumah Adat

Pada masa silam, rumah adat Boyang digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat suku Mandar. Untuk menunjang kegunaan dan fungsi tersebut, rumah adat Sulawesi Barat ini dibagi menjadi beberapa ruangan yang disebut lotang. Lotang utama berjumlah 3, yaitu Samboyang, Tangnga boyang, dan Bui Boyang, sementara lotang tambahan berjumlah 4, yaitu Tapang, Paceko, Lego-lego, dan Naong Boyang.
  1. Samboyang. Ruangan ini berada di bagian rumah paling depan. Ukurannya cukup lebar dan biasa digunakan sebagai ruang tamu. Jika ada acara adat ruangan ini juga menjadi ruang utama untuk berkumpul para pria.
  2. Tangnga boyang. Ruangan ini berada di tengah rumah setelah ruang Samboyang. Ukurannya lebih ruas dan digunakan untuk tempat berkumpul dan melakukan aktivitas di malam hari bersama keluarga.
  3. Bui’ boyang. Ruangan ini berada di bagian rumah paling belakang. Terdapat beberapa kamar (songi) khusus untuk tidur setiap penghuni rumah. Ada kamar untuk anak gadis, anak bujang, kakek, nenek, dan kamar untuk kepala rumah tangga. Masing-masing kamar di ruang Bui Boyang memiliki ukuran yang beragam.
  4. Tapang. Ruangan ini berada di loteng rumah dan biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang (gudang). Di masa silam, tapang juga digunakan sebagai kamar calon pengantin. Letaknya yang tersembunyi menyimbolkan bahwa calon pengantin harus benar-benar dijaga kesuciannya
  5. Paceko. Ruangan ini terletak menyilang dengan bangunan induk dan memiliki lebar yang sama. Paceko dalam bahasa Indonesia berarti dapur. Oleh karenanya, ruangan ini juga digunakan untuk tempat memasak dan menyimpan persediaan makanan. Dalam Paceko juga terdapat ruangan bernama pattetemeangang atau kamar mandi.
  6. Lego-lego. Ini adalah bagian depan rumah yang beratap tapi tak berdinding. Fungsinya sebagai teras rumah dan digunakan untuk tempat bersantai saat pagi atau sore hari.
  7. Naong boyang. Ruangan disebut juga kolong rumah. Sesuai namanya, ia berada di bawah lantai rumah dan beralas tanah. Biasanya digunakan sebagai kandang ternak sekaligus tempat beraktivitas para wanita untuk mengisi waktu luang, misalnya untuk tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita.
Rumah Adat Sulawesi Barat

Ciri Khas

Ada beberapa keunikan yang terdapat dalam gaya arsitektur rumah adat Sulawesi Barat yang bernama rumah Boyang ini. keunikan-keunikan tersebut dapat menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan rumah adat suku Mandar ini dengan rumah adat suku lain di Indonesia. Ciri khas dan keunikan tersebut antara lain:
  1. Berupa rumah panggung dengan tiang balok yang berukuran besar. Rumah ini dilengkapi dengan 2 buah tangga yang terdapat di bagian depan dan belakang rumah.
  2. Memiliki atap berbentuk pelana yang memanjang dari depan ke belakang menutupi rumah.
  3. Dibangun menghadap ke timur (arah matahari terbit) sebagai simbol keselarasan kehidupan.
  4. Rumah ini dihiasi dengan ragam ornamen, baik di bagian atap, dinding, plafon, tangga, hingga bagian-bagian lainnya. Ornamen tersebut selain berfungsi sebagai hiasan juga memiliki nilai filosofis yang menjadi identitas sosial kemasyarakatan bagi suku Mandar. 
 
 Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 
 
Pembangunan

Bagi orang Mandar, setiap akan membangun rumah senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah mengenai berbagai hal yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan mengetahui tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pelaksanaan musyawarah sering dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). Fokus musyawarah lebih diutamakan pada status sosial yang akan menempati rumah tersebut sebab dari status sosial orang bersangkutan akan dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan, maka jenis rumah yang akan dibangun adalah boyang adaq, bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa, maka rumah yang akan dibangun adalah boyang beasa.

Pemilihan waktu juga sangat penting, karena terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat yang disebut putika, ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan keberuntungan dan keselamatan. Pemilihan waktu yang baik dimaksudkan agar cita-cita yang diharapkan oleh penghuni rumah, seperti rezeki yang banyak, kehidupan yang harmonis, dan keselamatan dapat terwujud secara nyata. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan bala, bencana dan ketidakmujuran atau sial. Hari-hari baik adalah senin, kamis, dan jumat. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik, seperti Muharram, Safar, Jumadil Awal, dan Dzulkaidah. Orientasi rumah boyang yang paling baik adalah pada arah yang mengandung makna positif, yaitu arah timur tempat matahari terbit. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar, maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat.
 
