Minggu, 19 Mei 2019

Tari Jaipong Tarian Tradisional dari Jawa Barat : Sejarah, Gerakan, Kostum, dan Penjelasannya

Tari Jaipong atau kerap disebut Jaipongan sebetulnya merupakan tari kreasi baru yang terlahir dari jiwa seni H. Suanda, seorang seniman Karawang. Jaipong yang merupakan gabungan dari beberapa elemen kesenian sunda seperti topeng bancet, ketuk tilu, pencak silat, dan wayang golek ini mulai muncul di sekitar tahun 1976. Sejak saat itu, tari Jaipong semakin dikenal luas dan kian digemari, bahkan bukan hanya bagi masyarakat Sunda melainkan seluruh masyarakat Nusantara pada umumnya.


Sejarah

Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976, di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan SUANDA GROUP dengan instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label) jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suanda di wilayah karawang dan sekitarnya. Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternative dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya.

Mungkin di antara kita hanya tahu asal tari jaipong dari Bandung ataupun malah belum mengetahui dari mana asalnya. Dikutip dari ucapan kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Karawang, Acep Jamhuri “Jaipong itu asli Karawang. Lahir sejak tahun 1979 yang berasal dari tepak Topeng. Kemudian dibawa ke Bandung oleh seniman di sana, Gugum Gumilar. Akhirnya dikemas dengan membuat rekaman. Seniman-seniman Karawang dibawa bersama Suwanda. Ketika sukses, yang bagus malah Bandung. Karawang hanya dikenal gendangnya atau nayaga (pemain musik). Makanya sekarang kami di Disbudpar akan mencoba menggali kembali seni tari Jaipong bahwa ini seni yang sesungguhnya berasal dari Karawang”. Tari ini dibawa ke kota Bandung oleh Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk mengembangkan tarian asal karawang dikota bandung yang menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng. Perhatian Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal. Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.


Baca Juga:

Tari Payung, Sumatera Barat : Sejarah, Gerakan, Pengiring, Busana, Peoperti Secara Lengkap




Perkembangan

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, ulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apa lagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tetapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.

 

1. Tema dan Makna Filosofi

Tari jaipong sejatinya tidak mengusung tema atau makna filosofis khusus. Setiap gerakannya murni menjadi hiburan. Keluwesan penari dalam memainkan selendang dan irama kendang yang senada dengan lekuk perubahan gerakan menjadi sebuah daya tarik tersendiri dari tarian tradisional ini. Lebih dari itu, di masa silam tari Jaipong kerap pula dibawakan dengan gerakan-gerakan erotis yang sangat menarik terutama bagi kaum pria.


2. Gerakan Tari Jaipong

Gerakan tari Jaipong sebetulnya sangat sederhana karena hanya terbagi menjadi 4 ragam gerakan, yaitu gerak bukaan, gerak pencungan, gerak ngala, dan gerak mincit.
  1. Gerakan Bukaan adalah gerak yang mengawali tarian. Penari memulainya dengan memutari panggung sembari memainkan selendang yang disampirkan di lehernya.
  2. Gerakan Pencungan adalah ragam gerakan cepat dalam tarian yang diiringi oleh musik dengan tempo cepat.
  3. Gerakan Ngala adalah ragam gerakan patah-patah atau gerak yang memiliki suatu titik pemberhentian sebelum pemain melakukan gerakan lain yang dilakukan dengan cepat.
  4. Gerakan Mincit adalah gerakan perpindahan dari satu gerak ke gerak lain yang dilakukan setelah gerakan ngala.

3. Iringan Tari

Tari jaipong ini dipentaskan dengan iringan musik bernama Degung. Musik ini adalah orkestra dari kumpulan beragam alat musik tradisional seperti Kendang, Gong, Kecapi, Saron, dan lain sebagainya. Salah satu ciri khas yang sangat kental dari tari jaipong terletak pada iringan musiknya yang menghentak dari bunyi kendang. Bunyi kendang sendiri sering kali menjadi bunyi yang selaras dengan gerakan penari jaipong.
 

4. Setting Panggung

Tari jaipong kerap dibawakan oleh satu orang penari saja. Hanya saja berdasarkan aturan yang dibuat penciptanya, tarian ini akan lebih baik bila dimainkan oleh jumlah penari yang ganjil, bisa tiga atau lima. Ke semua penari utama adalah para wanita, bisa gadis maupun yang sudah berkeluarga. Yang jelas dalam pertunjukannya, terutama para pria berhak untuk ikut menari asalkan membayar sejumlah uang sebagai hadiah atau saweran bagi para penari wanita.
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Busana atau pakaian yang dikenakan penari saat pementasan sangat beragam. Busana pada tari  tradisional dan tari gaya baru terdapat perbedaan corak. Tetapi busana yang dikenakan saat pentas tetap busana tradisional seperti:
 
  • Sinjang
Walaupun saat ini sudah banyak kreasi dari busana tarian ini. Tetapi pada awalnya busana yang dikenakan adalah kain yang menyerupai celana panjang. Celana panjang inilah yang disebut Sinjang.
 
  • Sampur
Kain panjang menyerupai selendang yang diletakkan di leher penari ini disebut dengan sampur. Kain tersebut merupakan properti utama dalam tarian ini, karena pada setiap gerakan pasti memainkan sampur. Penari memainkan sampur dengan lemah gemulai membuat tarian  ini unik dan selalu diminati banyak orang.

  • Apok
Apok merupakan baju atasan para penari. Busana ini juga memiliki kancing sepeti pakaian pada umumnya. Apok dihiasi dengan bordiran bunga – bunga yang terdapat pada sudut – sudut pakaian.
 
 
 

6. Properti Tari

Tidak banyak properti yang digunakan dalam tari jaipong. Para penari umumnya hanya mengenakan sampur atau selendang yang diletakan di lehernya. Keberadaan sampur menjadi properti yang sangat penting dalam pertunjukan tari jaipong. Adanya sampur membuat setiap gerakan penari menjadi begitu terasa khas. Perlu diketahui, sampur umumnya berwarna kuning dan kerap menjadi properti untuk menarik penonton pria ke atas panggung untuk ikut menari. Nah, demikian sekilas uraian mengenai unsur-unsur tari jaipong beserta sejarah dan penjelasannya. Tari jaipong kini mulai meredup karena fungsinya sebagai sarana hiburan mulai terkalahkan dengan adanya beragam varian hiburan lainnya sebagai dampak globalisasi. Tugas kita sebagai kaum mudalah untuk kembali membangkitkan seni budaya ini agar tidak punah dimakan usia. 
 
