Selasa, 18 Juni 2019

Gapura Candi Bentar - Rumah Adat Bali Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar


RUMAH ADAT BALI – sudah dikenal mempunyai keindahan struktur bangunan yang luar biasa. Bahkan sudah diakui oleh banyak kalangan menjadi provinsi yang mempunyai banyak keunikan tersendiri.

Masyarakat Bali juga secara umum sudah dianggap mampu untuk mempertahankan budaya serta adat yang telah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang mereka. Walaupun sudah berpuluh-puluh tahun tercemar dengan banyaknya orang asing yang masuk.

Terutama oleh para wisatawan yang datang dan membawa banyak budaya-budaya baru. Salah satu dari bentuk kelestarian budaya asli Bali adalah desain rumah adat yang bisa Anda temukan di sana, dan sangat familiar serta hampir digunakan oleh semua penduduk asli Bali.

Nama rumah adat bali adalah Gapura Candi Bentar, rumah ini juga sudah resmi menjadi rumah adat Bali.


Rumah Adat Bali

Rumah adat satu ini adalah cerminan dari budaya Bali yang sarat akan nilai-nilai Hindu. Beragam keunikan dari sisi arsitekturnya maupun dari makna filosofis yang terkandung di dalamnya menjadikan rumah adat Bali ini begitu menarik untuk diketahui lebih detail. Nah, di artikel kali ini kami akan mengulas keunikan-keunikan dari rumah adat bernama Rumah Gapura Candi Bentar ini khusus untuk Anda.
 
 
 
 

Macam-Macam Bangunan Rumah Adat Bali

Arsitek yang biasa menangani rumah adat Bali tentunya memiliki pedoman tersendiri untuk membangun rumah adat tersebut. Misalnya berpedoman kepada kosala kosali, dengan begitu arsitek dapat mendesain rumah adat bali yang diinginkan. Dibawah ini beberapa bangunan rumah adat Bali :

1. Bangunan angkul-angkul

Angkul-angkul adalah bangunan yang menyerupai gapura yang juga memiliki fungsi sebagai pintu masuk. Ada hal yang membedakan angkul-angkul ini dengan yang lainnya, yaitu bangunan ini memiliki atap di atasnya.

2. Aling-Aling

Bangunan ini adalah bangunan yang berdominan sebagai pembatas  antara angkul-angkul dan pekarangan ruangan atau biasa di sebut dengan tempat suci. Ternyata aling-aling ini mempunyai arti tersendiri yaitu terkenal dengan adanya hal-hal positif yang masuk jika terdapat aling-aling di rumah tersebut.

3. Bangunan Sanggah

Bangunan sanggah adalah bangunan suci yang biasanya terletak di sebelah ujung timur laut dari rumah. Fungsi dari bangunan sanggah sebagai tempat sembahyang bagi keluarga besar yang biasa melakukan sembahyang umat hindu.

4. Rumah Adat Bale Manten

Bangunan satu ini adalah bangunan yang khusus untuk anak perempuan dan kepala keluarga. Bale tersebut berbentuk persegi panjang dan biasa diletakkan di sebelah timur. Di dalam ruangan bale tersebut terdapat 2 bale yang lainnya yang biasa terdapat di sebelah kanan dan juga kiri.


Struktur Ruangan Rumah

Nama Gapura Candi Bentar yang dimiliki rumah ini sebetulnya berasal dari desain gapura atau pintu masuknya yang diukir sedemikian rupa sehingga tampak seperti candi. Gapura ini berukuran cukup besar dan dibangun tanpa atap penghubung. Hanya ada 2 bangunan candi yang kembar saling berhadapan dan saling terpisah. Keduanya hanya dihubungkan oleh beberapa anak tangga dan pagar pintu yang biasanya dibuat dari besi.
 
Melongok ke bagian dalam pagar tembok (panyengker), kita akan melihat bahwa rumah adat Bali ini memang sarat dengan nilai-nilai Hindu. Terdapat sebuah bangunan suci di depan rumah yang biasa digunakan untuk bersembahyang. Sama seperti gapura, bangunan tempat ibadah yang bernama Sanggah atau Pamerajan itu juga dipenuhi dengan ukiran dan ornamen-ornamen khas Bali beserta totem-totem pemujaan. Di tempat inilah sesaji diletakan para wanita setiap hari.
Adanya tempat ibadah dalam desain rumah adat Bali merupakan bukti nyata kuatnya masyarakat Bali dalam memegang erat falsafah Asta Kosala Kosali. Falsafah ini mengatur hidup masyarakat Bali tentang hubunganya dengan Tuhan, hubungannya dengan manusia lain, dan hubungannya dengan alam.
Masuk ke bagian dalam rumah, kita akan melihat beberapa ruangan yang memiliki fungsinya masing-masing.
  1. Panginjeng Karang. Ruangan ini merupakan tempat untuk memuja yang menjaga pekarangan.
  2. Bale Manten. Ruangan ini merupakan tempat untuk tidur kepala keluarga, anak gadis dan tempat menyimpan barang-barang berharga. Bagian ini juga sering digunakan bagi pasangan yang baru menikah.
  3. Bale Gede atau Bale Adat. Ruangan ini merupakan tempat untuk upacara lingkaran hidup.
  4. Bale Dauh. Ruangan ini merupakan tempat untuk bekerja, digelarnya pertemuan, dan tempat tidur anak laki-laki.
  5. Paon. Ruangan ini merupakan dapur yang digunakan sebagai tempat memasak
  6. Lumbung. Ruangan ini merupakan tempat untuk penyimpanan makanan pokok, seperti padi dan hasil bumi lainnya.

Material Bangunan

Secara umum, material yang digunakan untuk membangun rumah Gapura Candi Bentar tidak dapat disamaratakan karena pengaruh tingkat ekonomi dan strata sosial pemiliknya. Untuk masyarakat biasa, dinding rumah ini biasanya dibangun menggunakan speci yang dibuat dari tanah liat (popolan), sementara untuk golongan bangsawan biasanya dibangun menggunakan tumpukan bata. Adapun atapnya sendiri bisa dibuat dari genting tanah, alang-alang, ijuk, atau sejenisnya sesuai dengan kemampuan finansial pemilik rumah.
 
 

Nilai-Nilai Dalam Rumah Adat Bali

Selain berfungsi sebagai ikon budaya dan tempat tinggal, rumah Gapura Candi Bentar nyatanya juga mengandung beragam nilai filosofis yang menggambarkan kearifan lokal budaya Masyarakat Bali.
Rumah Adat Bali (Gapura Candi Bentar)
Dalam pembangunan misalnya, rumah adat ini dibuat melalui serangkaian proses panjang, mulai dari proses pengukuran tanah (nyikut karang), ritual persembahan kurban dan mohon izin kepada leluhur untuk mendirikan rumah (caru pengerukan karang), ritual peletakan batu pertama (nasarin), proses pengerjaan, dan kemudian ditutup dengan upacara syukuran saat rumah selesai dibangun. Semua ritual tersebut pada intinya dilakukan dengan tujuan agar rumah yang didirikan dapat memberikan manfaat terbaik bagi si pemilik rumah.

Ada pula beberapa aturan lain yang terdapat dalam tata letak dan pengaturan bagian rumah adat Bali ini. Umumnya, sudut utara dan timur rumah menjadi tempat yang disucikan, sementara sudaut barat dan selatan memiliki derajat kesucian yang lebih rendah. Hal ini membuat kita selalu menemukan tempat ibadah di sudut utara dan timur, dan tempat buang air, kamar mandi, dan penjemuran berada di sudut barat dan selatan.