 
Nah, itulah sekilas pemaparan yang dapat kami sampaikan terkait keunikan rumah Boyang khas suku Mandar. Semoga pemaparan ini dapat membantu Anda untuk mengenali keunikan-keunikan gaya arsitektur rumah adat Sulawesi Barat ini. 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Barat (Rumah Boyang)
  • rumah adat sulawesi barat mandar
  • pakaian adat sulawesi barat
  • tarian adat sulawesi barat
  • rumah adat sulawesi barat beserta gambarnya
  • macam macam rumah adat di sulawesi barat
  • rumah adat sulawesi selatan
  • rumah adat sulawesi tengah
  • senjata tradisional sulawesi barat

Rumah Baloy - Rumah Adat Kalimantan Utara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah adat terkenal dari masyarakat Kalimantan Utara disebut Rumah Baloy. Rumah adat ini merupakan hasil kebudayaan seni arsitektur dari masyarakat suku Tidung, Kalimantan Utara. Seperti suku lainnya, suku Tidung ini mempunyai kebudayaan dan model rumah adat sendiri. Walaupun rumah adat ini masih menggunakan sejumlah tiang tinggi pada bagian bawahnya, bentuk bangunan rumah adat ini terlihat lebih modern dan modis. Diduga rumah adat ini adalah hasil pengembangan arsitektur Dayak dari Rumah Panjang (Rumah Lamin) seperti yang dihuni oleh suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur


Seputar Suku Tidung

Suku Tidung di Kalimantan Utara adalah salah satu dari 420 suku Dayak yang ada di Kepulauan Kalimantan. Namun setelah agama dan budaya Islam masuk, sebutan yang awalnya suku Dayak Tidung diganti menjadi Suku Tidung. Salah satu kekayaan suku Tidung adalah rumah adat Baloy.
Dilihat dari desainnya, rumah Baloy mirip dengan rumah adat Lamin dari Kalimantan Timur. Bahkan para ahli menyebutkan rumah adat Baloy merupakan hasil pengembangan arsitektur dari rumah adat Lamin.

Rumah Baloy konsepnya adalah rumah panggung, sebagian besar bangunannya menggunakan bahan kayu khas Kalimantan yang terkenal, yaitu kayu ulin. Selain terkenal kuat, kayu ini tidak akan lapuk jika terkena air, malah sebaliknya kayu menjadi lebih kuat seperti besi.
Ada banyak keunikan rumah Badoy yang menarik untuk diketahui dan dipelajari. Salah satunya adalah dari segi pembagian ruangan dan ciri khasnya. Berikut pembahasannya.


Karakteristik Rumah Baloy

Rumah adat ini berbahan dasar kayu ulin. Rumah Baloy dibangun menghadap ke utara, sedangkan pintu utamanya menghadap ke selatan. Di dalam Rumah Baloy terdapat empat ruang utama yang biasa disebut Ambir, yaitu :
  1. Ambir Kiri (Alad Kait), adalah tempat untuk menerima masyarakat yang mengadukan perkara, atau masalah adat.
  2. Ambir Tengah (Lamin Bantong), adalah tempat pemuka adat bersidang untuk memutuskan perkara adat.
  3. Ambir Kanan (Ulad Kemagot), adalah ruang istirahat atau ruang untuk berdamai setelah selesainya perkara adat.
  4. Lamin Dalom, adalah singgasana Kepala Adat Besar Dayak Tidung.
Pada bagian belakang Rumah Baloy ini, ada bangunan yang dibuat di tengah-tengah kolam yang disebut dengan Lubung Kilong. Bangunan ini adalah sebuah tempat untuk menampilkan kesenian suku Tidung, seperti Tarian Jepin.
Di belakang Lubung Kilong ini, ada lagi sebuah bangunan besar yang diberi nama Lubung Intamu, yaitu tempat pertemuan masyarakat adat yang lebih besar, seperti acara pelantikan (pentabalan) pemangku adat atau untuk acara musyawarah masyarakat adat se-Kalimantan. 