 
Itu tadi adalah penjelasan mengenai kesenian tradisional yang berasal dari Bandung Jawa Barat yaitu Tari Jaipong. Tarian ini diciptakan oleh seniman berbakat bernama Gugum Gumbira.
Dalam tarian ini terdapat 4 ragam gerakan yaitu bukaan, pencungan, ngala dan mincit. Alat musik pengiring tarian ini terdiri dari beberapa alat musik seperti gendang, gong, rebab, kecrek dan juga kecapi.

Karena keunikannya sampai sekarang tarian ini masih tetap diminati masyarakat,bahkan masyarakat mancanegara juga kagum dengan tarian ini. Oleh karena itu marilah para generasi muda, lestarikanlah kesenian-kesenian daerah, karena itu adalah aset milik Negara Indonesia.
 


 Penelusuran yang terkait dengan Tari Jaipong
  • gerakan tari jaipong
  • jenis jenis tari jaipong
  • properti tari jaipong
  • tari jaipong properti tari
  • fungsi tari jaipong
  • tema tari jaipong
  • tari jaipong dimainkan oleh berapa orang
  • nilai estetis tari jaipong

Tari Pendet Asal Bali : Sejarah, Perkembangan, Gerakan, Busana, Fungsi Beserta Penjelasannya

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.[butuh rujukan]

Tarian ini diajarkan sekadar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.


Asal Mula Tari Pendet
Tari Pendet awalnya merupakan suatu tarian tradisional yang menjadi bagian dari upacara piodalan di Pura atau tempat suci keluarga. Sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan dari masyarakat Bali dalam menyambut kehadiran para dewata yang turun dari khayangan. Tarian ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan spiritual masyarakat di sana.
Berawal dari situ, salah satu seniman Bali bernama I Wayan Rindi  terinspirasi dan mengubah tarian tersebut menjadi tarian selamat datang. Dengan dibantu Ni Ketut Reneng, keduanya menciptakan Tari Pendet sebagai tarian penyambutan dengan empat orang penari. Kemudian tarian ini dikembangkan dan disempurnakan lagi oleh I Wayang Baratha dengan menambahkan jumlah penari menjadi lima orang, seperti yang sering ditampilkan sekarang. Walaupun sudah menjadi tarian penyambutan atau tarian selamat datang, Tari Pendet ini masih terdapat unsur-unsur religius yang menjadi ciri khas masyarakat Bali.
 
 
 
Fungsi Tari Pendet
Tari Pendet ini dibagi menjadi dua jenis berdasarkan fungsinya, yaitu Tari Pendet Sakral dan Tari Pendet Penyembutan. Untuk Tari Pendet sakral ditampilkan sebagai bagian dari ritual keagamaan masyarakat Bali. Dalam pertunjukan tarian ini segala sesuatunya lebih sederhana, namun unsur religius sangat kental pada tarian ini. Sedangkan Tari Pendet penyambutan ditampilkan sebagai hiburan atau tarian penyambutan. Dalam pertunjukan tari penyambutan ini lebih memfokuskan keindahan baik dari segi gerak, busana, dan kecantikan para penari. Namun walaupun begitu, unsur budaya masyarakat Bali masih melekat pada tari penyambutan ini.
Pertunjukan Tari Pendet
Dalam pertunjukannya, Tari Pendet dimainkan oleh para penari wanita yang masing-masing membawa mangkok/bokor berisi bermacam-macam bunga sebagai properti menarinya. Pada akhir pertunjukan, penari menaburkan bunga-bunga yang mereka bawa ke arah penonton dan para tamu sebagai ucapan selamat datang. Penari tersebut menari dengan gerakan yang dinamis sesuai dengan irama musik pengiringnya. Musik pengiring dalam pertunjukan Tari Pendet ini merupakan musik Gamelan khas Bali seperti gangsa, kenyur, tungguh, kendang dan lain-lain. 
 
 
Perkembangan Tari Pendet
Walaupun Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak ditinggali wisatawan mancanegara, namun masyarakat Bali sangat terkenal akan tradisi dan budayanya yang masih dipertahankan hingga saat ini. Terbukti dengan banyaknya kesenian tradisional maupun tradisi adat yang terus dilestarikan dan dijaga, bahkan hal tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata di sana. Salah satunya adalah Tari Pendet ini. Tarian ini masih terus dilestarikan oleh para seniman dari sanggar-sanggar tari yang ada di Bali dan masih terus ditampilkan di berbagai acara budaya seperti penyambutan, festival budaya, dan promosi pariwisata.
 

1. Tema dan Makna Filosofi

Sejak tahun 1950-an, tari Pendet mengalami modifikasi setelah tersentuh 2 seniman kawakan Bali asal Desa Sumertha, Denpasar, yakni I Wayan Eindi dan Ni Ketut Reneng. Kedua seniman yang kemudian dianggap sebagai pencipta tari Pendet modern ini bukan hanya mengubah beberapa gerakan dasar tarian, melainkan juga fungsi utama tarian ini. Sejak saat itu, tari yang awalnya berfungsi sebagai ritual pemujaan beralih menjadi berfungsi sebagai tarian penyambutan tamu.

2. Gerakan Tari Pendet

Berdasarkan bagian tubuhnya, gerakan-gerakan pada tari pendet terbagi menjadi 7 macam, yaitu gerakan kaki, tangan, jari, badan, mimik, leher, dan mata.
  1. Gerakan kaki atau disebut gegajalan terdiri atas gerak telapak kaki sama serong (tampak sirangpada), berjalan (ngembang), berjalan ke muka (ngandang arep), berjalan cepat (milpil), dan bergeser cepat (nyregseg).
  2. Gerakan tangan atau disebut pepiletan terdiri atas gerak haluan tangan berputar ke dalam (luk nagasatru) dan haluan tangan seiring (luk nerudut).
  3. Gerakan jari atau disebut tetangan terdiri atas gerak Jari dicakup (Nyakupbawa) dan Melambai-lambai (Ulap-ulap).
  4. Gerakan badan atau disebut leluwesan terdiri atas gerak pangkal lengan bergetar (Ngejatpala).
  5. Gerakan mimik atau disebut entiah-tjerengu terdiri atas gerak riang gembira (luru) dan tersenyum (kenjung manis).
  6. Gerakan leher atau disebut dedengkek terdiri atas leher bergeleng halus (uluwangsul) dan menggelengkan leher dengan keras (ngotag).
  7. Gerakan mata terdiri atas gerakan kiri dan kanan (nyeledet) dan gerak mata berputar (ngelier).
Secara umum, semua gerakan tari pendet tersebut dapat dilakukan dengan ritme dan tempo yang berbeda-beda, bisa cepat, sedang maupun lambat menyesuaikan bunyi musik pengiringnya. Secara lengkap gerakan-gerakan dari tari ini dapat disaksikan pada video berikut.