Baca Juga:

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Struktur Ruangan Rumah Dan Fungsinya

Nama gapura bentar ternyata memiliki keunikan tersendiri dengan desain pintu utama untuk masuk yang begitu besar yang sengaja tidak di kasih pembatas. Terdapat ukiran yang begitu unik sekali sehingga menyerupai seperti halnya candi.
Jika kalian masuk ke dalam dan melihat sebagian pagar tembok, maka tak terbayang pada pikiran anda tentang keragaman kehidupan pada bali yang masih kental.
Di depan rumah juga terdapat semacam gapura atau biasa orang bali menyebutnya yaitu singgah. Tempat ini biasa digunakan oleh umat hindu dalam melakukan sembahyang atau beribadah kepada tuhannya.

Dengan begitu gapura atau tempat singgah yang biasa orang Bali menyebutnya itu semakin membuktikan betapa kuatnya dan begitu kentalnya masyarakat Bali memegang adat yang sudah diwariskan kepada masyarakatnya yang erat dengan falsafah asta kosala kosali.
Jika kita sudah masuk ke bagian dalam rumah, maka kita banyak menemukan berbagai ruangan dan begitu juga fungsinya, diantaranya:

1. Penginjeng Karang

Tempat satu ini merupakan tempat pemujaan yang khusus menjaga pekarangan, bukan untuk ibadah, karena tempat ibadah yang  dimiliki berada di depan rumah. Pemujaan ini biasanya ada waktu puja sendiri.

2. Bale Manten

Dari namanya saja sudah bisa di tebak kalau tempat ini condong ke tempat yang berbau dengan yang namanya pengantin. Ternyata tempat ini adalah suatu ruangan
Kamar yang biasa di gunakan oleh kepala keluarga atau anak gadis atau bahkan tempat untuk penyimpanan barang.  Tak jarang ruangan ini juga di gunakan sebagai tempat pasangan pengantin yang baru menikah.

3. Bale Gede Atau Bale Adat

Bale itu di ambil dari kata balai yang biasa di artikan sebagai tempat kumpul. Di rumah adat bali itu terdapat bale atau balai gede dan juga bale adat yang biasa di gunakan sebagai tempat kumpulnya keluarga besar atau sekedar pertemuan-pertemuan adat atau kepala suku.

4. Bale Dauh

Bale dauh adalah sebuah ruangan yang khusus di gunakan untuk anak lelaki, ditempati oleh anak lelaki yang terdapat di rumah adat tersebut. Terkadang bale dauh itu di gunakan sebagai tempat kerja atau digunakan sebagai tempat diadakannya pertemuan-pertemuan pekerjaan.
Jika keluarga yang menempati rumah adat tersebut dan memiliki putra laki-laki biasanya di ruangan sini lah putranya tidur.

5. Paon

Paon itu diartikan sebagai dapur tempat memasak, jadi rumah adat tersebut memiliki tempat untuk memasak sendiri yang di artikan sebagai paon. Ruangan ini biasanya terletak di belakang rumah adat.

6. Lumbung

Lumbung itu adalah tempat khusus yang digunakan untuk tempat penyimpanan. Tidak semua barang yang di simpan di letakkan di lambung ini, akan tetapi lambun tersebut khusus digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan pokok, misalnya padi, jagung dan masih banyak lagi.


 Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Bali
  • keunikan rumah adat bali
  • ciri khas rumah adat bali
  • material rumah adat bali
  • asal usul rumah adat bali
  • kearifan lokal dalam seni arsitektur rumah adat bali
  • sejarah rumah adat bali
  • konstruksi rumah adat bali
  • bale dangin rumah adat bali

Dolohupa dan Bandayo Pamboide - Rumah Adat Gorontalo Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Karakteristik Rumah Adat Gorontalo

Rumah adat Gorontalo merupakan rumah berbentuk segiempat dengan perbandingan panjang, lebar, dan tinggi yang proporsional dan menggunakan struktur panggung. Rumah panggung (bele) disokong oleh tiga jenis tiang, yaitu dua tiang utama (wolihi), enam tiang depan/serambi, dan sejumlah tiang dasar (potu). Jumlah potu berbeda-beda untuk setiap jenis rumah, yaitu 32 untuk rumah raja, 28 untuk rumah golongan menengah, dan 20 untuk rumah rakyat biasa.

Secara vertikal rumah adat Gorontalo menganalogikan kepala, badan, dan kaki. Kepala diwakili oleh atap yang bagian dalamnya dimanfaatkan sebagai ruang penyimpanan. Badan adalah bagian rumah induk. Kaki adalah kolong/tiang rumah (tahuwa) yang dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti menyimpan hasil bumi dan alat-alat pertanian. 

 Sementara itu, tata ruang horizontal rumah adat Gorontalo secara umum terdiri dari beranda/serambi depan (sulambe) untuk menerima tamu pria; ruang tengah (duledehu) untuk menerima tamu wanita; ruang tidur (huali); dan ruang-ruang bagian belakang (dulawonga) untuk mengaso; dan ruang belakang atau dapur (depula) yang terpisah dan dihubungkan dengan selasar. Rumah raja tidak memiliki dapur karena makanan raja dimasak di luar “istana”. Namun, di kanan kiri rumah ada serambi (hantaleya) tempat pengawal berjaga.

 

Baca Juga:

Rumah Tambi - Rumah Adat Sulawesi Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 

Nilai Filosofis Dan Keindahan Arsitektural

Meskipun rumah adat Gorontalo berbeda ukuran, tata ruang, dan estetikanya, tetapi semua mengemban nilai-nilai filosofis yang kuat. Nilai filosofis terutama dari ajaran agama (Islam) serta adat istiadat dan kepercayaan masyarakat tradisional Gorontalo.

Sebagai contoh, atap susun dua dan dua tiang wolihi melambangkan adat dan syariat. Tiang wolihi juga lambang ikrar persatuan/kesatuan abadi Gorontalo-Limboto. Jumlah anak tangga 5 s/d 7 berdasarkan Lima Rukun Islam serta lima prinsip hidup masyarakat Gorontalo; dan 7 tingkatan nafsu manusia. Lima prinsip hidup adalah keturunan dijaga, negeri dibela, diri diabdikan, harta diwakafkan, dan nyawa sebagai taruhan; tujuh tingkatan nafsu manusia adalah amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan.

Secara arsitektural, keindahan rumah adat Gorontalo terlihat dari keseluruhan desain rumah panggung. Untuk menaiki rumah pada bagian depan dibuat dua tangga adat (tolitihu) yang simetris yang bermuara pada serambi atau anjungan.

Kesan artistik bangunan didukung dengan pemilihan kayu dan material alami lain untuk elemen-elemen rumah. Misalnya, konstruksi atap kayu ditutup rumbia; dinding dan lantai tersusun dari papan kayu; pilar-pilar kayu kokoh menyokong bangunan; dan sebagainya.

Keunikan dan nilai artistik juga terpancar dari berbagai bentuk arsitektural dan ornamen khas sebagai hiasan. Misalnya, desain pintu dan jendela; desain railing pada serambi dan tangga; penerapan ukir-ukiran pada tiang kayu ataupun hiasan ornamen pada lisplang, plafon, dan sebagainya.
 

 

Rumah Adat Gorontalo

Nah, dikesempatan artikel kali ini kami akan mengulas kedua rumah adat Gorontalo tersebut secara lengkap mulai dari gaya arsitektur, struktur bangunan, fungsi, serta penjelasannya. Bagi Anda yang tertarik untuk memperoleh wawasan budaya tentang kedua rumah adat ini, silakan simak pembahasan berikut!
 

1. Rumah Adat Dolohupa

Dalam bahasa Gorontalo, Doluhapa berarti “Mufakat”. Nama tersebut sesuai dengan fungsi rumah adat satu ini yang memang sering digunakan untuk bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam perkara adat di masa pemerintahan raja-raja Gorontalo di masa silam. Rumah Doluhapa juga digunakan sebagai tempat mengadili seseorang yang melakukan tindakan kejahatan. 
 