Baca Juga:

Rumah Panjang - Rumah Adat Kalimantan Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar






1. Struktur Bangunan Rumah

Suku Tidung di Kalimantan Utara sebetulnya merupakan salah satu dari 420 sub suku Dayak yang ada di Kalimantan. Akan tetapi, setelah budaya dan ajaran Islam masuk ke budaya suku ini, sebutan bagi suku Tidung yang awalnya adalah suku Dayak Tidung perlahan diganti dengan nama suku Tidung saja.
Karena suku Tidung adalah salah satu sub suku Dayak, desain rumah Baloy yang menjadi rumah adat suku Tidung juga mirip dengan rumah adat Lamin dari Kalimantan Timur. Beberapa ahli bahkan menyebutkan bahwa rumah Baloy merupakan rumah dengan hasil pengembangan arsitektur rumah adat Lamin.
Rumah Baloy merupakan rumah berdesain panggung dengan bahan keseluruhan terbuat dari kayu ulin. Kayu ulin adalah kayu khas Kalimantan yang terkenal sangat kuat struktur seratnya. Tidak seperti kayu jenis lain yang akan melapuk jika terkena air, kayu ulin justru akan semakin kuat dan semakin keras bila terpapar oleh air dalam waktu yang lama.
Sesuai dengan lingkungan tempat dibuatnya, yakni yang biasanya terletak di tepi pantai, rumah adat Baloy biasanya dilengkapi dengan ukiran-ukiran khas yang menggambarkan kearifan lokal daerah pesisir. Selain itu, rumah ini juga diatur sedemikian rupa supaya bangunannya menghadap ke arah utara dengan pintu utama menghadap ke selatan.

  

 

Fungsi Rumah Adat

Rumah Baloy sebetulnya tidak difungsikan sebagai rumah tinggal. Rumah adat Kalimantan Utara ini sejak dahulu lebih berfungsi sebagai balai adat atau tempat tinggal bagi kepala adat. Fungsi tersebut dapat kita lihat dari bagaimana penataan ruang bagian dalam rumah (disebut Ambir) yang lebih mengutamakan fungsi-fungsi sosial, di antaranya :
  1. Ambir Kiri atau Alad Kait, adalah ruangan untuk menerima seseorang atau masyarakat yang akan mengadukan perkara atau masalah adat.
  2. Ambir Tengah atau Lamin Bantong, adalah tempat bagi pemuka adat bersidang dalam memutuskan perkara adat.
  3. Ambir Kanan atau Ulad Kemagot, adalah tempat istirahat atau ruang untuk berdamai setelah perkara adat selesai diputuskan.
  4. Lamin Dalom, adalah singgasana bagi Kepala Adat Besar Dayak Tidung.

Rumah Adat Kalimantan Utara
Selain tersusun atas beberapa bagian ruangan dalam, rumah Baloy juga dilengkapi dengan beberapa bangunan luar yang memiliki fungsi sosial. Di bagian belakang rumah misalnya, terdapat sebuah kolam besar yang ditengahnya terdapat bangunan bernama Lubung Kilong. Bangunan ini digunakan sebagai panggung pagelaran kesenian daerah suku Tidung, seperti Tarian Jepen. Lubung Kilong ini dilengkapi pula dengan bangunan untuk tempat para penonton menyaksikan pertunjukan yang disebut Lubung Intamu. Selain digunakan sebagai tempat menonton pertunjukan, bangunan ini juga berfungsi sebagi tempat pertemuan masyarakat adat yang lebih besar, misalnya dalam acara pelantikan pemangku adat atau musyawarah adat.


Baca Juga:

Rumah Bubungan Tinggi - Rumah Adat Kalimantan Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 

Ciri Khas Rumah Adat Kalimantan Timur

Rumah adat Kalimantan Utara, Baloy memiliki keunikan yang menjadi ciri khasnya dengan kandungan nilai filosofis yang menggambarkan pola hidup masyarakat Suku Tidung. Berikut ini ciri khas yang menjadi penanda perbedaan dengan rumah adat lainnya.
  • Ukiran dengan motif kehidupan laut di bagian risplang dan bagianatap rumah, menggambarkan bahwa masyarakat suku Tidung bermata pencaharian sebagai nelayan.
  • Ruangan di dalam rumah adat Baloy fungsinya berhubungan dengan aktivitas kehidupan sosial masyarakat. Hal ini menunjukkan masyarakat suku Tidung adalah masyarakat yang memiliki jiwa sosial, mengutamakan musyawarah dan mufakat untuk menyelesaikan suatu masalah atau perbedaan tanpa kekerasan.
  • Rumah Baloy biasanya dibangun menghadap ke Utara dengan posisi pintu utama menghadap ke selatan
Nah, itulah pemaparan singkat yang dapat kami sampaikan mengenai Rumah Baloy sebagai rumah adat Kalimantan Utara mulai dari arsitektur, gambar, sejarah, dan fungsinya. Saat ini keberadaan rumah Baloy sudah jarang kita temukan. Salah satu tempat yang masih memungkinkan kita untuk menelusuri seluk beluk rumah adat satu ini adalah di kota Tarakan, tepatnya 1 kilometer dari Bandara Djuwata Kalimantan Utara.
 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Kalimantan Utara (Rumah Baloy)
  • tarian adat kalimantan utara
  • pakaian adat kalimantan utara
  • senjata adat kalimantan utara
  • baju dan rumah adat kalimantan utara
  • pakaian adat dan rumah adat kalimantan utara
  • rumah adat kalimantan tengah
  • rumah adat kalimantan barat
  • rumah adat kalimantan timur