3. Iringan Tari

Sama seperti kebanyakan tari tradisional lainnya di Indonesia, dalam pertunjukannya, tari Pendet juga diiringi bunyi tetabuhan sebagai musik pengiring. Seperangkat gamelan Bali yang disebut Gong Kebyar dimainkan untuk memperindah nuansa seni dalam gerak tari yang dipertunjukan. Iringan musik Gong Kebyar pada tari pendet dimainkan sesuai dengan ritme tarian. Saat gamelan bali dimainkan cepat, maka penari Pendet juga bergerak dengan cepat. Begitu sebaliknya.
 

4. Setting Panggung

Tari pendet umumnya dipentaskan oleh 5 orang wanita dengan kostum dan properti yang seragam. Kendati begitu, setting panggung tarian ini dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Di tahun 1962, I Wayan Beratha beserta rekan-rekannya bahkan pernah mempelopori pertunjukan tari pendet masal yang dimainkan oleh lebih dari 800 orang penari. Pertunjukan tari pendet massal ini digelar dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta.
 
 
 
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Hal utama yang menjadi ciri khas tari pendet terletak pada tata rias dan tata busana penarinya. Busana yang dikenakan para penari pendet adalah pakaian adat Bali untuk Wanita yang terdiri dari tapih hijau bermotif crapcap, kamen warna merah dengan motif emas, angkin prada kuning bermotif tumpeng, serta sebuah selendang merah polos yang dililit di pinggang. Sementara riasannya cukup banyak yaitu menggunakan subeng (anting), rambut disasak dengan hiasan pusung gonjer, dan hiasan bunga yang terdiri dari bunga kamboja di atas telinga kanan, bunga mawar di tengah kepala, bunga semanggi di telinga kiri, dan bunga sandat di belakang bunga mawar dan bunga kamboja.
 

6. Properti Tari

Properti tari pendet yang paling utama dan harus selalu ada dalam setiap pertunjukan adalah sebuah bokor atau wadah tempat sesaji yang dihias khusus menggunakan janur di bagian tepinya. Pada bokor terdapat beragam buah-buahan dan makanan sebagai simbol penghormatan bagi para tamu yang datang. Nah, demikian sekilas penjelasan yang dapat kami sampaikan tentang unsur unsur tari pendet dan penjelasannya. Semoga bermanfaat dan dapat membuat kita semua semakin mengenali peninggalan budaya nenek moyang sehingga jangan sampai peninggalan-peninggalan yang telah diwariskan kepada kita kemudian diakui oleh bangsa lain. Salam.
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Tari Pendet Asal Bali
  • gerakan tari pendet
  • tari pendet properti
  • jumlah penari tari pendet
  • download video tari pendet
  • mengenal tari pendet dari bali
  • perlengkapan khas yang digunakan dalam membawakan tari pendet adalah
  • keunikan tari pendet
  • tari pendet termasuk jenis tari

Tari Gambyong Jawa Tengah: Sejarah, Ciri, Penggunaan, Gerakan, Tata Rias dan Penjelasannya

Gambyong merupakan salah satu bentuk tarian Jawa klasik yang berasal-mula dari wilayah Surakarta dan biasanya dibawakan untuk pertunjukan atau menyambut tamu. Gambyong bukanlah satu tarian saja melainkan terdiri dari bermacam-macam koreografi, yang paling dikenal adalah Tari Gambyong Pareanom (dengan beberapa variasi) dan Tari Gambyong Pangkur (dengan beberapa variasi). Meskipun banyak macamnya, tarian ini memiliki dasar gerakan yang sama, yaitu gerakan tarian tayub/tlèdhèk. Pada dasarnya, gambyong dicipta untuk penari tunggal, namun sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari dengan menambahkan unsur blocking panggung sehingga melibatkan garis dan gerak yang serba besar. 


Sejarah

Serat Centhini, kitab yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV (1788-1820) dan Pakubuwana V (1820-1823), telah menyebut adanya gambyong sebagai tarian tlèdhèk. Selanjutnya, salah seorang penata tari pada masa pemerintaha Pakubuwana IX (1861-1893) bernama K.R.M.T. Wreksadiningrat menggarap tarian rakyat ini agar pantas dipertunjukkan di kalangan para bangsawan atau priyayi[3]. Tarian rakyat yang telah diperhalus ini menjadi populer dan menurut Nyi Bei Mardusari, seniwati yang juga selir Sri Mangkunegara VII (1916-1944), gambyong biasa ditampilkan pada masa itu di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran

Perubahan penting terjadi ketika pada tahun 1950, Nyi Bei Mintoraras, seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang "dibakukan", yang dikenal sebagai Gambyong Pareanom. Koreografi ini dipertunjukkan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII, pada tahun 1951. Tarian ini disukai oleh masyarakat sehingga memunculkan versi-versi lain yang dikembangkan untuk konsumsi masyarakat luas. 


Perkembangan Tari Gambyong
Pergantian istimewa terjadi di tahun 1950, Nyi Bei Mintotaras, seorang instruktur tari dari Keraton Mangkumanegara pada zaman Mangkumanegara VIII menciptakan varian gambyong yang “diformalkan” yang dikenal dengan nama Gambyong Pareanom. Gambyong Pareanom ini dipentaskan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, kerabat perempuan Mangkumanegara VIII pada tahun 1951.
Akhirnya tarian ini disukai oleh masyarakat luas, akibatnya muncullah varian yang lainnya diinovasikan untuk kebutuhan masyarakat luas. Banyak masyarakat yang terpikat untuk mempelajari warisan tarian daerah tersebut. Masyarakat pun ada yang mempercayai bahwa tarian ini dapat memanggil Dewi Sri atau Dewi Padi untuk memberi berkah kepada sawah mereka dengan hasil yang melimpah.

Jenis-jenis Tari Gambyong yang sudah diinovasikan :
  • Tari Gambyong Sala Minulya
  • Tari Gambyong Ayun-ayun
  • Tari Gambyong Gambirsawit
  • Tari Gambyong Dewandaru
  • Tari Gambyong Mudhatama
  • Tari Gambyong Apangkur
  • Tari Gambyong Campursari





Baca Juga:

Tari Tortor Sumatra Utara : Sejarah, Gerakan, Fungsi, Jenis, Keunikan Beserta Penjelasannya



1. Tema dan Makna Filosofi

Setelah titah sang raja dilaksanakan, tari gambyong hadir dalam beberapa versi dan variasi, di antaranya yang paling dikenal adalah tari Gambyong Pareanom dan tari Gambyong Pangkur. Kedua jenis tari gambyong ini sebetulnya memiliki gerakan dasar dan mengangkat tema yang sama. Keduanya kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan kerajaan Surakarta sekaligus sebagai hiburan bagi dalam acara kerajaan lainnya.
 