Ada 3 hukum yang digunakan dalam pengadilan yang dilakukan di rumah adat Doluhupa, yaitu hukum pertahanan dan keamanan yang digunakan untuk mengadili prajurit atau bisa dikatakan pengadilan militer (Buwatulo Bala), hukum agama Islam (Buwatulo Syara), dan hukum adat (Buwatulo Adati).
Dari segi desain arsitekturnya sendiri, rumah adat Gorontalo ini terbilang unik. Rumah adat ini memiliki struktur panggung dengan tiang atau pilar yang berukir sedemikian rupa sebagai hiasan. Atapnya dibuat dari jerami berkualitas yang dianyam, sementara bagian rumah lainnya seperti lantai, dinding, pagar, dan tangga terbuat dari bilah atau papan kayu.

Bagian dalam rumah adat Doluhupa tidak terbagi menjadi beberapa ruangan melainkan langsung berupa satu ruangan plong berukuran besar. Di masa sekarang, ruangan ini tidak lagi digunakan untuk mengadili seseorang. Ruangan ini beralih fungsi dan lebih sering digunakan sebagai tempat untuk melangsungkan upacara pernikahan adat, atau kegiatan adat lainnya.
Ada satu bagian yang unik dari rumah adat Gorontalo ini. selain kita dapat menemukan adanya anjungan yang terletak di bagian depan rumah, kita juga dapat melihat adanya 2 tangga yang saling berhadapan secara simetris di bagian depan rumah sebagai jalan masuk. Tangga ini dalam bahasa Gorontalo disebut Tolitihu.
Rumah Adat Gorontalo Bandayo Pamboide

 

Rumah Adat Bandayo Pamboide

Jika rumah adat Doluhapa lebih sering digunakan sebagai tempat mengadili seseorang, maka rumah adat Bandayo Pamboide ini justru kerap digunakan sebagai tempat bermusyawarah dan gedung pertunjukan adat. Fungsi ini sesuai dengan nama rumah adat ini, Bandayo yang berarti gedung sementara Pambide berarti tempat bermusyawarah. Bandayo Pamboide dan Doluhapa juga berbeda dari segi arsitektur interiornya. Jika rumah adat Doluhapa tidak memiliki sekat dan hanya terdiri atas satu ruangan saja, maka rumah Bandayo Pamboide justru terbagi 
 
 
 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Gorontalo
  • rumah adat gorontalo biasa disebut dengan
  • sketsa rumah adat gorontalo
  • struktur rumah adat gorontalo
  • rumah adat gorontalo bantayo poboide
  • pakaian adat gorontalo
  • rumah adat provinsi gorontalo biasa disebut dengan
  • rumah adat gorontalo dan keunikannya
  • rumah gorontalo dan keunikannya

Senin, 17 Juni 2019

Walewangko - Rumah Adat Sulawesi Utara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar


Pulau Sulawesi merupakan satu dari lima pulau besar di Indonesia. Bentuknya yang menyerupai huruf K ini dibagi lagi ke dalam beberapa wilayah. Salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Utara dengan ibukota Manado. Sudah pernah berkunjung ke tempat ini? Provinsi yang terdiri atas 11 kabupaten dan 4 kota ini tersohor karena beberapa hal. Salah satunya tentulah nilai budaya. Pernah mendengar nama Walewangko? Istilah ini merujuk pada rumah tradisional suku Minahasa yang mendiami Sulawesi Utara. Kini, ia juga dikenal luas sebagai rumah adat Sulawesi Utara
 

Rumah Adat Sulawesi Utara

Adapun bila kita berbicara mengenai ikon budaya Provinsi Sulawesi Utara, maka yang paling sering diangkat di kancah nasional adalah budaya suku Minahasa. Termasuk dalam hal ini adalah ketika kita berbicara tentang rumah adat Sulawesi Utara.
Desain bangunan yang telah ditetapkan secara resmi menjadi desain rumah adat Sulawesi Utara adalah desain rumah Walewangko. Desain ini adalah desain rumah adat bagi penduduk Minahasa. Walewangko atau juga bisa disebut rumah Pewaris memiliki beberapa keunikan dan ciri khas tersendiri baik dari segei arsitektur, maupun struktur bangunannya. Nah, di kesempatan ini kami akan mengulas keunikan-keunikan tersebut sebagai referensi bagi Anda. Bila Anda tertarik, silakan simak pembahasan berikut ini.


Baca Juga:

Banua Tada - Rumah Adat Sulawesi Tenggara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Arsitektur dan Struktur Rumah

Sama seperti kebanyakan rumah tradisional di Sulawesi, rumah adat Walewangko juga berstruktur panggung dan terbuat dari material yang berasal dari alam. Kayu-kayuan digunakan untuk bagian tiang, lantai, dinding, dan perlengkapan rumah lainnya. Sementara atapnya menggunakan bahan daun rumbia, meskipun belakangan bahan dari seng atau genting tanah lebih sering digunakan.
Struktur tiang pada rumah adat Sulawesi Utara ini memungkinkan adanya tangga yang berfungsi sebagai jalan masuk seseorang yang hendak naik ke atas rumah. Terdapat 2 tangga pada rumah adat Minahasa ini, satu terletak di kiri, dan satu lagi terletak di kanan rumah secara simetris.
Secara keseluruhan, desain rumah Walewangko bisa dikatakan sudah seperti desain rumah modern. Sistem sirkulasi udara yang dimiliki dengan adanya jendela dan ventilasi dalam jumlah banyak memungkinkan rumah adat ini begitu nyaman untuk dihuni.

 

Fungsi Rumah Adat

Selain berfungsi sebagai ikon budaya masyarakat suku Minahasa, rumah adat Sulawesi Utara ini pada masa silam juga berfungsi sebagai tempat tinggal tetua adat. Untuk menunjang fungsi praktis tersebut, rumah ini dibagi ke dalam beberapa bagian ruang utama, yaitu yang disebut Lesar, Sekey, dan Pores.
Lesar atau bagian depan adalah ruangan yang digunakan para tetua adat dan kepala suku saat hendak memberikan wejangan atau maklumat pada para warga. Bagian ini bisa juga disebut teras atau beranda karena tidak dilengkapi dinding sehinggga dapat pula digunakan sebagai tempat bersantai atau mengobrol sesama anggota keluarga dan tetangga.
Sekey atau serambi depan. Berbeda dengan Lesar yang tanpa dinding, sekey justru dilengkapi dengan dinding tertutup yang terbuat dari kayu. Letaknya persis berada di depan pintu masuk setelah kita melewati Lesar. Fungsi ruangan ini adalah untuk menerima tamu, mengadakan musyawarah, atau untuk tempat digelarnya upacara adat. Menilik fungsi tersebut sudah semestinya kita akan menemukan beragam hiasan dan pajangan etnik suku Minahasa di ruangan ini.
Pores. Ruangan ini adalah ruangan yang akan kita masuki setelah melewati Sekey. Ruangan ini digunakan untuk menerima kerabat dekat dan tempat bercengkrama bersama keluarga. Pada saat ada hajat atau acara adat, ruangan ini digunakan para ibu-ibu untuk berkumpul sementara para pria duduk di ruang Sekey. Ruang ini juga menjadi penghubung langsung dengan beberapa ruang lainnya seperti dapur di bagian belakang, tempat makan, dan kamar tidur.
Rumah Adat Sulawesi Utara

 

Ciri Khas dan Nilai Filosofi

Terdapat beberapa ciri khas yang dimiliki rumah adat Sulawesi Utara khas suku Minahasa ini yang membedakannya dengan rumah adat lain dari suku-suku yang ada di Nusantara. Beberapa ciri khas tersebut terletak pada desainnya yang simetris dari tampak depan, adanya 2 tangga sebagai pintu masuk yang arahnya saling berlawanan, serta adanya pagar berukir yang mengelilingi ruang serambi depan. Nah, demikianlah yang dapat kami sampaikan tentang rumah adat Walewangko atau rumah adat Pewaris khas Suku Minahasa di Sulawesi Utara.
 