Rumah Lamin - Rumah Adat Kalimantan Timur Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah Lamin adalah rumah adat dari Kalimantan Timur.Rumah Lamin adalah identitas masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.Rumah Lamin mempunyai panjang sekitar 300 meter, lebar 15 meter, dan tinggi kurang lebih 3 meter.Rumah Lamin juga dikenal sebagai rumah panggung yang panjang dari sambung menyambung.Rumah ini dapat ditinggal oleh beberapa keluarga karena ukuran rumah yang cukup besar.Salah satu rumah Lamin yang berada di Kalimantan Timur bahkan dihuni oleh 12 sampai 30 keluarga. Rumah Lamin dapat menampung kurang lebih 100 orang.Pada tahun 1967, rumah Lamin diresmikan oleh pemerintah Indonesia


Baca Juga:

Rumah Betang - Rumah Adat Kalimantan Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar


Ciri Khas

Rumah Lamin memiliki beberapa ciri khas yang umumnya dapat langsung dikenali. Pada badan rumah Lamin, banyak ditemukan ukiran-ukiran atau gambar yang mempunyai makna bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Timur.Salah satu fungsi dari ukiran-ukiran atau gambar pada tubuh rumah Lamin adalah untuk menjaga keluarga yang hidup dalam rumah dari bahaya.Bahaya disini adalah ilmu-ilmu hitam yang umumnya ada di masyarakat Dayak yang digunakan untuk mencelakai seseorang.Rumah Lamin mempunyai warna khas yang dipakai untuk menghias badan rumah. Warna khas itu adalah warna kuning dan hitam.Namun, tidak hanya dua warna itu yang digunakan untuk menghias rumah Lamin. Setiap warna yang dipakai untuk menghias rumah Lamin mempunyai makna.Warna kuning melambangkan kewibawaan, warna merah melambangkan keberanian, warna biru melambangkan kesetiaan, dan warna putih melambangkan kebersihan jiwa.Rumah Lamin dibuat dari kayu.Kayu yang digunakan untuk membuat rumah Lamin adalah kayu Ulin.

Kayu ini dikenal oleh masyarakat Dayak dengan nama kayu besi.Konon, apabila kayu ulin terkena air maka kayu ini akan semakin keras.Hal ini terbukti dari lamanya usia rumah Lamin yang dibuat dengan menggunakan kayu ulin.Hanya saja, ada berbagai kesulitan untuk menemukan kayu ini di hutan. Halamn rumah Lamin biasanya dipenuhi dengan patung-patung atau totem.Patung-patung atau totem ini merupakan dewa-dewa yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai penjaga rumah dari bahaya. Rumah Lamin terbagi atas tiga ruangan yaitu ruangan dapur, ruangan tidur, dan ruang tamu.Ruang tidur terletak berderet dan umumnya dimiliki oleh masing-masing keluarga yang tinggal di dalam rumah tersebut.Ruang tidur juga dibedakan antara ruang tidur lelaki dan ruang tidur perempuan kecuali jika sang lelaki dan perempuan sudah menikah. Ruang tamu umumnya digunakan untuk menerima tamu dan juga untuk pertemuan adat. Ruang tamu adalah ruangan kosong yang panjang.Di sisi luar rumah Lamin, ada sebuah tangga yang digunakan untuk masuk ke dalam.Tangga ini mempunyai bentuk dan model yang sama baik pada rumah Lamin yang dihuni masyarakat Dayak kelas menengah ke atas maupun masyarakat Dayak kelas menengah ke bawah. Di bagian bawa rumah Lamin biasanya digunakan untuk memelihara ternak