2. Gerakan Tari Gambyong

Secara umum, gerakan tari gambyong menggambarkan keseluruhan pribadi wanita Jawa yang lemah lembut. Sikap lincah, gembira, luwes, dan penuh kehati-hatian tergambar jelas pada ragam gerakan tarian tradisional ini yaitu gerak jalan kecil, gerak maju mundur, manggut atau menggerakan kepala, gerak memutar, dan gerak memainkan selendang.
Dalam istilah Jawa, gerakan tari gambyong terbagi atas 3 bagian utama, yaitu maju beksan (gerakan awal), beksan (isi), dan gerak mundur beksan (gerak akhir). Gerakan-gerakannya sendiri terkonsep pada beberapa bagian tubuh seperti kaki, lengan, kepala, dan tubuh.
Yang menjadi ciri khas dari gerakan tarian gambyong salah satunya terletak pada gerakan mata yang selalu mengikuti atau mengiringi gerakan tangan, tepatnya pada jemari tangan yang memegang selendang, seperti dapat Anda simak pada video berikut:

3. Iringan Tari

Dari mulai awal pertunjukan (penari memasuki panggung yang diiringi gendhing Pangkur) hingga akhir pertunjukan (penari meninggalkan panggung) tari Gambyong akan selalu diiringi oleh bunyi-bunyian alat musik tradisional Jawa Tengah, yakni seperangkat gamelan yang terdiri atas kendang, gong, kenong, gambang, dan siter. Bunyi musik pengiring tersebut selain menambah nilai estetis pertunjukan tari juga kerap menjadi tanda setiap gerakan yang harus dilakukan para penari.
 

4. Setting Panggung

Pada awalnya, tari gambyong hanya dipentaskan secara tunggal atau oleh satu orang saja. Namun, pada perkembangannya tarian ini juga dipentaskan secara berkelompok sekitar 4 penari dengan setting panggung yang diatur sedemikian rupa.
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Tidak banyak yang istimewa dari tata rias atau tata busana penari tari Gambyong. Secara umum, para penari hanya mengenakan kelengkapan pakaian adat Jawa Tengah dengan pernik ala kadarnya, seperti kain jarik sebagai bawahan, mekak (kemben), sabuk untuk mengikat jarik, serta beragam aksesoris seperti gelang, giwang, dan kalung. Satu hal yang berbeda dari kostum tari Gambyong terletak pada warna pakaiannya. Kostum penari gambyong kerap ditemukan dengan warna yang mencolok, seperti kuning atau hijau. Kedua warna tersebut memiliki nilai filosofi sebagai tanda kesejahteraan, kemakmuran, dan kesuburan.
 

6. Properti Tari

Satu properti utama yang digunakan dalam tari Gambyong adalah sehelai selendang berwarna kuning, merah, atau warna cerah lainnya. Selendang ini dimainkan dari awal hingga akhir tarian dan menjadi pusat pandangan bagi setiap penonton pertunjukan tari Jawa Tengah ini. Nah, demikian sekilas ulasan mengenai unsur unsur tari gambyong dan penjelasannya. 
 
 
Penggunaan
  • Pada awalnya, tari gambyong digunakan pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari.
  • Sebelum pihak keraton Mangkunegara Surakarta menata ulang dan membakukan struktur gerakannya, tarian gambyong ini adalah milik rakyat sebagai bagian upacara.
  • Kini, tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan.

Ciri khusus
  • Pakaian yang digunakan bernuansa warna kuning dan warna hijau sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.
  • Sebelum tarian dimulai, selalu dibuka dengan gendhing Pangkur.
  • Teknik gerak, irama iringan tari dan pola kendhangan mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.
 
 
Dengan memahami sejarah dan asal usul kemunculannya serta keunikan dari setiap gerakannya semoga kita bisa mulai mengenal dan melestarikan peninggalan budaya nenek moyang ini agar tidak hilang ditelan zaman. Semoga bermanfaat!


Penelusuran yang terkait dengan Tari Gambyong
  • gerakan tari gambyong
  • kostum tari gambyong
  • tari gambyong pareanom
  • properti tari gambyong
  • download video tari gambyong
  • tari gambyong dibawakan secara
  • pola lantai tari gambyong
  • prosedur tari gambyong
  • fungsi tari gambyong
  • download video tari gambyong
  • nilai estetis tari gambyong
  • pola lantai tari gambyong
  • tarian dari daerah jawa barat adalah
  • tujuan dibuatnya pola lantai adalah

Jumat, 17 Mei 2019

Tari Tortor Sumatra Utara : Sejarah, Gerakan, Fungsi, Jenis, Keunikan Beserta Penjelasannya


Ketika kita dengar kata “Tor Tor Batak” maka kita akan membayangkan sekelompok orang (Batak Toba) yang menari (manortor) diiringi seperangkat alat musik tradisional (gondang sabangunan), dengan gerakan tari yang riang gembira, melenggak-lenggok yang monoton, yang diadakan pada sebuah pesta suka maupun duka di wilayah Tapanuli. Tari Tor Tor ini juga sangat terkenal sampai ke penjuru dunia, ini terbukti dari banyaknya turis manca negara maupun lokal yang ingin belajar tarian ini, hal ini dikarenakan masyarakat Batak yang pergi merantau pun dengan bangga selalu menampilkan Tari Tor Tor Sumatera Utara ini dalam acara perhelatannya.

Tari Tor Tor merupakan salah satu jenis tari yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera. Sejak sekitar abad ke-13, Tari Tor Tor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tor Tor. Dulunya, tradisi Tor Tor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun, setelah masukknya Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Di kawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau juga biasa disebut Pahae do mula ni tumba.

Sebelumnya, tarian ini biasa digunakan pada upacara ritual yang dilakukan oleh beberapa patung yang terbuat dari batu yang sudah dimasuki roh, kemudian patung batu tersebut akan “menari”.
Jenis Tari Tor Tor:
  • Tor Tor Pangurason yaitu tari pembersihan yang dilaksanakan pada acara pesta besar. Namun sebelum pesta besar tersebut dilaksanakan, lokasi yang akan digunakan untuk acara pesta besar wajib dibersihkan dengan media jeruk purut. Ini diperuntukkan, pada saat pesta besar berlangsung tidak ada musibah yang terjadi.
  • Tor Tor Sipitu Cawan atau disebut juga Tari Tujuh Cawan. Tor Tor ini dilaksanakan pada acara pengangkatan raja. Tor Tor Sipitu Cawan menceritakan 7 putri yang berasal dari khayangan yang turun ke bumi dan mandi di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu juga Pisau Tujuh Sarung (Piso Sipitu Sasarung) datang.
  • Tor Tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Kemudian ada Tor Tor Tunggal Panaluan yang dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang dilanda musibah. Untuk Tor Tor ini, penari dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut.
Sekarang ini Tari Tor Tor menjadi sebuah seni budaya bukan lagi menjadi tarian yang lekat hubungannya dengan dunia roh. Karena seiring berkembangnya zaman, Tor Tor merupakan perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.