 

Rumah Pewaris

Nama lain dari Walewangko adalah Rumah Pewaris. Rumah adat yang satu ini memiliki tampilan fisik yang apik. Ia secara umum digolongkan sebagai rumah panggung. Tiang penopangnya dibuat dari kayu yang kokoh. Dua di antara tiang penyanggah rumah ini, konon kabarnya, tak boleh disambung dengan apapun. Bagian kolong rumah pewaris ini lazim dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan hasil panen atau godong.

Seperti rumah adat lainnya, rumah adat Sulawesi Utara ini dibagi juga ke dalam beberapa bagian utama antara lain:
  1. Bagian depan yang dikenal juga dengan istilah lesar. Bagian ini tidak dilengkapi dengan didnding sehingga mirip dengan beranda. Lesar ini biasanya digunakan sebagai tempat para tetau adat juga kepala suku yang hendak memberikan maklumat kepada rakyat.
  2. Bagian selanjutnya adalah Sekey atau serambi bagian depan. Berbeda dengan Lesar, si Sekey ini dilengkapi dengan dinding dan letaknya persis setelah pintu masuk. Ruangan ini sendiri difungsikan sebagai tempat untuk menerima tetamu serta ruang untuk menyelenggarakan upacara adat dan jejamuan untuk undangan.
  3. Bagian selanjutnya disebut dengan nama Pores. Ia merupakan tempat untuk menerima tamu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah. Terkadang ruangan ini juga digunakan sebagai tempat untuk menjamu tamu wanita dan juga tempat anggota keluarga melakukan aktifitas sehari-harinya. Pores ini umumnya bersambung langsung dengan dapur, tempat tidur dan juga makan.
Jika kita cermati, keunikan rumah pewaris ini terletak dari arsitektur depan rumah. Perhatikan saja susunan tangga yang berjumlah dua dan terletak di bagian kiri dan kanan rumah. Konon kabarnya, dua buah tangga ini berkaitan erat dengan kepercayaan suku Minahasa dalam mengusir roh jahat. Apabila roh tersebut naik melalui tangga yang satu maka serta merta ia akan turun lagi melalui tangga lainnya. 
 
 
 


Rumah adat Bolaang Mangondow


Selain rumah pewaris atau Walewangko, dikenal juga rumah adat Sulawesi Utara lainnya yakni Bolaang Mangondow. Rumah yang satu ini memiliki atap yang melintang dengan bubungan yang sedikit curam. Bagian tangganya ada di depan rumah dengan serambi tanpa dinding. Adapun ruang dalam terdiri atas ruang induk dan ruang tidur. Ruang induk ini terdiri atas ruang depa, tempat makan juga tempat tidur serta dapur yang ada di bagian belakang rumah. 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Utara

  • rumah adat sulawesi utara bolaang mongondow
  • rumah adat sulawesi utara tts
  • gambar rumah adat sulawesi utara dan keterangannya
  • berikut ini rumah adat dari sulawesi utara adalah
  • tarian adat sulawesi utara
  • senjata tradisional sulawesi utara
  • keunikan rumah adat walewangko
  • arsitektur tradisional sulawesi utara

Selasa, 04 Juni 2019

Banua Tada - Rumah Adat Sulawesi Tenggara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Banua Tada adalah rumah adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Banua Tada merupakan rumah tempat tinggal Suku Wolio atau orang Buton di pulau Buton,Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah sedangkan kata tada berarti siku, sehingga banua tada dapat diartikan sebagai "rumah siku". Hal ini karena struktur rangka bangunan terdiri dari siku-siku. Keunikan dari rumah ini terletak pada desain, struktur dan fungsinya yang mengandung nilai filosofis di dalamnya.Keunikan lain dari rumah banua tada adalah memiliki bentuk rumah panggung, tetapi pada pembangunannya tidak menggunakan satupun paku.


Jenis
 
Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah banua tada dibedakan menjadi tiga yaitu kamali, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Kamali atau disebut juga dengan nama "malige" memiliki arti mahligai atau istana, merupakan tempat tinggal untuk raja atau sultan dan keluarganya. Ukurannya lebih besar dibandingkan dengan jenis banua tada lainnya, mempunyai empat tingkatan lantai dan juga atap yang bersusun dua. Banua tada tare pata pale memiliki arti "rumah siku bertiang empat" adalah rumah tempat tinggal para pejabat atau pegawai istana. Biasanya jenis rumah adat ini bertiang empat, atapnya bersusun, dan juga mempunyai dua jendela di bagian kiri dan kanan rumah. Sementara itu, banua tada tare talu pale atau disebut juga "rumah bertiang tiga" adalah rumah tempat tinggal orang biasa. Jenis rumah adat ini mempunyai jumlah tiang tiga dan pada bagian atapnya simetris. Bahan utama dalam pembuatannya adalah papan kayu, bambu, dan rotan dengan setiap ruangan mempunyai satu buah jendela di bagian kiri atau kanan rumah

Baca Juga:

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar





Struktur dan Arsitektur Rumah

Setiap jenis rumah banua tada menggunakan material yang hampir sama, baik pada bagian lantai, dinding, tiang dan atapnya. Tiang-tiang dibangun menurut tiga jenis, yaitu tiang utama yang berada di bagian tengah, tiang penyangga dan tiang pembantu. Semua tiang tersebut menggunakan bahan kayu yang ditumpangkan di bagian atas pondasi batu. Bagian lantai rumah banua tada terbuat dari papan kayu jati yang disusun dengan menggunakan teknik kunci, papan-papan tersebut dibuat saling menyatu meskipun tanpa dipaku, begitu juga dengan dinding rumah. Sementara pada bagian atapnya menggunakan daun rumbia dan juga hipa-hipa yang disusun saling bertumpukan.

Rumah banua tada terdiri dari empat tingkat lantai yang tersusun dari beberapa ruangan. Lantai pertama terdiri atas 7 ruangan. Setiap ruangan mempunyai fungsi yang berbeda. Dua ruangan sebagai tempat sidang bagi anggota Hadat Kerajaan Buton serta sebagai tempat untuk menjamu tamu. Tiga ruang lainnya digunakan untuk tempat tidur tamu, kamar anak yang sudah menikah, serta ruang makan bagi Sultan. Sedangkan dua ruangan lainnya adalah kamar untuk anak laki-laki dewasa. Lantai dua dibagi atas 14 ruangan. Seluruh kamar tersebut digunakan sebagai tempat kegiatan mulai dari gudang, aula, kantor dan sebagainya. Lantai tiga hanya terdapat satu ruangan yang besar, merupakan tempat untuk bersantai dan juga digunakan sebagai aula. Sedangkan bagian paling atas lantai empat digunakan sebagai tempat penjemuran.
 
Sebelum membahas tentang struktur bangunan rumah adat Sulawesi Tenggara ini, terlebih dahulu mari kita kenali jenis-jenis Banua Tada berdasarkan strata sosial pemiliknya. Ada 3 jenis Banua Tada, yaitu
  1. Kamali disebut juga Malige, adalah rumah Banua Tada yang digunakan secara khusus oleh sultan dan keluarganya. Ukurannya lebih besar dibandingkan jenis Banua Tada lainnya. Rumah ini memiliki 4 tingkatan lantai dan atap bersusun dua.
  2. Banua Tada Tare Pata Pale, adalah rumah Banua Tada yang digunakan oleh para pejabat dan pegawai istana. Biasanya rumah ini bertiang 4, atapnya bersusun, dan memiliki 2 jendela di kiri dan kanan rumah.
  3. Banua Tada Tare Talu Pale, adalah rumah Banua Tada yang digunakan oleh orang biasa. Rumah ini memiliki jumlah tiang tiga dan atapnya simetris. Bahan utama pembuatannya berupa bambu, papan kayu, dan rotan dengan setiap ruangan memiliki satu buah jendela di kiri atau kanan rumah.