Bentuk

Rumah Lamin berbentuk persegi panjang dan memiliki atap yang berbentuk seperti pelana.Rumah ini mempunyai tinggi kurang lebih 3 meter dari tanah.Rumah Lamin memiliki lebar kurang lebih 15-25 meter dan panjang 200-300 meter.Rumah Lamin dibangun dengan beberapa tiang penyangga untuk menopang rumah.Tiang-tiang penyangga rumah Lamin dibagi atas dua bagian. Tiang penyangga inti adalah tiang yang menyangga atap rumah Lamin.Tiang penyangga lainnya adalah tiang yang menopang lantai-lantai rumah lamin.Tiang-tiang ini berbentuk seperti tabung.Pintu masuk rumah Lamin dihubungkan dengan beberapa tangga sebagai jalan masuk ke dalam rumah.Pada halaman depan rumah Lamin terdapat patung-patung atau totem yang dibuat dari kayu.Pada bagian tengah rumah ada sebuah tiang besar yang dibuat dari kayu yang berfungsi untuk mengikat ternak atau hewan peliharaan. Bagian ujung atap rumah Lamin dihiasi dengan kepala Naga yang terbuat dari kayu




Struktur Bangunan Rumah

Rumah adat Lamin sebetulnya merupakan rumah kediaman bagi masyarakat suku Dayak di masa silam. Rumah ini berukuran sangat besar, yakni berkisar pada tinggi tiang 3 meter, lebar 15 meter, dan panjang sekitar 300 meter. Dengan ukuran yang sedemikian besar, rumah lamin dapat menampung 12 sd 30 keluarga atau sekitar 100-150 orang.
Rumah Lamin merupakan rumah dengan struktur panggung yang secara keseluruhan materialnya terbuat dari kayu ulin, kayu khas Pulau Kalimantan yang terkenal kuat dan tahan lapuk. Masyarakat Dayak sering menyebut kayu ulin dengan istilah kayu besi. Hal ini sesuai dengan struktur kayunya yang justru akan semakin keras seperti besi bila terus terkena air.

Struktur panggung pada rumah adat Kalimantan Timur ini ditopang oleh banyak tiang-tiang penyangga yang berbentuk silindris (tabung). Akan tetapi, secara umum tiang tersebut terbagi atas 2 jenis, yaitu tiang yang menyangga atap rumah dan tiang yang menyangga lantai dan dinding rumah.
Untuk masuk ke dalam rumah, seseorang harus meniti salah satu dari 2 tangga yang tersedia di bagian depan rumah. Tangga ini umumnya memiliki jumlah anak tangga ganjil yang melambangkan keselamatan dalam kepercayaan suku dayak. Selain adanya tangga, kita juga akan menemukan pagar kayu di sekeliling rumah adat lamin bagian atas. Pagar kayu yang biasanya berukir ini digunakan untuk menjaga pengunjung atau anggota keluarga tidak jatuh dari rumah.
Selain pada pagar, ukiran-ukiran etnik suku dayak yang umumnya didominasi oleh warna kuning, putih, dan hitam tersebut juga dapat ditemukan pada dinding-dinding dan ujung atap rumah yang berbentuk pelana. Ukiran tersebut meski terlihat hanya berfungsi sebagai hiasan, namun masyarakat Dayak menganggap bahwa ia juga mampu menolak bala dan penyakit bagi pemilik rumah.



Baca Juga:

Rumah Bubungan Tinggi - Rumah Adat Kalimantan Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Fungsi Rumah Adat

Seperti telah disebutkan di atas bahwa rumah Lamin berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat suku Dayak secara berkelompok. Oleh karenanya, rumah adat Kalimantan Timur ini terbagi menjadi beberapa ruangan. Namun, secara umum, ruangan-ruangan rumah Lamin tersebut dibagi dalam 3 fungsi, yaitu :
  1. Ruang Tidur. Ruang tidur ada banyak jumlahnya, tergantung jumlah keluarga yang menghuni rumah tersebut. Namun, ruang tidur juga dapat dibedakan menjadi 3, ada ruang tidur khusus laki-laki, ruang tidur khusus perempuan, dan ruang tidur untuk pasangan yang sudah menikah.
  2. Ruang Tamu. Ruangan ini terletak di bagian depan rumah setelah seseorang naik melalui tangga. Ruang tamu adalah ruang panjang yang kosong. Biasanya ruangan ini hanya digunakan untuk menerima tamu, pertemuan adat, atau musyawarah keluarga.
  3. Ruang Dapur. Sesuai namanya, ruangan ini digunakan untuk kegiatan para wanita saat memasak. Letaknya berada di belakang rumah. Pada ruangan ini kita dapat menemukan beragam perkakas alat masak dan persediaan bahan makanan.