Baca Juga:

Tari Yapong Tarian Tradisional Dari Jakarta Lengkap Dengan Penjelasnnya



Ciri khas

Tortor adalah tarian seremonial yang disajikan dengan musik gondang. Secara fisik tortor merupakan tarian, namun makna yang lebih dari gerakan-gerakannya menunjukkan tortor adalah sebuah media komunikasi, di mana melalui gerakan yang disajikan terjadi interaksi antara partisipan upacara.
Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (Hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakan Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan.
Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sebagai berikut : "Amang pardoal pargonci" :
  1. "Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion."
  2. "Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon."
  3. '"Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo."
Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan/seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.
Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti : Permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.
Setiap penari tortor harus memakai ulos dan mempergunakan alat musik/gondang (Uninguningan).
Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (moncak), atau adu tenaga batin dan lain-lain.
Tari tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat. 

Konsep gondang masa kini

Dalam hal ini, konsep margondang pada masa sekarang dapat dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu :
  1. Margondang pesta, suatu kegiatan yang menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dan sebagainya.
  2. Margondang adat, suatu kegiatan yang menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari sistem kekerabatan Dalihan Na Tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangoli anak (perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang di luar suku Batak Toba, dan sebagainya.
  3. Margondang Religi, upacara ini pada saat sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka adalah mula jadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang dianggap sebagai wakil mula jadi na bolon.


Gerakan Tari Tor Tor

Gerakan tari tor tor sangatlah sederhana. Tak heran jika kemudian banyak orang yang pertama kali mencobanya akan langsung bisa memainkannya. Gerakan tari tor tor terbatas pada gerakan tangan yang melambai naik turun secara bersamaan dan gerak hentak kaki yang mengikuti iringan musik mangondangi.
Yang perlu dicatat, dalam menari tari tor tor seorang penari tidak diperkenankan mengangkat kedua tangannya melebihi bahu. Jika hal itu dilanggar diyakini penari tersebut akan memperoleh kesialan.

Iringan Tari

Pertunjukan tari tor tor diiringi dengan tetabuhan seperangkat alat musik tradisional Sumatera Utara yang bernama Mangondangi. Mangondangi terdiri dari 9 buah gondang, tagading, terompet khas batak, suling, sarune kalee, hesek, odap gordang, ogung, doal, oloan, dan panggora. Semua alat musik ini dimainkan senada seirama seperti paduan sebuah orkestra.
 

Setting Panggung

Setting panggung sejatinya menjadi unsur yang tidak terlalu diperhatikan dalam tarian ini. Fungsi tari tor tor yang menjadi tari pergaulan membuatnya tidak membutuhkan panggung dan segala kelengkapannya. Para penari bebas bergabung dan menari pada sebuah halaman yang luas, tanpa dibatasi aturan kecuali dalam hal busana.
 

Tata Rias dan Tata Busana

Busana yang dikenakan para penari harus mengikuti aturan khusus. Baik pria maupun wanita wajib mengenakan kain ulos alias kain tenun khas Batak di bagian kepala serta di bagian bahu. Motif kainnya sendiri bebas, asalkan sesuai dengan tema pesta yang diangkat pada gelaran tarian tersebut.



Baca Juga:

Tari Payung, Sumatera Barat : Sejarah, Gerakan, Pengiring, Busana, Peoperti Secara Lengkap


 

Properti Tari

Pada tari tor tor yang dimaknai dalam kegiatan ritual keagamaan, patung batu menjadi satu properti wajib yang harus ada dalam tarian ini. sementara pada tari tor tor yang dimaknai sebagai sarana hiburan, penari sama sekali tidak mengenakan properti apapun. Nah, itulah sedikit ulasan yang mungkin dapat menggambarkan keunikan tari tor tor khas masyarakat Batak. Tari tor tor hingga kini masih tetap lestari, terlebih masyarakat Batak dimanapun berada selalu menggelar tarian ini ketika ada pesta atau acara keluarga. Semoga dengan mengenal sejarah asal usul kemunculannya serta beberapa unsur dari tarian ini kita akan semakin memahami tentang khas dan uniknya budaya Batak di Nusantara. Salam.


Penelusuran yang terkait dengan Tari Tor Tor Batak
  • gerakan tari tor tor
  • sejarah tari tor tor
  • fungsi tari tor tor
  • properti tari tor tor
  • keunikan tari tor tor brainly
  • jenis tari tor tor
  • jumlah penari tari tor tor
  • langkah langkah gerakan tari tor tor

Tari Kipas Pakarena Asal Sulawesi Selatan : Sejarah, Properti, Tata Rias, Iringan Tari, Gerakan

Tari kipas adalah salah satu tari tradisional Indonesia yang berasal dari budaya masyarakat Gowa di Sulawesi Selatan. Lebih lengkap, tari ini bernama Tari Kipas Pakarena. Pakarena berasal dari kata “Karena” yang berarti main, menunjukan bahwa dalam tarian ini penari akan mempertunjukan kelihaiannya memainkan kipas-kipas di tangannya.
Jika dilihat sekilas, tari kipas pakarena mirip dengan tari kipas khas Korea yang bernama Buchaechum. Namun jika diteliti lebih dalam lagi, keduanya memiliki banyak sekali perbedaan dan tidak saling berhubungan satu sama lain mulai dalam hal tema dan makna filosofis, gerakan, musik pengiring, hingga sejarah perkembangannya.


Sejarah Tari Kipas Pakarena
Menurut sejarahnya, Tari Kipas Pakarena ini merupakan salah satu tarian peninggalan Kerajaan Gowa di daerah Gowa, Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa ini dulunya pernah berjaya di sulawesi bagian selatan sampai berabad-abad. Sehingga kebudayaan yang ada pada saat itu sangat mempengaruhi corak budaya masyarakat Gowa saat ini, salah satunya adalah Tari Kipas Pakarena. Nama Tari Kipas Pakarena ini dambil dari kata “karena” yang berarti “main”. Sehingga tarian ini juga dapat diartikan sebagi tarian yang memainkan kipas. Tarian ini kemudian diwariska turun temurun hingga menjadi suatu tradisi yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Asal usul dari Tari Kipas Pakarena ini masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun menurut mitos masyarakat disana, tarian ini berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (khayangan) dan pengguni lino (bumi) pada zaman dahulu. Konon sebelum mereka berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana menjalani hidup seperti bercocok tanam, beternak, dan berburu pada penghuni lino. Ajaran tersebut mereka berikan melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Gerakan tersebut kemudian dipakai penghuni lino sebagai ritual adat mereka
 
 
 
 

Fungsi Dan Makna Tari Kipas Pakarena
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Tari Kipas Pakarena ini biasanya ditampilkan sebagai hiburan maupun bagian dari upacara adat. Bagi masyarakat Gowa, tarian ini memiliki nilai yang sangat penting dan makna khusus di dalamnya. Salah satunya adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas kebahagiaan yang mereka dapatkan, hal tersebut mereka ungkapkan lewat setiap gerakan para penari. Selain itu tarian ini juga menggambarkan ekspresi kelembutan, kesantunan, kesucian dan penuh kasih dari para wanita, hal tersebut bisa dilihat dari gerakan para penari yang lemah lembut.