Masing-masing jenis rumah Banua Tada di atas sejatinya tersusun atas material yang hampir sama, baik pada bagian tiang, lantai, dinding, hingga atapnya.
Tiang dibuat menurut 3 jenis, yaitu tiang utama berada di tengah (Kabelai), tiang penyangga, dan tiang pembantu. Semua tiang dibuat dari kayu bulat yang ditumpangkan di atas pandasi batu. Adapun lantai umumnya dibuat dari papan kayu jati yang kuat disusun sedemikian rupa menggunakan teknik kunci. Papan-papan tersebut saling menyatu meski tanpa dipaku. Begitu pula dengan dinding rumah. Sementara atap dibuat dari daun rumbia dan hipa-hipa yang disusun saling bertumpukan. 

Fungsi Rumah Adat

Sesuai dengan fungsinya sebagai tempat tinggal, rumah adat Sulawesi Tenggara ini khususnya Rumah Kamali dibagi atas beberapa ruangan sesuai dengan penggunaannya. Rumah Banua Tada yang digunakan untuk tempat tinggal Sultan (rumah Kamali) yang terdiri dari 4 tingkat lantai tersusun dari ruangan-ruangan sebagaimana berikut:
  1. Lantai pertama. Tingkat ini terdiri dari 7 ruangan, yaitu ruangan 1 dan 2 berfungsi sebagai ruang sidang anggota Hadat Kerajaan Buton sekaligus tempat menerima tamu. Ruangan 3 dibagi dua, yang kiri adalah untuk kamar tidur tamu dan yang kanan digunakan untuk ruang makan tamu. Ruangan 4 berfungsi sebagai kamar anak-anak Sultan yang telah menikah. Ruangan 5 sebagai kamar makan Sultan, sementara ruangan 6 dan 7 digunakan sebagai kamar anak laki-laki Sultan yang sudah dewasa.
  2. Lantai kedua. Tingkat ini dibagi menjadi 14 buah kamar. Di sisi kanan 7 kamar dan disisi kiri 7 kamar. Kamar-kamar tersebut berfungsi untuk kegiatan administrasi kerajaan, mulai dari gudang, kantor, tamu keluarga, aula, dan lain sebagainya.
  3. Lantai ketiga. Tingkat ini hanya ada 1 ruangan besar yang berfungsi sebagai tempat rekreasi sekaligus aula.
  4. Lantai keempat berfungsi sebagai tempat penjemuran.

Baca Juga:

Rumah Baloy - Rumah Adat Kalimantan Utara Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar




 

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Ciri Khas dan Nilai Filosofis

 
 Dari pemaparan tentang gaya arsitektur, struktur, dan pembagian ruang yang telah dijelaskan di atas, dapat kita simpulkan beberapa keunikan dan ciri khas rumah adat Sulawesi Tenggara ini dibandingkan rumah adat suku lain di Indonesia. Keunikan tersebut misalnya terletak pada jumlah tingkatan rumah yang bisa mencapai 4 tingkat, kekokohan bangunan meski dibuat tanpa paku dan logam sebagai penguat, serta pembagian ruangannya yang sangat memperhatikan kearifan lokal dan nilai-nilai filosofi yang dianut masyarakat suku Buton. Nah, demikian ulasan singkat kami mengenai rumah adat suku Buton (Wolio) yang bernama Rumah Banua Tada. Desain bangunan yang juga menjadi ikon rumah adat Sulawesi Tenggara ini sudah selayaknya mendapat apresiasi karena keunikan-keunikan yang dimilikinya. 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Banua Tada
  • keunikan rumah adat banua tada
  • rumah adat banua tada berasal dari kabupaten
  • rumah adat sulawesi tenggara banua tada
  • keunikan rumah adat buton sulawesi tenggara
  • manfaat dan kegunaan rumah adat sulawesi tenggara
  • pakaian adat tulang bawal berasal dari provinsi
  • keunikan rumah buton
  • pakaian adat sulawesi tenggara

Senin, 03 Juni 2019

Rumah Tambi - Rumah Adat Sulawesi Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah Tambi adalah rumah adat atau rumah tradisional dari provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Rumah adat ini berbentuk panggung yang atapnya sekaligus berguna sebagai dinding. Rumah Tambi merupakan rumah bagi suku Kaili dan suku Lore yang umumnya merupakan rumah penduduk setempat serta beberapa wilayah di Sulawesi Tengah menjadikan rumah ini sebagai rumah bagi kepala adat. Yang membedakannya adalah jumlah anak tangga untuk menaiki rumah, di mana rumah Tambi yang digunakan sebagai rumah kepala adat jumlah anak tangganya ganjil, sedangkan untuk penduduk biasa anak tangganya berjumlah genap. Alas rumahnya terdiri dari balok-balok yang disusun, sedangkan pondasinya terdiri dari batu alam. Tangga untuk naik tersebut terbuat dari daun rumbia atau daun bambu yang dibelah dua.


Arsitektur

Struktur rumah Tambi adalah berupa rumah panggung dengan tiang penyangga yang pendek dan tingginya tidak lebih dari satu meter. Tiang penyangga ini jumlahnya 9 buah serta saling ditempelkan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan pasak balok kayu. Tiang-tiang ini biasanya terbuat dari bahan dasar kayu bonati, yaitu sejenis kayu hutan yang bertekstur kuat dan tidak mudah lapuk. Tiang-tiang tersebut menyangga rangka lantai yang terbuat dari papan sebagai dasar. Papan disusun rapat dan luas lantai rumah Tambi adalah sekitar 5 meter dikali 7 meter.

Untuk ruangannya, rumah Tambi hanya memiliki satu ruangan saja yaitu ruang utama. Meskipun hanya satu ruangan besar tapi memiliki fungsi yang bermacam-macam. Kegiatan sehari-hari mulai dari memasak, tidur, menerima tamu, semuanya dilakukan hanya dalam satu ruangan tersebut. Untuk melengkapinya, diberi dua bangunan tambahan di luar rumah sebagai penunjang kegiatan lainnya yang tidak bisa langsung dilakukan di rumah utama, yaitu Pointua dan Buho atau Gampiri. Pointua adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat penumbuk padi, yang di dalamnya terdapat sebuah lesung panjang bernama Iso dengan jumlah 4 tiang. Sementara Buho adalah bangunan yang mirip dengan rumah Tambi utama namun memiliki dua lantai. Lantai bawah berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, sementara lantai atas berfungsi sebagai lumbung padi, sebelum dibawa ke Pointua untuk ditumbuk dan diproses lebih lanjut.

Bagian atap rumah tambi berbentuk prisma dengan sudut kecil pada bagian paling atas sehingga terlihat tinggi dan dapat menaungi rumah secara keseluruhan. Atapnya terbuat dari ijuk atau daun rumbia yang memanjang ke bawah sekaligus berfungsi sebagai dinding luar rumah.

Jika ingin membangun rumah Tambi, syarat utama yang harus dipenuhi adalah rumah menghadap kearah utara-selatan, sehingga tidak boleh menghadap maupun membelakangi posisi matahari terbit dan terbenam jika anda sekilas melihat bentuk atau konstruksi rumahnya maka bentuknya seperti jamur dengan prisma yang terbuat dari daun rumbia serta ijuk seperti yang telah dijelaskan sebelumnya


Baca Juga:

Tongkonan Toraja - Rumah Adat Sulawesi Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar


Fungsi

Rumah tambi utamanya berfungsi sebagai rumah bagi masayarakat pada umumnya, terutama masyarakat suku Kaili dan suku Lore. Berbagai kegiatan sehari-hari masyarakat juga dilakukan dalam rumah ini mulai dari memasak, makan, istirahat, menerima tamu, hingga kegiatan lainnya. Rumah tambi juga berfungsi sebagai tempat tinggal bagi ketua adat dan menyelenggarakan pertemuan. Dan tidak ketinggalan, rumah Tambi adalah simbol dari provinsi Sulawesi Tengah sehingga beberapa kantor pemerintahan juga mengadopsi gaya bangunan dari rumah Tambi, hanya saja ruangannya lebih dari satu.