Rumah Adat Kalimantan Timur Lamin

Nilai Filosofi

Ada beberapa hal unik yang membedakan rumah adat Lamin khas Kalimantan Timur dengan beragam rumah adat lainnya di Nusantara. Keunikan-keunikan inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari rumah adat Kalimantan Timur ini di mata dunia. Keunikan tersebut antara lain:
  1. Memiliki ukiran-ukiran pada dinding, ujung atap, pagar, tangga, dan bagian rumah lainnya. Ukiran yang didominasi warna kuning putih dan hitam ini selain berfungsi sebagai hiasan juga disebut dapat memberi tuah sebagai penolak bala.
  2. Terdapat totem atau patung-patung dewa di sekitar halaman rumah yang dipercaya dapat menjaga penghuni rumah dari segala mara bahaya. 
  3. Ukurannya sangat besar dengan jumlah penghuni yang juga sangat banyak menunjukan bahwa masyarakat suku Dayak adalah masyarakat yang hidup dalam kebersamaan dan kegotongroyongan.
Nah, demikian sedikit yang bisa kami sampaikan tentang keunikan rumah adat Kalimantan Timur yang bernama Rumah Lamin. Semoga pemaparan tetntang sejarah, arsitektur, nilai filosofis, dan fungsi dari rumah adat ini dapat membuat Anda semakin mengenali khasanah budaya bangsa peninggalan nenek moyang kita. 
 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Kalimantan Timur (Rumah Lamin)
  • ciri khas rumah adat lamin dari kalimantan timur adalah
  • rumah adat kalimantan utara
  • pakaian adat kalimantan timur
  • rumah adat kalimantan tengah
  • jelaskan hal unik dari rumah adat lamin
  • rumah adat kalimantan terbuat dari
  • bahan atap rumah lamin
  • rumah adat kalimantan barat

Selasa, 28 Mei 2019

Rumah Betang - Rumah Adat Kalimantan Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah betang adalah rumah adat khas Kalimantan yang terdapat diberbagai penjuru Kalimantan dan dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat permukiman suku Dayak

Ciri-ciri

Ciri-ciri Rumah Betang yaitu yaitu bentuk panggung dan memanjang. Panjangnya bisa mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Setiap Rumah Betang dihuni oleh 100-150 jiwa, Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang [Pambakas Lewu].
Pada suku Dayak tertentu, pembuatan rumah Betang haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut di antaranya pada hulunya haruslah searah dengan matahari terbit dan sebelah hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini dianggap sebagai simbol dari kerja keras untuk bertahan hidup mulai dari matahari terbit hingga terbenam.Semua suku Dayak, terkecuali suku Dayak Punan yang hidup mengembara, pada mulanya berdiam dalam kebersamaan hidup secara komunal di rumah betang/rumah panjang, yang lazim disebut Lou, Lamin, Betang, dan Lewu Hante.


Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar




 Makna dan Nilai Rumah Betang

Rumah Panjang/Rumah Betang bagi masyarakat Dayak tidak saja sekadar ungkapan legendaris kehidupan nenek moyang, melainkan juga suatu pernyataan secara utuh dan konkret tentang tata pamong desa, organisasi sosial serta sistem kemasyarakatan, sehingga tak pelak menjadi titik sentral kehidupan warganya. Sistem nilai budaya yang dihasilkan dari proses kehidupan rumah panjang, menyangkut soal makna dari hidup manusia; makna dari pekerjaan; karya dan amal perbuatan; persepsi mengenai waktu; hubungan manusia dengan alam sekitar; soal hubungan dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa rumah betang memberikan makna tersendiri bagi masyarakat Dayak. Rumah betang adalah pusat kebudayaan mereka karena disanalah seluruh kegiatan dan segala proses kehidupan berjalan dari waktu ke waktu.

Rumah betang memang bukan sebuah hunian mewah dengan aneka perabotan canggih seperti yang diidamkan oleh masyarakat modern saat ini.Rumah betang cukuplah dilukiskan sebagai sebuah hunian yang sederhana dengan perabotan seadanya.Namun, dibalik kesederhanaan itu, rumah betang menyimpan sekian banyak makna dan sarat akan nilai-nilai kehidupan yang unggul. Tak dapat dimungkiri bahwa rumah telah menjadi simbol yang kukuh dari kehidupan komunal masyarakat Dayak.Dengan mendiami rumah betang dan menjalani segala proses kehidupan di tempat tersebut, masyarakat Dayak menunjukkan bahwa mereka juga memiliki naluri untuk selalu hidup bersama dan berdampingan dengan warga masyarakat lainnya.Mereka mencintai kedamaian dalam komunitas yang harmonis sehingga mereka berusaha keras untuk mempertahankan tradisi rumah betang ini. Harapan ini didukung oleh kesadaran setiap individu untuk menyelaraskan setiap kepentingannya dengan kepentingan bersama.Kesadaran tersebut dilandasi oleh alam pikiran religio-magis, yang menganggap bahwa setiap warga mempunyai nilai dan kedudukan serta hak hidup yang sama dalam lingkungan masyarakatnya.