1. Tema dan Makna Filosofi

Terlepas dari sejarah dan mitos munculnya tari kipas Pakarena tersebut, secara umum tarian ini sendiri memiliki makna yang sangat dalam tentang bagaimana sikap hidup masyarakat Gowa. Penarinya yang hanya berasal dari kaum perempuan membawakan gerakan-gerakan yang menggambarkan ekspresi kesantunan, kesetiaan, kelembutan, kepatuhan dan sikap hormat seperti yang dimiliki wanita Gowa pada umumnya. Sementara para pria yang bertugas menabuh alat musik untuk mengiringi tarian dengan gerakan-gerakan cepat menunjukan bahwa laki-laki Gowa adalah laki-laki yang kuat mental, pemberani dan tangguh.
Dari makna filosofis tersebut dapat disimpulkan bahwa selain dapat menjadi sarana hiburan rakyat, tari kipas pakarena juga dapat menjadi simbol kehidupan masyarakat Gowa secara umum.


2. Gerakan Tari Kipas

Gerakan tari kipas sebetulnya terbilang santai dan lemah lembut. Akan tetapi ketika seseorang hendak menjadi penarinya, ia haruslah dalam kondisi yang prima. Pasalnya meski dapat dilakukan dengan santai, pertunjukan tari yang dilakukannya harus dalam durasi yang cukup lama, yakni sekitar 2 jam.
Gerakan tari kipas sendiri juga sarat dengan nilai-nilai filosofis. Tarian tradisional ini diawali dan diakhiri dengan posisi duduk sebagai simbol penghormatan dan kesantunan para penari pada para penonton. Ada pula gerakan memutar searah jarum jam yang menjadi simbol siklus kehidupan manusia. Kemudian gerakan naik turun menyimbolkan kehidupan manusia yang tidak stabil, naik dan turun. Serta larangan bagi penari yaitu mengangkat kakinya terlalu tinggi dan membuka matanya dengan lebar. Larangan tersebut utamanya berkaitan dengan norma kesopanan.

3. Iringan Tari

Sama dengan kebanyakan tari tradisional lainnya di Indonesia, tari kipas pakarena asal Gowa juga diiringi dengan bunyi tetabuhan sebagai musik pemandu. Alat musik yang dimainkan adalah Gondrong Rinci. Gondrong Rinci adalah  seperangkat alat musik tradisional yang terdiri dari beberapa buah gendang (gandrang), suling, dan instrumen lainnya. Godrong Rinci sendiri dimainkan oleh 4 sd 7 orang pria.
 

4. Setting Panggung

Tari kipas kerap dimainkan oleh 5 orang penari wanita. Hanya saja sebetulnya tidak ada aturan baku yang mengatur berapa jumlah penari yang boleh berada di atas panggung. Kadang kali, penari sendiri bisa berjumlah hingga 10 orang. Jumlah tersebut belum termasuk para penabuh alat musik yang berada di samping kanan atau kiri panggung.
 
 
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Para penari wanita dirias sedemikian rupa agar terlihat semakin cantik. Mereka mengenakan kostum khusus yaitu pakaian adat Sulawesi Selatan yang bernama baju bodo dengan aksesoris pelengkap lainnya. Sementara para penabuh alat musik menggunakan busana seragam yaitu baju bella dada.
 

6. Properti Tari

Sesuai namanya, properti utama yang digunakan dalam pertunjukan tari kipas pakarena adalah kipas tangan berukuran besar. Masing-masing penari memegang 2 buah kipas di tangan kanan dan kirinya. Warna kipas sendiri umumnya adalah warna cerah, seperti merah, kuning, putih, atau ungu. 
 
 
 
 
Perkembangan Tari Kipas Pakarena
Walaupun merupakan tarian yang sudah ada sejak lama, Tari Kipas Pakarena masih terus dipertahankan dan dikembangkan hingga sekarang. Tarian ini masih sering ditampilkan di berbagai acara baik acara adat maupun acara hiburan. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di acara budaya seperti pertunjukan tari, festival budaya dan promosi wisata. Dalam perkembangannya, berbagai kreasi dan variasi juga sering ditambahkan dalam pertunjukannya. Hal ini tentu dilakukan agar terlihat lebih menarik, namun tidak meninggalkan ciri khas dan pakem yang ada didalamnya.
Sekian pengenalan tentang “Tari Kipas Pakarena Tarian Tradisional Dari Sulawesi Selatan”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.
 
 

Penelusuran yang terkait dengan Tari Kipas Pakarena
  • properti tari kipas pakarena
  • pola lantai tari kipas pakarena
  • apa arti gerakan berputar searah jarum jam pada tari kipas pakarena
  • tari kipas pakarena ditarikan oleh
  • properti tari kipas pakarena dan fungsinya
  • makalah tari kipas pakarena
  • pertanyaan tentang tari kipas pakarena
  • tari kipas berasal dari provinsi

Tari Remo Banyuwangi Dilengkapi Gambar ,Sejarah, Gerakan, dan Penjelasannya

Tari Remo berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tarian ini berasal dari kecamatan Diwek Di desa Ceweng, tarian ini diciptakan oleh orang yang berprofesi sebagai penari jalanan di kala itu, memang banyak profesi tersebut di Jombang, kini Tarian ini pada akhirnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar tarian ludruk. Namun, pada awal pertengahanya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan kepulangan atas tamu kedaerahan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah.

Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih garang ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan dan banci

Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.

Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.


Tari Remo

Jika dirunut pada sejarahnya, tari remo sebetulnya berasal dari sebuah tarian rakyat yang diperkenalkan oleh seorang seniman jalanan yang tidak dikenali namanya. Diperkirakan asal mula tarian ini pertama kali dikenal di Desa Ceweng, Kec. Dipek, Kab Jombang Jawa Timur. Pada masa itu, tarian ini dipertunjukan di jalan-jalan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Karena keunikan gerakannya yang dianggap mewakili kehidupan masyarakat Jawa Timur, tarian ini kemudian semakin populer dan banyak dipelajari pada saat itu.
 