Kendati berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah adat Sulawesi Tengah ini tidak seperti rumah adat Indonesia lainnya yang terbagi atas ruang-ruang khusus. Bagian dalam rumah Tambi tidak terpisahkan melainkan hanya terdiri dari 1 ruangan besar yang multi fungsi. Kegiatan sehari-hari, mulai dari memasak, menerima tamu, tidur, beristirahat, bercengkrama bersama keluarga, semuanya dilakukan di ruangan tersebut.
Menyadari bahwa rumah Tambi hanya terdiri dari 1 ruangan saja, maka masyarakat Kaili dimasa silam kemudian melengkapi rumah adatnya dengan 2 bangunan tambahan, yaitu Buho atau Gampiri dan Pointua. Buho adalah rumah khusus yang bentuknya seperti rumah Tambi terletak tidak jauh dari rumah utama. Rumah Buho adalah bangunan yang khusus terdiri dari 2 lantai, lantai pertama digunakan sebagai tempat menerima tamu dan lantai kedua digunakan sebagai lumbung padi. Sementara Pointua adalah rumah yang khusus digunakan untuk tempat menumbuk padi. Di dalamnya terdapat sebuah lesung panjang yang bertian empat yang bernama Iso. Jika lesung berbentuk bulat maka disebut Iso Busa.




Simbol

Bentuk bangunan serta ukiran yang terdapat di dalam rumah Tambi memiliki lambang atau simbol tertentu. Apabila dilihat secara langsung, rumah Tambi dominan berbentuk segitiga, di mana segitiga ini melambangkan dua relasi horizontal dan vertikal . Garis horizontal yang menjadi alas atau dasar dari segitiga melambangkan hubungan antar sesama manusia, sementara dua garis vertikal yang merupakan kaki segitiga melambangkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Biasanya di bagian atap depan atau di dalam ruang utama akan terdapat sepasang tanduk kerbau/ kepala kerbau yang disebut pebaula. Pebaula ini melambangkan kekayaan dan kekuasaan dari sang pemilik rumah. Selain itu, terdapat ukiran lain yang disebut bati yang datang dengan corak yang beragam seperti kerbau, ayam, dan babi, di mana bati melambangkan kesejahteraan dan kesuburan. 

Baca Juga:

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar



Ciri Khas dan Nilai Filosofi

Dari pemaparan mengenai arsitektur dan struktur bangunan serta fungsi rumah adat ini di masa silam, kita dapat menyimpulkan beberapa ciri khas yang dimiliki rumah Tambi yang membedakannya dari rumah adat lain di Indonesia. Ciri khas rumah adat Sulawesi Tengah ini antara lain:
  1. Berupa rumah panggung dengan tiang pendek berukuran < 1 meter yang menyangga tegaknya rumah.
  2. Memiliki atap berbentuk prisma dengan sudut sempit di bagian atasnya. Atap ini selain berfungsi sebagai peneduh juga berfungsi sebagai dinding rumah.
  3. Pada bagian tangga, pintu dan dinding terdapat ornamen-ornamen berupa pahatan motif khas suku Kaili seperti ukiran pebaula (kepala kerbau) sebagai simbol kekayaan dan ukiran bati (ukiran berbentuk kepala kerbau, ayam dan babi) sebagai simbol kesejahteraan dan kesuburan.
 
 
Apa Saja Keunikan Rumah Adat Tradisional Tambi dari Sulawesi Tengah?

 
Ada banyak keunikannya, hanya saja dalam kesempatan yang singkat ini, kami tidak kuasa menyampaikan banyak poin, melainkan hanya 4 (empat) saja. Simak informasinya berikut ini.

1. Rumah Untuk Masyarakat Umum  
Ulasan terkait dengan hal unik dari Rumah Tambi Sulawesi Tengah
Dalam kehidupan sosial, ada beberapa lapisan masyarakat yang pada zaman dahulu dibagi menjadi dua saja, yaitu “masyarakat umum dan bangsawan”.
Nah, rumah adat Tambi ialah rumah adat yang dipakai sebagai tempat tinggal oleh masyarakat umum Sulawesi Tengah. Hal ini sebuah penegasan bahwa keberadaan rumah adat Tambi dibuat bukan untuk golongan bangsawan. 

2.  Ukurannya Kecil
Uraian tentang rumah Tambi yang keren dan memiliki ciri khas menarik
Karena digunakan oleh masyarakat umum, maka ukuran dari rumah ini tidaklah besar baik rumah maupun ruangan yang berada di dalam.
Rumah ini berukuran kecil dikarenakan hanya digunakan untuk tempat tinggal masyarakat umum. Adapun ukuran rumah ini segi persegi panjang dengan ukurannya rata-rata 7×5 m2.3. Struktur Rumah Tidak Terlalu Tinggi 
Berstruktur rumah panggung dan tidak terlalu tinggi, serta pondasi rumah ini berupa batu berbentuk persegi yang besar. Batu yang digunakan sebagai pondasi ialah apa yang disebut dengan batu alam.

3. Beratapkan Ijuk
Review mengenai hal unik dari rumah tradisional Tambi untuk para pembaca
Dampak dari atap ijuk ialah menghasilkan udara yang dingin didalam rumah. Beda dengan rumah jika memakai alat penutup seng.   
Kabar buruknya, apakah saat ini masih memakai ijuk? Bisa saja terjadi perubahan. 

4. Jumlah Anak Tangga Ganjil – Genap 
Beda yang punya, maka beda pulalah anak tangga pada rumah adat Tambi. Pada anak tangga bagi penghuni rakyat biasa berjumlah ganjil, sedangkan untuk tetua adat umumnya berjumlah genap.
Ok, demikian dahulu uraian atau topik tulisan keunikan rumah adat tradisional Tambi.
 
 
Nah, demikianlah sekilas penyampaian kami tentang arsitektur rumah adat Sulawesi Tengah dan penjelasannya. Semoga dapat bermanfaat dan menambah kecintaan kita pada peninggalan budaya nenek moyang kita.


 Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Tengah (Rumah Tambi)
  • keunikan rumah adat honai
  • keunikan rumah adat baileo
  • keunikan rumah adat tongkonan
  • pakaian adat sulawesi tengah
  • rumah adat honai berasal dari provinsi dan keunikannya
  • pakaian adat tambi
  • keunikan rumah adat lamin
  • rumah adat poso

Tongkonan Toraja - Rumah Adat Sulawesi Selatan Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur.berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (strata sosial Masyarakat Toraja). Di depan Tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga). Saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa' (empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar. 


Tongkonan karua terdiri dari:
  1. Tongkonan Pangrapa'(Kabarasan)
  2. Tongkonan Sangtanete Jioan
  3. Tongkonan Nosu (To intoi masakka'na)
  4. Tongkonan Sissarean
  5. Tongkonan Karampa' Panglawa padang
  6. Tongkonan Tomentaun
  7. Tongkonan To'lo'le Jaoan
  8. Tongkonan To Barana' Versi lain Tongkonan Lombok Indo' Piso
Tongkonan A'pa' terdiri dari:
  1. Tongkonan Peanna Sangka'
  2. Tongkonan To'induk
  3. Tongkonan Karorrong
  4. Tongkonan Tondok Bangla' (Pemanukan)
Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua pa'rapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa' (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa' untuk dibagi-bagi turunannya. 