Rumah betang selain sebagai tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih saksama, kegiatan di rumah panjang menyerupai suatu proses pendidikan tradisional yang bersifat non-formal. Rumah betang menjadi tempat dan sekaligus menjadi sarana yang efektif bagi masyarakat Dayak untuk membina keakraban satu sama lain. Di tempat inilah mereka mulai berbincang-bincang untuk saling bertukar pikiran mengenai berbagai pengalaman, pengetahuan dan keterampilan satu sama lain. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang sukar untuk dilakukan, meskipun pada malam hari atau bahkan pada saat cuaca buruk sekalipun, sebab mereka berada di bawah satu atap. Demikianlah pengalaman, pengetahuan dan keterampilan diwariskan secara lisan kepada generasi penerus.Dalam suasana kehidupan rumah panjang, setiap warga selalu dengan sukarela dan terbuka terhadap warga lainnya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam mengerjakan sesuatu. Kesempatan seperti itu juga terbuka bagi kelompok dari luar rumah panjang.



Seni Tradisional

Rumah betang selain tempat kediaman juga merupakan pusat segala kegiatan tradisional warga masyarakat. Apabila diamati secara lebih saksama, kegiatan di rumah betang menyerupai proses pendidikan tradisional yang bersifat non formal. Dalam masyarakat Dayak terdapat pembagian tugas atau perbedaan dalam mengerjakan seni tradisional.Kaum pria terampil dalam ngamboh (pandai besi), menganyam, dan mengukir, sedangkan wanita lebih terampil dalam menenun dan menganyam yang halus.Dalam kelompok yang relatif kecil lebih mudah bagi setiap warga untuk berusaha menambah pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mereka dapat berguna dalam masyarakat, sebab apabila mereka tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai mereka dianggap pemalas



 

Struktur Bangunan Rumah

Rumah Betang bukan rumah biasa. Rumah ini merupakan gambaran kehidupan masyarakat yang komunal. Rasa kekeluargaan yang tinggi antar sesama membuat di masa silam mereka hidup secara bersama-sama dalam rumah adat yang berukuran sangat besar ini.
Untuk diketahui, rumah betang umumnya memiliki ukuran mencapai panjang 150 meter, lebar 30 meter, dan tinggi tiang sekitar 3 meter. Dengan ukurannya yang sedemikian besar, rumah betang mampu menampung 10 sd 15 keluarga dengan jumlah populasi antara 100 sd 150 orang. Adanya tiang rumah menandakan bahwa rumah adat Kalimantan Tengah ini memiliki struktur panggung. Oleh karenanya, untuk memasuki rumah ini seseorang harus menaiki tangga yang berjumlah ganjil.
Rumah adat Betang dibuat dari bahan alam, material utamanya adalah kayu ulin, kayu yang terkenal sangat kuat dan tak mudah lapuk. Sementara atapnya terbuat dari ijuk atau rumbia.

Fungsi Rumah Adat

Untuk menunjang fungsinya sebagai rumah tinggal bersama, rumah Betang dibagi ke dalam beberapa ruangan yang diatur berdasarkan ketentuan adat. Ruangan-ruangan dari rumah adat Kalimantan Tengah ini antara lain:
  1. Ruang Pusat atau poros. Letak ruangan ini berada di tengah rumah. Ukurannya cukup luas dan berfungsi sebagai tempat berkumpul dalam kegiatan adat, keagamaan, atau sosial kemasyarakatan.
  2. Ruang tidur. Mengingat penghuninya yang cukup banyak, maka ruang tidur pun memiliki jumlah yang cukup banyak. Ruang tidur disusun berjajar, ada yang khusus digunakan untuk pasangan suami istri, ada yang digunakan untuk anak perempuan, dan ada yang digunakan untuk anak laki-laki. 
  3. Dapur. Ruangan ini khusus digunakan untuk memasak. Letaknya harus menghadap aliran sungai, menurut kepercayaan Dayak letak tersebut dapat membuat penghuni rumah lancar rejekinya.
  4. Pante. Ruangan ini terletak di bagian luar atap dan digunakan sebagai tempat menjemur padi atau pakaian. Ruangan pante umumnya memiliki lantai yang terbuat dari bambu, batang pinang, atau kayu bulatan seukuran pergelangan tangan.
  5. Serambi. Bagian ini terletak di luar rumah, tepatnya beradasetelah pante. Serambi digunakan untuk tempat bersantai anggota keluarga saat sore hari. Adapun ketika ada acara adat, serambi wajib dihias dengan batang bambu yang kulitnya diarit tipis di setiap ruasnya.
  6. Sami. Ruangan ini adalah ruang yang digunakan untuk menerima tamu atau dapat juga digunakan sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan adat.
  7. Jungkar. Ruangan ini adalah ruangan tambahan yang letaknya berada di bagian belakang bilik keluarga.