 

Makna Filosofi Tarian


Tari Remo memiliki beberapa makna filosofi yang terkandung dalam gerakan-gerakannya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa gerakan, seperti gerakan gedrug yang menghentak bumi, yang berarti simbol kesadaran manusia atas kehidupan yang ada di muka bumi.
Gerakan Gendewa diartikan sebagai gerakan manusia yang sangat cepat seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Selain itu, juga terdapat makna lain seperti gerakan Tepisan yang mengandalkan kecepatan dan kecekatan tangan.
Mengandung makna mengenai simbol penyaturan kekuatan lain dari alam kepada diri manusia dengan cara menggesek-gesekkan kedua telapak tangan. Dan Ngore Remo yang memiliki arti sebagai lambang untuk merias diri, terutama dalam menata rambut.
Selain sejarah dan filosofinya, serasa tidak lengkap bila tidak mempelajari konsep Tarian ini. Konsep inilah yang memberikan gambaran mengenai Tari Remo secara menyeluruh. Dengan mempelajari konsepnya, pengetahuan yang didapatkan dari tarian ini akan lebih lengkap.
 
 

1. Tema dan Makna Filosofi

Secara garis besar, tari remo sebetulnya merupakan pertunjukan sendra tari yaitu pertunjukan tari yang mengandung nilai-nilai drama. Setiap gerakan tari remo menggambarkan kegagahan seorang pangeran saat berjuang di medan pertempuran. Oleh karenanya, tarian ini pada awalnya hanya dipentaskan oleh penari pria saja.
Seiring perkembangannya, tari remo bermetamorfosis menjadi beberapa versi. Salah satunya adalah remo putri, yaitu tari remo yang dipentaskan oleh seorang wanita. Selain itu, fungsi utama tarian ini yang awalnya hanya sebagai sarana hiburan rakyat, juga bergeser menjadi tarian pembuka pagelaran ludruk, tari ucapan selamat datang, serta tarian untuk memeriahkan suatu acara kenegaraan.


2. Gerakan Tari Remo

Tari remo memiliki gerakan yang sangat dinamis dan lincah. Gerakan kaki yang lebar dan rancak, gerakan tangan yang terbuka sembari menyapu selendang, serta tatapan mata tajam yang berpadu dengan gerak leher yang patah adalah kekhasan tari tradisional Jawa Timur ini. Selain itu, ekspresi wajah, gelengan dan anggukan kepala, serta kuda-kuda yang dimiliki setiap gerakan adalah hal utama yang membuat tarian ini terlihat begitu atraktif. 
 
 
 
 
 

3. Iringan Tari

Tari remo diiringi dengan alunan musik tradisional khas Jawa, yaitu gamelan. Gamelan terdiri dari susunan beberapa alat musik yang mengeluarkan bunyi saling padu, seperti bonang barung, saron, gambang, babok, bonang penerus, gender, kethuk, kenong, slentem siter, seruling, kempul, dan gong. Ada beberapa gending atau lagu yang dimainkan untuk mengiringi tarian ini, di antaranya Jula-Juli, Tropongan, Walangkekek, Krucilan, Gedok Rancak, dan gending-gending kreasi baru.
 

4. Setting Panggung

Tari remo tidak membutuhkan setting panggung khusus. Untuk mengimbangi gerakan tari yang dinamis, hanyai dibutuhkan area pertunjukan yang luas, terlebih jika tarian ini dimainkan secara berkelompok. Adapun khusus untuk tujuan membuka pertunjukan ludruk, tari remo kerap dimainkan hanya oleh beberapa penari saja, antara 3 sd 7 orang.
Karakteristika yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif.


Baca Juga:

Tari Lilin Tarian Tradisional Dari Sumatera Barat Penjelasan Secara Lengkap


 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Penari remo, baik pria maupun wanita harus mengikuti pakem dalam menata busana dan riasannya sebelum naik panggung. Ada 5 pakem yang dapat dipilih dalam hal busana tari remo ini, yaitu gaya surabayan, gaya sawunggaling, gaya Malangan, gaya Jombangan, dan gaya remo putri. Namun, kelima pakem tersebut sejatinya memiliki banyak kesamaan. Pakaian yang digunakan dari kelima pakem tersebut terdiri dari ikat kepala merah, baju hitam tanpa kancing, celana sebatas tengah betis, batik menjuntai ke lutut, stagen sebagai ikat pinggang, keris, 2 buah selendang, dan gelang bergemericik (berlonceng) di kaki dan tangan.
Khusus untuk remo putri, riasan dan busana ditambah dengan sanggul, mekak hitam (penutup dada), rapak (penutup pinggang), dan hanya memakai 1 selendang saja di bagian bahu.


Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan. 

Busana gaya Surabayan

Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki. 

Busana Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan. 

Busana Gaya Malangan

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.

Busana Gaya Jombangan

Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi. 

Busana Remo Putri

Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu bahu. 



Baca Juga:

Tari Indang (Dindin Badindin) Sejarah, Filosofi Gerakan , Musik Pengiring, Tata Rias dan Tata Busana



6. Properti Tari

Ada 2 properti utama yang digunakan dalam tari remo, yaitu selendang atau sampur dan gelang bergemericik. Selendang digunakan sebagai pendukung gerakan tangan yang dinamis, sementara gelang gemericik yang dipasang di tangan dan kaki berfungsi untuk menambah kesan kuat pada gerakan-gerakan anggota tubuh tersebut. Nah, demikian sedikit ulasan yang bisa kami rangkum tentang tari remo mulai dari sejarah, gerakan, iringan musik, tata rias dan busana, serta properti tari yang digunakan. Semoga dapat menambah wawasan budaya kita dan memperkuat kecintaan kita terhadap semua peninggalan yang telah diwariskan nenek moyang kita. Salam.
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Tari Remo
  • makalah tari remo
  • pencipta tari remo
  • pola lantai tari remo
  • cara menarikan tari remo
  • gambar tari remo
  • tari remo gagrak anyar
  • musik tari remo
  • tari remo bolet

Tari Payung, Sumatera Barat : Sejarah, Gerakan, Pengiring, Busana, Peoperti Secara Lengkap

Tari payung adalah tarian yang melambangkan kasih sayang.Tarian ini dilakukan dengan menggunakan payung sebagai instrument pelengkap.Tarian yang berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat ini biasanya dilakukan oleh 3-4 orang penari yang dilakukan secara berpasangan antara pria dan wanita.Tarian ini mencerminkan pergaulan muda-mudi, sehingga penggunaan payung ini betujuan untuk melindungi mereka dari hal-hal negatif.Tarian ini biasa dibawakan pada saat pembukaan suatu acara pesta,pameran atau bentuk kegiatan lainnya

Makna Dari Payung

Payung dalam tarian ini dipakai oleh pihak penari laki-laki. Alasan mengapa payung digunakan oleh laki-laki adalah sebagai simbol pelindung. Laki-laki merupakan pilar utama dari keluarga, sehingga laki-laki harus melindungi keluarga. Simbol itu tampak dari penari laki-laki yang memayungi kepala penari wanita.