Stara sosial di masayarakat Sillanan di bagi atas 3 tingkatan yaitu:
  1. Ma'dika (darah biru/keturunan bangsawan);
  2. To Makaka (orang merdeka/bebas);
  3. Kaunan (budak), budak masih dibagi lagi dalam 3 tingkatan.
Sejarah Kabarasan:
Pada awalnya Kabarasan dipegang oleh Tintribuntu yang berkedudukan di Buntu Lalanan (rumah adat Buntu sebelah barat). Kemudian Anaknya Tintribuntu yaitu Tome kawin dengan anak dari Tongkonan Sangtanete Jioan (Tongkonan Sangtanete sebelah timur). Sampai dipertahankan oleh Pong Paara' di Sangtanete Jioan. Setelah Pong Paara' meninggal (tidak ada anaknya), akhirnya muncul pemberani dari Doa' (Rumah adat Doa') yaitu So'Padidi (alias Pong Arruan). Kabarasan dipindahkan ke Doa'. Kekuasaan lemah di Doa' setelah So' Padidi meninggal, karena semua anaknya adalah perempuan 3 orang, sehingga muncul tipu muslihat yang mengatakan bahwa bisa dipotongkan kerbau 3 ekor saja. Karena minimal kerbau dikorbankan adalah 4, maka Doa' dianggap tidak mampu memegang kekuasaan. Akhirnya dibawa Boroalla ke Tonngkonan Pangrapa', sampai saat ini. 


Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar






Struktur dan Arsitektur Rumah Adat

Secara umum, rumah tongkonan memiliki struktur panggung dengan tiang-tiang penyangga bulat yang berjajar menyokong tegaknya bangunan. Tiang-tiang yang menopang lantai, dinding, dan rangka atap tersebut tidak di tanam di dalam tanah, melainkan langsung ditumpangkan pada batu berukuran besar yang dipahat hingga berbentuk persegi.
Dinding dan lantai rumah adat tongkonan dibuat dari papan-papan yang disusun sedemikian rupa. Papan-papan tersebut direkatkan tanpa paku, melainkan hanya diikat atau ditumpangkan menggunakan sistem kunci. Kendati tanpa dipaku, papan pada dinding dan lantai tetap kokoh kuat hingga puluhan tahun.
Bagian atap menjadi bagian yang paling unik dari rumah adat Sulawesi Selatan ini. Atap rumah tongkonan berbentuk seperti perahu terbaling lengkap dengan buritannya. Ada juga yang menganggap bentuk atap ini seperti tanduk kerbau. Atap rumah tongkonan sendiri dibuat dari bahan ijuk atau daun rumbia, meski pun kini penggunaan seng sebagai bahan atap lebih sering ditemukan.


Fungsi Rumah Adat

Selain dianggap sebagai identitas budaya, rumah tongkonan pada masa silam juga menjadi rumah tinggal bagi masyarakat suku Toraja. Rumah Tongkonan dianggap sebagai perlambang ibu, sementara lumbung padi yang ada di depan rumah atau biasa disebut Alang Sura adalah perlambang ayah. Adapun untuk menunjang fungsinya sebagai rumah tinggal, rumah adat Sulawesi Selatan ini dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian atas (rattiangbanua), bagian tengah (kale banua) dan bawah (sulluk banua).
Bagian Atas atau disebut juga rattiang banua adalah ruangan yang terdapat di loteng rumah. Ruangan ini digunakan untuk menyimpan benda pusaka yang dianggap memiliki nilai sakral. Benda-benda berharga yang dianggap penting juga di simpan dalam ruangan ini.
Bagian Tengah atau disebut juga kale banua adalah bagian inti dari rumah adat Sulawesi Selatan. Bagian ini terbagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan fungsi-fungsi khususnya, yaitu bagian utara, bagian tengah, dan bagian selatan.
  • Bagian utara disebut dengan istilah ruang Tengalok. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan meletakan sesaji (persembahan). Selain itu, jika pemilik rumah sudah mempunyai anak, maka ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur anak.
  • Bagian pusat disebut Sali. Ruangan ini digunakan untuk beragam keperluan, seperti sebagai tempat pertemuan keluarga, dapur, ruang makan, sekaligus tempat meletakan mayat yang dipelihara.
  • Bagian selatan bernama Ruang Sambung. Ruangan ini khusus digunakan sebagai kamar kepala keluarga. Tidak sembarang orang dapat masuk ke ruangan ini tanpa seizin pemilik rumah.

Bagian Bawah atau disebut juga sulluk banua adalah bagian kolong rumah. Bagian ini digunakan sebagai kandang hewan atau tempat menyimpan alat-alat pertanian.
Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan Toraja

Ciri Khas dan Nilai Filosofis

Selain dari bentuk atapnya yang seperti tanduk kerbau, ada beberapa ciri khas lain dari rumah tongkonan yang membuatnya begitu berbeda dengan rumah adat dari suku-suku lain di Indonesia. Ciri-ciri tersebut di antaranya:
  1. Memiliki ukiran di bagian dinding dengan 4 warna dasar, yaitu merah, putih, kuning dan hitam. Masing-masing warna memiliki nilai filosofis, merah melambangkan kehidupan, putih melambangkan kesucian, kuning melambangkan anugerah, dan hitam melambangkan kematian.
  2. Di bagian depan rumah terdapat susunan tanduk kerbau yang digunakan sebagai hiasan sekaligus ciri tingkat strata sosial si pemilik rumah. Semakin banyak tanduk kerbau yang dipasang, maka semakin tinggi kedudukan pemilik rumah. Tanduk kerbau sendiri dalam budaya toraja adalah lambang kekayaan dan kemewahan.
  3. Di bagian yang terpisah dari rumah tongkonan terdapat sebuah bagunan yang berfungsi sebagai lumbung padi atau disebut alang sura. Lumbung padi juga berupa bangunan panggung. Tiang-tiang penyangganya dibuat dari batang pohon palem yang licin sehingga tikus tidak bisa masuk ke dalam bangunan. Lumbung padi dilengkapi pula dengan ukiran bergambar ayam dan matahari yang melambangkan kemakmuran dan keadilan.

Baca Juga:

Rumah Joglo - Rumah Adat Jawa Tengah Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 

Nah, demikianlah yang dapat kami sampaikan tentang rumah adat Tongkonan yang menjadi prototipe rumah kebanggaan masyarakat suku Toraja. Arsitekturnya yang unik disertai beragam nilai filosofis yang terdapat hampir di setiap sudut bangunannya membuat rumah ini begitu cantik.
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Selatan (Tongkonan Toraja)
  • keunikan rumah adat tongkonan
  • apa bahan pembuatan rumah adat tongkonan
  • nama rumah adat toraja
  • pakaian adat toraja
  • rumah adat toraja berasal dari
  • fungsi tongkonan
  • bagian-bagian rumah adat tongkonan
  • jenis rumah adat dari daerah toraja

Rumah Boyang - Rumah Adat Sulawesi Barat Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

Rumah Boyang merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat. Rumah Boyang memiliki gaya arsitektur yang unik, berbentuk rumah panggung yang tersusun dari material kayu dan ditopang tiang-tiang penyangga. Rumah ini menjadi tempat tinggal Suku Mandar yang merupakan suku asli dari Sulawesi Barat.


Jenis

Rumah boyang terdiri dari dua jenis, yaitu "boyang adaq" dan "boyang beasa". Boyang adaq merupakan tempat tinggal bagi bangsawan, sedangkan boyang beasa merupakan tempat tinggal rakyat biasa. Pada boyang adaq diberi ornamen yang melambangkan identitas tertentu yang mendukung tingkat status sosial penghuninya. Diantaranya memiliki tumbaq layar (penutup bubungan) yang memiliki tiga sampai tujuh susun, semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanannya. Selain itu boyang adaq memiliki dua susun tangga, susunan pertama terdiri atas tiga anak tangga, sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan tangga tersebut diantarai oleh pararang. Ciri-ciri yang dimiliki boyang beasa tidak semegah boyang adaq, karena hanya memiliki satu susun penutup bubungan dan satu susun anak tangga.
 