Ciri Khas dan Nilai Filosofi

Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Betang dengan rumah adat Indonesia lainnya. Ciri ciri dari rumah adat Kalimantan Tengah ini antara lain:
  1. Hulu rumah menghadap arah Timur dan Hilirnya menghadap Barat. Ini menyimbolkan tentang falsafah hidup orang-orang suku Dayak.
  2. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir dan atap rumah berbentuk pelana memanjang
  3. Ruangan dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan kegunaan dan fungsinya masing-masing.
  4. Memiliki tangga yang dinamakan hejot berjumlah ganjil dan satu pintu masuk. 
  5. Di dekat pintu masuk biasanya terdapat sebuah patung (totem) yang dinamakan rancak sebagai patung persembahan bagi nenek moyang suku Dayak.
  6. Bagian tengah rumah biasanya dihuni oleh Pembakas Lewu atau tetua adat.
 

Baca Juga:

Rumah Joglo - Rumah Adat Jawa Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Bagian-bagian Rumah Betang

Berdasarkan kepercayaan suku Dayak ada ketentuan khusus dalam peletakan ruang pada Rumah Betang yaitu:
  1. Pusat atau poros bangunan di mana tempat orang berkumpul melakukan berbagai macam kegiatan baik itu kegiatan keagaman, sosial masyarakat dan lain-lain maka ruang los, harus berada ditengah bangunan.
  2. Ruang tidur, harus disusun berjajar sepanjang bangunan Betang. Peletakan ruang tidur anak dan orang tua ada ketentuan tertentu di mana ruang tidur orang tua harus berada paling ujung dari aliran sungai dan ruang tidur anak bungsu harus berada pada paling ujung hilir aliran sungai, jadi ruang tidur orang tua dan anak bungsu tidak boleh diapit dan apabila itu dilanggar akan mendapat petaka bagi seisi rumah.
  3. Bagian dapur harus menghadap aliran sungai, menurut mitos supaya mendapat rezeki.
  4. Tangga. Tangga dalam ruangan rumah adat Betang harus berjumlah ganjil, tetapi umumnya berjumlah 3 yaitu berada di ujung kiri dan kanan, satu lagi di depan sebagai penanda atau ungkapan rasa solidaritas menurut mitos tergantung ukuran rumah, semakin besar ukuran rumah maka semakin banyak tangga.
  5. Pante adalah lantai tempat menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan upacara adat lainnya.Posisinya berada didepan bagian luar atap yeng menjorok ke luar.Lantai pante terbuat dari bahan bambu, belahan batang pinang, kayu bulatan sebesar pergelangan tangan atau dari batang papan.
  6. Serambi adalah pintu masuk rumah setelah melewati pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tanda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diarit halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas.
  7. Sami berfungsi ruang tamu sebagai tempat menyelenggarakan kegiatan warga yang memerlukan.
  8. Jungkar. Tidak seperti raungan yang pada umumnya harus ada. Sementara Jungkar sebagai ruan tambahan di bagian belakang bilik keluarga masing-masing yang atapnya menyambung atap rumah panjang atau adakalanya bumbung atap berdiri sendiri tapi masih merupakan bagian dari rumah panjang. Jungkar ditempatkan di tangga masuk atau keluar bagi satu keluarga, agar tidak mengganggu tamu yang sedang bertandang.Jungkar yang atapnya menyambung pada atap rumah panjang dibuatkan ventilasi pada atap yang terbuka dengan ditopang/disanggah kayu yang sewaktu hujan atau malam hari dapat ditutup kembali.



Nah, itulah sekilas pembahasan kami mengenai rumah adat Kalimantan Tengah yang bernama Rumah Betang. Semoga pembahasan kali ini dapat semakin membuat kita semua mencintai budaya bangsa yang telah diwariskan nenek moyang di masa silam. 


Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Kalimantan Tengah (Rumah Betang)
  • sejarah rumah betang
  • rumah adat kalimantan barat
  • mengapa rumah betang sangat istimewa
  • rumah adat kalimantan timur
  • pakaian adat kalimantan tengah
  • rumah betang berasal dari kalimantan
  • rumah adat suku bangsa dayak kalimantan tengah adalah
  • rumah betang di kapuas hulu kalimantan barat disebut