Tari Payung

Tidak diketahui secara pasti bagaimana asal usul dan sejarah Tari Payung dimulai. Yang jelas, catatan terakhir menyebutkan bahwa di masa silam tarian ini menjadi tarian ritual ketika ada suatu hajat pernikahan di beberapa nagari di Sumatera Barat. Karena gerakan dan makna filosofis yang disajikan dalam pertujukan sendratari ini cukup bermanfaat, baik sebagai tontonan maupun tuntunan, kesenian ini pun terus berkembang hingga saat ini.
 

1. Tema dan Makna Filosofi

Tari payung sejatinya adalah sebuah tarian pergaulan yang menjadi simbol cinta dan kasih sayang. Payung yang menjadi properti dari tarian ini mencerminkan suatu sikap melindungi dari seorang bujang terhadap seorang gadis. Sementara selendang yang diikatkan penari gadis ke leher bujang adalah simbol penerimaan cinta sekaligus janji suci dalam kesetiaan.
Untuk diketahui, tari payung sendiri dipentaskan secara berpasangan oleh 3 sd 4 pasang muda-mudi. Masing-masing pasangan memperagakan gerak tari sembari melakukan drama tentang kisah cinta mereka hingga menuju ke pelaminan.
Semua gerakan tarian ini sejatinya memiliki makna filosofis bahwa sepasang muda-mudi yang sudah dewasa dan saling mencintai satu sama lain hendaknya tidak berlama-lama untuk segera menikah. Hal ini dilakukan untuk menghindari dampak buruk dari godaan nafsu yang bisa datang kapan saja.


2. Gerakan Tari Payung

Seperti yang dijelaskan di awal tadi, gerakan dari tarian merupakan pementasan kecil dari drama kisah cinta. Tidak seperti tari tradisional lain yang memiliki gerakan khusus, tari ini cenderung bebas.  Meskipun begitu, penari tetap harus memperhatikan keserasian gerakan payung oleh penari pria dan gerak selendang oleh penari wanita.
 

3. Iringan Tari

Tari payung diiringi oleh 2 elemen penting, yaitu tetabuhan alat musik tradisional serta sebuah syair khusus. Alat musik yang digunakan sebagai pengiring tarian ini terdiri dari rebana, gendang, akordeon, dan gamelan khas melayu. Masing-masing instrumen tersebut dimainkan sesuai dengan ritme tarian. Sementara lagu atau syair khusus yang dinyanyikan adalah syair berjudul “Babendi-bendi ke Sungai Tanang”. Syair yang mengisahkan tentang suami istri yang tengah berbulan madu tersebut dapat Anda temukan liriknya di Wikipedia.
 
 
 
 
Tari payung adalah tarian yang melambangkan kasih sayang.Tarian ini dilakukan dengan menggunakan payung sebagai instrument pelengkap.Tarian yang berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat ini biasanya dilakukan oleh 3-4 orang penari yang dilakukan secara berpasangan antara pria dan wanita.Tarian ini mencerminkan pergaulan muda-mudi, sehingga penggunaan payung ini betujuan untuk melindungi mereka dari hal-hal negatif.Tarian ini biasa dibawakan pada saat pembukaan suatu acara pesta,pameran atau bentuk kegiatan lainnya 
 
Lirik Lagu:

Babendi-bendi Babendi..bendi Ka sungai tanang Aduhai sayang (2x) Singgahlah mamatiak..singgahlah mamatiak Bunga lembayung (2x) Hati siapo..indak ka sanang aduhai sayang..(2x) Mailek rang mudo..mailek rang mudo manari payung..(2x) Hati siapo..hati siapo..indak ka sanang aduhai sayang..(2x) Mailek si nona..mailek si nona manari payung..(2x)

Berbendi-bendi Berbendi-bendi Ke sungai tenang..aduhai sayang (2x) Singgahlah memetik..singgahlah memetik bunga lembayung Hati siapa..hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x) Melihat orang muda..melihat orang muda menari payung.. Hati siapa tidaklah senang aduhai sayang (2x) Melihat si nona..melihat si nona..menari payung(2x)
 
 

4. Setting Panggung

Setting panggung tari payung tidak terlalu menjadi soal. Tarian ini dapat dipentaskan di mana saja, asalkan pada tempat yang luas. Jumlah pemainnya antara 6 sd 8 orang yang saling berpasangan (3 sd 4 pasang) membuat pembagian ruang panggung harus diperhatikan agar para penari tidak saling bertumburan.
 

5. Tata Rias dan Tata Busana

Tata rias dan tata busana penari menjadi unsur penting yang harus diperhatikan dalam sebuah pertunjukan tari payung. Untuk penari wanita, kostum yang digunakan adalah pakaian adat melayu khas Minang terdiri dari baju kurung (kebaya), kain songket sebagai bawahan, dan hiasan kepala berupa mahkota keemasan. Sementara untuk penari pria, kostum yang digunakan adalah baju lengan panjang dan celana panjang satu warna lengkap dengan sarung songket dan kopiah khas melayu.
 

6. Properti Tari

Tidak lengkap rasanya menari payung tanpa selendang dan payung. Seperti yang telah dijelaskan diawal, properti inilah yang menjadi sarana penyampaian makna filosofi dari tarian ini. Kedua properti ini saat pertengahan sampai di akhir tarian akan saling bertemu dan  melengkapi satu sama lain. Seperti  halnya pada sepasang kekasih yang akhirnya dipertemukan di pelaminan untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama-sama.
 
 
Makna dari tari ini adalah wujud perlindungan dan kasih sayang seorang kekasih kepada pasangannya atau suami kepada istrinya dalam membina kehidupan rumah tangga agar selalu bahagia dan sentosa.Bentuk erlindungan ini tidak diartikan melalui gerakan para penari pria dan wanita, karena gerakan ini telah dimodifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.Tapi, makna tarian ini dilambangkan dengan properti yang digunakan berupa payung untuk pria dan selendang untuk wanita.Payung dilambangkan sebagai bentuk perlindungan pria sebagai pilar utama dalam keluarga.Si penari pria akan melindungi kepala penari wanita.Sedangkan, selendang khas Padang dilambangkan sebagai ikatan cinta suci yang kuat dan penuh akan kesetiaan dari seorang wanita serta kesiapannya dalam membangun rumah tangga
 
 
 
Nah, demikian sedikit yang dapat kami rangkum tentang unsur-unsur tari payung khas Sumatera Barat beserta penjelasan seputar sejarah, asal usul, gerakan, dan propertinya. Semoga bisa menambah wawasan budaya kita semua. Salam.



Penelusuran yang terkait dengan Tari Payung Asal Sumatera Barat
  • gerakan tari payung
  • makalah tari payung
  • tata rias tari payung
  • pola lantai tari payung
  • jelaskan mengenai tata rias dan tata busana pada tari payung
  • gambar tari payung
  • ragam gerak tari payung
  • jelaskan makna gerak tari payung