 


Struktur dan Arsitektur Rumah

Rumah boyang memiliki struktur rumah panggung yang menggunakan material kayu dan ditopang oleh beberapa tiang yang terbuat dari kayu berukuran besar dengan tinggi dua meter. Tiang-tiang tersebut berfungsi untuk menopang lantai dan atap rumah, tiang ini tidak ditancapkan ke tanah melainkan hanya ditumpangkan di sebuah batu datar untuk mencegah kayu melapuk. Rumah boyang memiliki dua buah tangga yang terletak di bagian depan dan belakang rumah. Tangga-tangga tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, umumnya antara 7 sampai 13 buah dan dilengkapi dengan sebuah pegangan di bagian sisi kanan dan kiri tangga. Sedangkan dinding dan lantai rumah menggunakan material papan. Dinding rumah biasanya menggunakan papan yang sudah diukir sesuai dengan motif khas suku mandar. Pada dinding dilengkapi dengan jendela yang berfungsi sebagai media untuk sirkulasi udara

Rumah boyang memiliki atap berbentuk prisma dan memanjang dari bagian depan sampai bagian belakang rumah. Pada umumnya, atap terbuat dari seng. Sebagian ada yang menggunakan rumbia dan sirap. Pada zaman dahulu, rumah-rumah penduduk baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. Pada bagian depan atap terdapat tumbaq layar (penutup bubungan) yang memberi identitas tentang status sosial bagi penghuninya. Pada penutup bubungan tersebut sering dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri sering diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Pada bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Ornamen itu disebut "teppang".

Untuk menunjang kegunaan dan fungsinya, rumah boyang dibagi menjadi beberapa bagian ruangan yang disebut dengan lotang. Lotang utama berjumlah tiga, yaitu samboyang, tangnga boyang dan bui boyang. Sedangkan lotang tambahan berjumlah empat, yaitu tapang, paceko, lego-lego dan naong boyang.

Fungsi Rumah Adat

Pada masa silam, rumah adat Boyang digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat suku Mandar. Untuk menunjang kegunaan dan fungsi tersebut, rumah adat Sulawesi Barat ini dibagi menjadi beberapa ruangan yang disebut lotang. Lotang utama berjumlah 3, yaitu Samboyang, Tangnga boyang, dan Bui Boyang, sementara lotang tambahan berjumlah 4, yaitu Tapang, Paceko, Lego-lego, dan Naong Boyang.
  1. Samboyang. Ruangan ini berada di bagian rumah paling depan. Ukurannya cukup lebar dan biasa digunakan sebagai ruang tamu. Jika ada acara adat ruangan ini juga menjadi ruang utama untuk berkumpul para pria.
  2. Tangnga boyang. Ruangan ini berada di tengah rumah setelah ruang Samboyang. Ukurannya lebih ruas dan digunakan untuk tempat berkumpul dan melakukan aktivitas di malam hari bersama keluarga.
  3. Bui’ boyang. Ruangan ini berada di bagian rumah paling belakang. Terdapat beberapa kamar (songi) khusus untuk tidur setiap penghuni rumah. Ada kamar untuk anak gadis, anak bujang, kakek, nenek, dan kamar untuk kepala rumah tangga. Masing-masing kamar di ruang Bui Boyang memiliki ukuran yang beragam.
  4. Tapang. Ruangan ini berada di loteng rumah dan biasanya digunakan sebagai tempat penyimpanan barang (gudang). Di masa silam, tapang juga digunakan sebagai kamar calon pengantin. Letaknya yang tersembunyi menyimbolkan bahwa calon pengantin harus benar-benar dijaga kesuciannya
  5. Paceko. Ruangan ini terletak menyilang dengan bangunan induk dan memiliki lebar yang sama. Paceko dalam bahasa Indonesia berarti dapur. Oleh karenanya, ruangan ini juga digunakan untuk tempat memasak dan menyimpan persediaan makanan. Dalam Paceko juga terdapat ruangan bernama pattetemeangang atau kamar mandi.
  6. Lego-lego. Ini adalah bagian depan rumah yang beratap tapi tak berdinding. Fungsinya sebagai teras rumah dan digunakan untuk tempat bersantai saat pagi atau sore hari.
  7. Naong boyang. Ruangan disebut juga kolong rumah. Sesuai namanya, ia berada di bawah lantai rumah dan beralas tanah. Biasanya digunakan sebagai kandang ternak sekaligus tempat beraktivitas para wanita untuk mengisi waktu luang, misalnya untuk tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita.
Rumah Adat Sulawesi Barat

Ciri Khas

Ada beberapa keunikan yang terdapat dalam gaya arsitektur rumah adat Sulawesi Barat yang bernama rumah Boyang ini. keunikan-keunikan tersebut dapat menjadi ciri khas tersendiri yang membedakan rumah adat suku Mandar ini dengan rumah adat suku lain di Indonesia. Ciri khas dan keunikan tersebut antara lain:
  1. Berupa rumah panggung dengan tiang balok yang berukuran besar. Rumah ini dilengkapi dengan 2 buah tangga yang terdapat di bagian depan dan belakang rumah.
  2. Memiliki atap berbentuk pelana yang memanjang dari depan ke belakang menutupi rumah.
  3. Dibangun menghadap ke timur (arah matahari terbit) sebagai simbol keselarasan kehidupan.
  4. Rumah ini dihiasi dengan ragam ornamen, baik di bagian atap, dinding, plafon, tangga, hingga bagian-bagian lainnya. Ornamen tersebut selain berfungsi sebagai hiasan juga memiliki nilai filosofis yang menjadi identitas sosial kemasyarakatan bagi suku Mandar. 
 
 Baca Juga:

Rumah Bangsal Kencono - Rumah Adat Yogyakarta Beserta Penjelasan Lengkap + Gambar

 
 
Pembangunan

Bagi orang Mandar, setiap akan membangun rumah senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah mengenai berbagai hal yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan mengetahui tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pelaksanaan musyawarah sering dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). Fokus musyawarah lebih diutamakan pada status sosial yang akan menempati rumah tersebut sebab dari status sosial orang bersangkutan akan dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan, maka jenis rumah yang akan dibangun adalah boyang adaq, bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa, maka rumah yang akan dibangun adalah boyang beasa.

Pemilihan waktu juga sangat penting, karena terkait dengan sistem kepercayaan masyarakat yang disebut putika, ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan keberuntungan dan keselamatan. Pemilihan waktu yang baik dimaksudkan agar cita-cita yang diharapkan oleh penghuni rumah, seperti rezeki yang banyak, kehidupan yang harmonis, dan keselamatan dapat terwujud secara nyata. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan bala, bencana dan ketidakmujuran atau sial. Hari-hari baik adalah senin, kamis, dan jumat. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik, seperti Muharram, Safar, Jumadil Awal, dan Dzulkaidah. Orientasi rumah boyang yang paling baik adalah pada arah yang mengandung makna positif, yaitu arah timur tempat matahari terbit. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar, maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat.
 
 
Nah, itulah sekilas pemaparan yang dapat kami sampaikan terkait keunikan rumah Boyang khas suku Mandar. Semoga pemaparan ini dapat membantu Anda untuk mengenali keunikan-keunikan gaya arsitektur rumah adat Sulawesi Barat ini. 
 
 
Penelusuran yang terkait dengan Rumah Adat Sulawesi Barat (Rumah Boyang)
  • rumah adat sulawesi barat mandar
  • pakaian adat sulawesi barat
  • tarian adat sulawesi barat
  • rumah adat sulawesi barat beserta gambarnya
  • macam macam rumah adat di sulawesi barat
  • rumah adat sulawesi selatan
  • rumah adat sulawesi tengah
  • senjata tradisional sulawesi barat